Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)

Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)
SK Part 32


__ADS_3

~Kritikan Pedas 2 ~


Cyra menggebrak meja, lalu dia mencoret beberapa poin yang sudah dibuat oleh Pras, dengan penuh pertimbangan.


"Ini! ini! ini! ini! ini!" Cyra terus mencoret.


"Beberapa poin yang aku coret, berarti aku tidak setuju! beberapa poin yang tidak aku coret, aku setujui! tapi ingat! jangan pernah macam-macam! Don't touch me and don't expect me to love you!" Cyra memberi penegasan kepada Pras.


karena masih kesal dengan Pras yang masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lagi, Cyra setelah selesai berbicara, dia meninggalkan Pras yang masih tertegun dengan kelakuan dan perkataan Cyra.


Cyra menutup pintu ruangan yang tadi dia masuki, Cyra melangkah cepat dan pergi menuju dapur.


"Non! kenapa? kok, mukanya kaya orang kesel begitu!" kata Bibi bertanya.


"Enggak, apa-apa kok Bi, lagi kurang bagus ajah kali moodnya, jadi biar Moodku membaik, aku membuat cemilan untuk Bapak dan Ibu mengeteh nanti sore." Cyra mengeluarkan beberapa bahan masakan, dia akan membuat Rogue susu, keju dan olahan daging sapi.


"Bibi bantu ya Non!" bibi menawarkan diri untuk membantu.


Cyra memberikan beberapa bahan sayuran untuk isian.


"Potong dadu kecil ya Bi! aku mau menumis daging giling ya dulu." Cyra kemudian mengikat rambutnya keatas, agar tidak mengotori makanan dan rambutnya tidak menghalanginya, terlihat leher jenjang milik Cyra, kecantikan semakin terpancar.


"Bi nanti kalau sudah, di cuci, terus kasih ke aku ya, mau aku tumis juga soalnya!" Cyra kembali memberi perintah.


"Ashiap Nyonyaah!" Bibi bicara sambil sedikit bercanda.


Cyra yang tadinya suasana hati tidak enak, menjadi tertawa kembali, karena memasak dan ditemani oleh Bibi, asisten rumah tangga, bagian memasak.


Di rumah Lasmi dan Bayu, memiliki tiga asisten rumah tangga, dan empat satpam untuk berjaga secara bergantian, dua orang shift pagi sampai sore, yang dua orang shift sore sampai pagi.


"Bi! udah denger belum, kalo aku, sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Cyra


"Belum, Non! Bibi kan enggak suka nimbrung, asisten rumah yang lain juga enggak suka mendengarkan pembicaraan Tuan dan Nyonya!" kata Bibi dengan berkata jujur


"Jadi, Non Cyra, sekarang sudah bekerja?" Bibi tersenyum senang.


Bibi, adalah sosok asisten rumah tangga yang selalu mengerti Cyra, dia bahkan sering kali menjadi tempat Cyra bersandar, rasanya seperti mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


"Kamu sudah pulang?" tanya Lasmi sambil mengambil air putih.


"Sudah, Bu," jawabnya singkat.


"Apa dengan bekerja diluar, kamu bisa tetap mengurus Pras? mengurus suami adalah kewajiban seorang istri! jangan sampai hanya karena uang, kamu mengabaikan kewajibanmu!" Lasmi langsung meninggalkan Cyra setelah selesai bicara.

__ADS_1


Cyra menghentikan tangannya yang sedang memotong, dia benar-benar kesal dengan sikap dan cara bicara ibu mertuanya yang selalu menohok kepadanya.


"Tidak bisakah, wanita itu lembut sedikit kepadaku! kenapa terus menerus berkata pedas! apa setiap hari dia selalu memakan cabai sehingga mulutnya seperti itu!" Cyra kesal, sehingga tak sadar sudah bicara kasar tentang ibu mertuanya.


"Cyra, yang sabar, Nyonya memang begitu, tapi sebenarnya dia sangat baik hati dan perduli!" Bibi menepuk bahu Cyra.


"Kenapa mereka selalu bilang, kalau wanita itu penyayang dan sosok yang perduli, sedangkan kenyataan yang aku dapatkan, dia sosok wanita yang tidak berperasaan!" Cyra merutuki sikap ibu mertuanya.


Menjadi menantu di keluarga terpandang, menjadi menantu di keluarga yang berstatus Raden, memang membuat Cyra tak bisa bergerak bebas, ditambah Lasmi dan Bayu seringkali mengkritik dan memarahinya.


"Bi, selama aku, di sini, aku tidak pernah sedikitpun mendengar mereka mengkritik bibi?!" tanya Cyra heran.


"Itu karena kamu sudah lebih dulu menanamkan sikap tidak suka kepada mereka, jadi kamu berfikir semua ocehan dan omelan yang keluar dari mulut mereka adalah sebuah kritikan, kemarahan atau ketidak suka mereka terhadap kehadiranmu! coba kamu berpikir dari sudut pandang yang berbeda, bibi yakin, kamu akan mengerti mereka!" bibi tersenyum penuh arti kepada Cyra.


Cyra mulai berusaha berpikir dari sudut pandang lain, sambil terus mengolah masakannya, tapi entah kenapa, semua sama saja, tidak ada baiknya bagi Cyra.


"Ah ... Aawwww!" Cyra berteriak kesakitan.


Pras yang hendak ke dapur, mendengar teriakkan istrinya dan langsung berlari, sesampainya di sana, dia melihat Cyra sedang mengeluh kesakitan, tangannya kemerahan.


"Cyra! kamu tidak apa-apa?" Pras langsung menyambar tangan Cyra dan membawanya ke wastafel untuk menyiram tangan Cyra dengan air.


"Kalau masak, jangan melamun, bisa berbahaya!" Pras membersihkan luka Cyra.


"Tidak ... perlu!" Cyra terlambat, Pras keburu menghilang dari pandangannya.


bibi yang melihat adegan romantis itu terus tersenyum, dia bahagia melihat Pras, yang begitu mengkhawatirkan Cyra.


"Bibi! aku cedera, kok malahan kayak orang kesenangan begitu! jahat banget senyum-senyum!" protes Cyra.


"Bibi, bukan senang melihatmu, cedera! tapi Bibi, senang melihat Den Pras, perhatian seperti itu!" Bibi kembali tersenyum kesenangan.


Cyra semakin mengerucutkan bibirnya, sambil berwajah kesal.


Pras kembali ke dapur, dia membawa kotak P3K untuk mengobati tangan Cyra.


Pras mengeluarkan alkohol untuk mensterilkan luka, lalu memberikannya obat merah dan membalutnya dengan perban.


Cyra dan Bibi, memperhatikan cara Pras mengobati luka, wajah yang tampan itu benar-benar sangat sempurna, dan sebagai seorang pria Pras juga sangat perduli terhadap istrinya.


"Hmmm ... apa kamu selalu seperti ini kepada setiap wanita?" tanya Cyra dengan sedikit mendelik.


"Hmmm ... benar! tapi tidak hanya kepada wanita, kepada siapapun yang terluka, jika aku ada di sana, pasti aku akan menolongnya!" Pras bicara sambil mengaitkan plester di perban yang membalut luka Cyra.

__ADS_1


"Selesai!" Pras melepaskan tangannya.


"Nanti malam, aku obati lagi!" kata Pras sambil merapihkan obat yang sudah selesai dipakai kembali ke dalam kotak.


"Tidak perlu! aku bisa sendiri!" kata Cyra menolak.


"Tidak terima penolakan, kamu tidak ingat perjanjian kita?!" tanya Pras sambil melihat wajah Cyra dari sudut matanya.


Cyra sangat kesal sekali, semua ditolak dan alasannya karena perjanjian.


Cyra tidak bisa lagi mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, Pras selesai merapihkan kotak obat, dia langsung pergi meninggalkan Cyra.


Bibi masih saja bersikap senang, bahkan kini dia semakin kegirangan, Cyra merasa, semua orang di rumah ini, mendukung perasaan Pras kepada dirinya.


"Kenapa semua orang, setuju menikahkan dia denganku! padahal dia adalah anak emas di keluarga ini!" celetuk Cyra.


"Justru! karena Den Pras adalah anak emas di keluarga ini, mengharuskannya, menikah dengan wanita, baik-baik, wanita yang berhati tulus, dan cantik seperti dirimu!" puji Bibi.


Cyra menjadi semakin tidak mengerti.


"Kalau mereka berfikir aku yang terbaik! seharusnya mereka memperlakukan aku, dengan sangat baik, bukan malah setiap hari membuat suasana hatiku buruk!" kecamnya.


"Sudah, kembali buat masakannya, nanti kalau kamu sudah mengerti, kita bahas kembali!"


Perkataan Bibi, memberikan tanda tanya besar di hati Cyra.


.


.


.


. hai kawan semua terimakasih sudah membaca karyaku,,, terus ikuti kelanjutan kisah Cyra dan Pras, semakin menarik ceritanya.


.


.


.


.ikuti juga kisah cerita dari novel teman ku...


__ADS_1


__ADS_2