
~Khawatir~
"Cyra." Seorang wanita mendekati cyra.
Dengan tertatih dia berusaha untuk menggapai ukuran tangan wanita itu.
"Cyra, kita harus ke rumah sakit sekarang." Wanita itu menangkap tubuh cyra yang sudah bersimbah darah.
"Kamu ..." Cyra melihat sosok wanita yang dikenalnya.
"Bagaimana cara kamu bisa menemukanku?" tanya cyra.
"Sudah jangan banyak bicara. kita ke mobilku dulu. maaf aku terlambat menemukanmu."
Kedua wanita itu berjalan menuju tempat dimana mobil terparkir. mereka berjalan sempoyongan menuju jalan setapak.
"Ya Tuhan, kenapa dia bisa seperti ini? cyra jika aku berada di posisimu saat ini mungkin aku akan menyerah." ujarnya dalam hati.
Setibanya di mobil. Cyra langsung dibantu duduk di sebelah kursi mengemudi.
"Jess, terima kasih."
Dengan tubuh yang sudah tak berdaya, Cyra masih menyempatkan untuk berterima kasih kepada sahabat suaminya yang telah menemukan dan menolongnya.
"Simpan sisa tenagamu. Kamu harus tetap sadar. Aku akan membawamu ke klinik terdekat dulu agar mendapatkan pertolongan pertama."
Jessica langsung mengendarai mobil yang dia bawa. Selama perjalanan, Jessica terus memastikan kalau istri sahabatnya dalam keadaan masih sadar. karena kalau sampai kehilangan kesadaran, dia takut Cyra tidak akan terselamatkan.
__ADS_1
Jessica segera menghubungi Pras. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya." Jessica kembali menghubungi Pras.
"Apa kamu menghubungi suamiku?" tanya Cyra.
"Ya, aku harus memberitahukan kondisimu yang tak terduga ini." Jessica bicara dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Cyra. Sudah kamu diam saja. Jangan sia-siakan tenaga mu yang masih ada." pinta Jessica.
Cyra meluruskan kepalanya dan membenarkan posisi tubuhnya dengan sedikit meringis.
"Aku tidak menyangka ada wanita sejahat itu. Apa karena laki-laki dia sampai berbuat kejam begini kepada saudaranya?"
Jessica tidak menyangka dengan Kinan yang melakukan hal kejam ini kepada Cyra yang merupakan saudaranya.
Jessica memarkir mobil tepat di depan pintu masuk klinik.
"Jangan hiraukan mobil ini dulu. Bantu dulu teman saya." Jessica menunjukkan Cyra yang sudah hampir tak bisa bertahan.
"Masyallah. Kenapa itu neng. Ayo saya bantu."
Pria itu bukan hanya membantu dia juga segera berteriak memanggil petugas medis. Untung saja itu adalah klinik besar dan terdekat sehingga Cyra mendapatkan pertolongan dengan cepat.
" Mang Iding. Panggil perawat lainnya. Segera!" Dokter jaga meminta pria yang membopong Cyra memanggil perawat lain.
Jessica hanya bisa menggigit ujung kuku jempolnya sambil terus menelepon Pras.
Pras sangat sulit dihubungi.
__ADS_1
"Dimana Pak Pras?" tanya Jessika kepada resepsionis.
"Sedang ada di pabrik, Bu." ujarnya.
Pantas saja dia tidak mengangkat telepon ternyata pria itu sedang di tempat yang sangat bising.
Jessica kembali menekan huruf di keyboard. Dia kini menghubungi telepon pabrik.
"Hallo, segera panggilkan Pak Pras. Ini keadaan gawat." Jessica bicara sambil menahan napas.
.
.
Pras yang sedang berada di pabrik. Dia sedang memperhatikan para pekerja yang membuat lemari dengan pahatan batik.
"Pak, ada telepon. Katanya keadaan darurat." ujar wanita muda yang mungkin baru lulus SMA.
Pras langsung meraih gagang telepon dan meletakkannya di daun telinga.
"Halo." Pras menyapa.
"Apa? aku akan ke sana segera. Tolong jaga istriku." pintanya.
Pras menutup telepon dan segera menuju kendaraannya. Dia langsung menancap gas dan pergi ke klinik yang di sebutkan oleh Jessica.
Pras tidak bisa berpikir apapun selain mengkhawatirkan kondisi istrinya.
__ADS_1
"Tuhan, aku mohon jaga istriku. Aku tidak siap kehilangan lagi." pintanya