
~Kepala Batu~
Pras masih terus memandangi Cyra, dia memutar otaknya, berfokir bagaimana caranya bicara dengan Cyra tentang pernikahan ini.
"Bagaimana cara aku bicara dengan dia?" batin Pras
"Kenapa? kenapa ngeliatin kaya begitu?" kata Cyra yang tidak suka dengan cara pandang Pras kepada dirinya.
"Kenapa? ada yang salah?" Pras membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi.
"Itu?! kenapa ngeliatin aku kayak begitu?" kata Cyra dengan menunjuk mata Pras
Pras langsung tertawa kecil melihat tingkah Cyra,
"Ditanya, balik tanya, sekarang ditanya malah ngetawain orang!" kesalnya.
"Ternyata, kelemahanmu adalah saat dipandangi oleh orang lain." Pras masih terus terkekeh.
"Siapa yang salah tingkah!"
"Aku tidak bilang kalau kamu jadi salah tingkah, sudah, aku mau bicara serius denganmu sekarang." Pras memajukan sedikit duduknya dan menatap tajam ke arah Cyra.
Melihat pandangan lurus Pras, membuat hati Cyra berdebar kencang, dia masih belum siap untuk mendengar kata-kata apapun, dia datang ke cafe untuk menjernihkan fikirannya bukan untuk mendengar kata-kata Pras.
"Aku tau, ibuku sudah bicara tentang tradisi keluarga kami, kamu tau, mereka tidak akan pernah melepaskanmu, menikah dengan anggota keluarga lainnya adalah suatu keharusan untuk para wanita yang ditinggal meninggal suaminya," papar Pras.
"Kamu juga seharusnya sudah tau, kalau aku tidak mau menerima perjodohan untuk kedau kalinya!" kini giliran Cyra yang memandang tajam ke arah Pras.
Melihat tatapan tajam itu, membuat Pras semakin yakin, kalau sifat Cyra sangat mirip dengan ibunya.
"Apa lasannya?" tanya Pras.
"Karena aku bukan wanita yang untuk digilir!" tegas Cyra.
"Tradisi aneh ini tidak akan terjadi kepadaku! kenapa aku harus menikah denganmu? bukankah seharusnya aku meninggalkan rumah itu setelah suamiku tiada? untuk apa aku bertahan di sana!" Cyra hampir menitikkan air matanya.
"Tapi ... kamu sudah terikat!" kata Pras.
"Terikat?!" kata Cyra dengan bengisnya.
"Karena hutang kedua orang tuaku?" tanya Cyra.
"Bukan!" kata Pras.
"Karena adikku! dia menitipkan dirimu kepadaku!" lanjut Pras.
"Tidak mungkin, untuk apa dia menitipkaku kepadamu?" tanya Cyra.
"Karena dia sangat mencintaimu, dia ingin aku menjagamu!" tegas Pras.
"Aku tidak percaya!" Cyra kini menitikkan air matanya yang sudah tak terbendung dan dia langsung berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Pras.
"Bukan urusanmu!" Cyra pergi dengan langkah yang agak dihentakkan.
"Cyra!" panggil Pras.
__ADS_1
Pras mengejar Cyra, dia segera keluar dari dalam cafe dan mencegah Cyra pergi.
"Lepaskan aku!" hata Cyra sambil menghempaskan tangan Pras yang sempat menarik tangannya.
"Ayo kita pulang," ajak Pras.
"Aku bisa Pulang sendiri." Cyra menolak mentah-mentak ajakan Pras.
"Kamu mau dihukum oleh Ibu dan Bapak?" tanya Pras yang berusaha melindungi Cyra.
"Stop!" teriak Cyra sambil menutup kupingnya dengan kedua tangannya.
"Tidak perlu kamu kasihan kepadaku, dengar sekeras apapun kamu berusaha, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini!" Cyra berlari dan menyetop taksi yang lewat.
Pras langsung menuju mobilnya dan langsung menyusul taksi yang ditumpangi oleh Cyra.
"Dasar keras kepala! dia lebih memilih dihukum dari pada pulang kerumah denganku." Pras jengkel dengan sikap Cyra.
.
.
.
.
.
"Mah, Ryan sudah meninggal dunia dan aku dengar Kak Pras sudah pulang ke Indonesia, apa kira-kira mereka akan menikahkan Cyra dengan Kak Pras?"
"Kenapa sih, si Cyra itu, udah orang tuanya bangkrut tapi masih juga bisa hidup enak!" kesalnya.
"Sudah tidak usah difikirkan!" kata seorang pria yang datang dan ikut mengobrol dengan ibu dan anak ini.
"Papa gimana sih, dulu kan seharusnya aku yang menikah dengan Kak Pras, karena Bude dan Pakde punya hutang banyak, malahan Cyra yang menjadi menantu mereka" rengek putri kesayangannya.
"Tenang saja, kali ini, kita kan menikmati kemewahan itu semua!" kata jarwo sambil menengadahkan sedikit kepalanya.
.
.
.
.
.
Jasmin, Lasmi dan Bayu sedang menikmati teh hangat sambil menyicipi kue bolu buatan Mbok Tar, kebiasaan mereka sekeluarga jika ada hari libur, setiap sore hari menikmati teh di taman depan rumah.
"Cyra" panggil Lasmi ketika melihat Cyra masuk dari pintu pagar rumah.
"Bu" panggil Cyra sambil menekuk wajahnya.
"Kamu dari mana?" tanya Lasmi.
"Aku ... aku dari ...,"
__ADS_1
"Cyra habis pergi denganku" selak Pras ketika Cyra ingin menjawab pertanyaan ibunya.
"Pergi denganmu?" tanya lasmi tidak percaya.
"tapi tadi dia pulang dengan taksi," kata bayu yang juga melihat Cyra.
"Tadi, kami sedikit bertengkar, jadi Cyra pulang sendiri, mungkin dia kesal dengan kata-kataku." Pras masih melindungi Cyra.
Mendengar semua perkataan Pras, membuat Cyra semakin kesal, dia benar-benar tidak perlu perlindungan dari Pras, karena dia bisa melindungi dirinya sendiri selama ini.
"Pras ikut Bapak!" kata Bayu
.
.
.
.
.
"Kenapa dia bertingkah seperti pahlawan kesiangan?" umpat Cyra yang masih kesal.
"Dia fikir, dia hebat dengan melakukan hal itu untukku?"
"Aku bukan wanita, yang bisa terkesima dengan mudah kepada perlakukan laki-laki yang sok hebat seperti dia!"
Cyra membersihkan diri dan bersiap membantu Mbok Tar di dapur untuk menyiapkan makan malam, dia agak sedikit merasa bersalah karena beberapa hari ini, selama dia marah tidak keluar kamar dan tidak membantu pekerjaan Mbok Tar.
.
.
.
Pras dan Bayu masuk ke dalam ruangan khusus yang dibuat Bayu untuk mengadakan rapat keluarga, ruangan ini hanya diketahui oleh anggota keluarga saja, ruangan ini berada di tembok yang tak berpintu tapi bisa mereka buka dengar kartu akses, kartu akses hanya di simpan oleh dua orang, yaitu Lastri dan Bayu.
"Pras, bapak mau bertanya kepadamu, apa kamu menyukai Cyra?" tanya Bayu.
"Sejujurnya aku juga belum pasti, perasaan ini tumbuh ketika Ryan sering bercerita tentang Cyra, entah itu cinta atau hanya kekaguman dengan kepribadiannya, atau ini hanya rasa yang aku miliki karena Ryan menitipkannya kepadaku" jawab Pras.
"Bapak bukan tidak suka dengan Cyra, hanya saja hubunganku dengan keluarganya tidak cukup baik saat itu, Keluarganya meminjam sejumlah uang kepada kita, untuk menopang perusahaannya, tapi ternyata mereka masih sibuk foya-foya dan akhirnya bangkrut, mereka tidak bisa membayar hutangnya, Bapak terpaksa menikahkan Ryan saat itu, kondisi Ryan juga kurang beruntung karena sakit sejak kecil, kemungkinan sulit mendapatkan jodoh, jadi Bapak putuskan untuk menikahkannya dengan Cyra" jelas Bayu.
"Aku faham, seharusnya juga, aku yang dinikahkan saat itu dengan pilihan kalian tapi, aku masih harus menyelesaikan studiku dan membangun bisnisku" kata Pras.
"Bapak, sebenarnya ingin menikahkanmu dengan orang lain, tapi mungkin tidak bisa, sesuai tradisi keluarga Prawiro, kamu harus menikah dengan Cyra istri mendiang adikmu, jadi kita akan mengatur tanggal pernikahanmu segera" tuntasnya.
Pras masih duduk terdiam, sedangkan Bayu sudah keluar dari ruangan rahasia itu, Pras merenungi perasaannya kepada Cyra, agar dia tahu pasti, apakah perasaannya cinta atau hanya perasaan kasihan.
Bersambung....
.
.
Baca terus kisah Cyra dan Pras, banyak tekateki di dalam cerita ini yang akan semakin membuat kalian penasaran.
__ADS_1