
~Kesedihan Lasmi~
Lasmi memang sudah lama sekali tinggal terpisah dengan Pras, tapi rasanya saat ini dia masih belum puas tinggal bersama putranya yang sudah lama tidak pulang ke Indonesia.
Lasmi mulai berkaca-kaca saat sampai di kamarnya.
"Jangan terlalu ditangisi!" pesan Bayu.
"Anak kita sudah berkeluarga, layaknya kita dulu, memutuskan untuk tinggal terpisah, dulu kita tidak mengizinkan Ryan tinggal terpisah karena kondisinya, kalau Pras sekarang, dia sehat, dan bisa menjaga dirinya." Bayu mengingatkan istrinya.
"Tapikan, aku baru saja berkumpul kembali dengan Pras, sudah lama kita terpisah! wajar jika aku bersedih!" Lasmi malah semakin sesenggukan.
"Iyah, aku faham, tapi kita kan bisa ketemu dengan mereka, menginap juga di sana, tidak seperti di luar negeri butuh biaya besar dan juga butuh memakan waktu diperjalanan!" kata Bayu.
Lasmi kemudian mengindahkan perkataan suaminya, dia tidak menangis lagi, kini dia sudah menghapus air matanya.
******
"Kamu sedang apa?" tanya Pras kepada Cyra
"Aku mau membuat masakan untukmu dan untukku," jawab Cyra datar.
"Wow ... sepertinya, kau sudah mulai menjadi seorang istri yang melayani suaminya," Pras berkata sambil menggoda.
"Mungkin! tapi mungkin juga tidak!" Cyra menjawab dengan jawaban mengambang.
Pras tersenyum tipis, dia sangat suka dengan sikap Cyra yang seperti ini, membuat dirinya semakin tertantang, membuat dirinya semakin penasaran, apakah dia bisa mendapatkan hati seorang Cyra.
__ADS_1
"Baiklah! masaklah yang benar, aku menantikan masakanmu?" kata Pras dan berlalu.
"Ya! masaklah dengan benar, aku menantikan masakanmu." Cyra menirukan perkataan Pras, dengan gaya sedikit nyeleneh.
Pras mendengar perkataan Cyra dan dirinya tertawa kecil.
Sebagai seorang laki-laki yang lebih dewasa, berusia di atas Cyra, membuat Pras harus selalu bersikap dewasa, harus bisa mengambil sikap yang benar, dan harus bisa membuat Cyra, sedikit demi sedikit merubah sikapnya.
"Ryan, Aku berjanji akan selalu melindungi Cyra dan aku juga akan berjanji membuat Cyra yang jatuh cinta kepadaku, terima kasih, atas apa yang telah kau ceritakan tentang dirinya kepadaku selama ini, itu sangat membantu, walaupun sulit kenyataannya, untuk meraih hati yang sedang tenggelam di dalam kesedihan, karena kehilangan." Pras menatap foto Ryan, yang ada di dalam dompetnya.
Pras menutup kembali dompetnya setelah melihat Cyra selesai memasak, dan sedang menyiapkan masakannya di meja makan.
Pras bangun dari duduknya, dia berdiri lalu pergi ke dapur, membantu Cyra menyiapkan hidangan makan siang mereka.
"Ayo kita makan!" kata Pras sambil membagi piring, satu untuk dirinya dan satu untuk Cyra.
Pras melihat wajah Cyra yang menunduk sejak mereka bertemu di meja makan.
"Kenapa kamu menunduk terus?" tanya Pras.
"Tidak apa!" jawabnya singkat dan cepat.
Cyra meletakkan piring di hadapan Pras, dia sudah menyajikan nasi beserta lauk pauknya di atas piring.
Cyra duduk di kursinya dan menyendok nasi dan lauk pauk.
Mereka berdua menyantap makan siang, masakan yang di buat Cyra tidak perlu diragukan lagi rasanya.
__ADS_1
"Hmmm ...," Pras memunculkan ekspresi yang membuat Cyra bingung melihatnya.
"Kenapa? apa rasanya tidak enak?" Cyra langsung bertanya.
"Hmmm ... ambilkan aku air putih!" kata Pras meminta tolong.
Cyra dengan sigap, langsung menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya kepada Pras.
Pras meneguk air putih itu hingga seperempat gelas, lalu meletakkannya.
"Masakannya, heem ... hemm" Pras bicara tersendat seperti orang yang tenggorokannya gatal.
"Kenapa?" tanya Cyra masih dalam posisi berdiri.
"Rasanya sangat enak!" Pras meneruskan makanannya setelah puas menggoda Cyra.
Cyra langsung kembali duduk dengan gerakan kasar, dia kesal karena berhasil dikerjai oleh pria yang berstatus suaminya.
"Awas kau! akan aku balas nanti!" Cyra bicara dalam hati sambil memegang erat sendok di tangannya dan melihat tajam kearah Pras.
.
.
.
.
__ADS_1
Habis ini akan ada ke unyuan diantara mereka stay tune...