
"Dia..." ucap Lista
Kedua sahabat Lista dan Darren melihat arah pandangan Lista, mereka pun juga sama terkejutnya dengan Lista
"Gak bisa dibiarin, kita harus kesana" ucap Viona kesal
"Tidak perlu, sebentar lagi mereka akan lewat depan kita" ucap Darren melipat tangannya di dada
Ternyata dugaan Darren benar, sepasang kekasih itu melewati meja Lista
"Katanya ada acara, ternyata kencan" ucap Viona menatap Cantika sinis membuat Cantika terkejut dan bersembunyi di balik tubuh seorang pria kekar itu
"Ke...kenapa kalian bisa disini?" tanya Cantika sedikit gugup
"Duduk" ucap Viona tegas, Lista dan Risa hanya menggelengkan kepalanya, dan Darren menggeser duduknya
"Ma... maaf, aku gak berniat merahasiakan dari kalian" ucap Cantika gugup, sedangkan pria yang bersama Cantika terlihat tenang
"Lalu ini apa?" tanya Viona kesal
"Sebenarnya aku akan menceritakan pada kalian, tapi tunggu saat yang tepat" ucap Cantika merasa bersalah pada ketiga sahabatnya itu
"Kak Juan, sejak kapan kamu mengenal Cantika?" tanya Viona yang berganti pada Juan
"Sudah satu bulan yang lalu" jawab Juan enteng, dan membuat ketiga sahabat Cantika itu membelalakkan matanya
"Cantika" teriak Viona membuat Lista segera menutup mulut Viona
Lista segera membungkuk kepada pengunjung cafe yang saat itu tengah ramai dan memandang ke arah meja Lista
"Cantika, kau membuat malu" ucap Lista pelan dengan wajah memerah menahan malu
"Sudahlah, lagian kan Cantika mau menceritakan pada kita. Lagipun pertemuan kita ini tak di sengaja" ucap Lista menenangkan Viona
"Heh, kamu marah kek, malah asyik makan" ucap Viona pada Risa yang sibuk dengan cemilannya
"Lah, kenapa jadi marah sama aku" gerutu Risa
"Huft, untung aku sabar" ucap Viona merapikan rambutnya
"Sabar apanya, dari tadi ngegas mulu" ucap Risa yang membuat semua tertawa begitupun dengan Viona terkekeh pelan
Setelah itu, Lista pulang diantar oleh Darren. Sedangkan Viona dan Risa di antar oleh Juan dan Cantika
"Kak, sampai kapan kak Darren mengajar disana?" tanya Lista
"Hanya satu tahun" jawab Darren, Lista hanya menganggukkan kepalanya
Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Arvin
"Terimakasih kak Darren" ucap Lista
"Sama-sama, cepat masuk dan istirahat" ucap Darren menepuk pelan kepala Lista lembut
Lista segera masuk, dan Darren juga masuk ke mobilnya
"Nyonya sudah pulang?" tanya bi Ina yang membukakan pintu untuk Lista
"Iya bi, mas Arvin apa sudah pulang?" tanya Lista dengan wajah ceria
"Sudah nyonya, tuan di lantai atas" ucap bi Ina
"Baik, bi ini Lista bawa oleh buat bibi dan yang lain" ucap Lista memberikan paper bag berukuran sedang pada bi Ina
"Terimakasih nyonya" ucap bi Ina tersenyum
Lista segera ke lantai atas, dan mengetuk kamar Arvin
Arvin membuka pintu kamarnya dengan wajah tak senang
"Mas ini aku membelikan kamu dasi" ucap Lista memberikan paper bag hitam pada Arvin
"Hemh" hanya itu yang keluar dari mulut Arvin
"Aku akan masuk kamar dan istirahat" ucap Lista masuk ke kamarnya
"Apa saat dengan Darren kau akan merasa bahagia" ucap Arvin memejamkan matanya dan masuk kembali ke kamarnya
.
.
Keesokan harinya, Lista tak melihat Arvin di meja makan
__ADS_1
"Bi, mas Arvin kemana?" tanya Lista
"Tuan muda sudah berangkat tadi pagi" jawab bi Ani
"Apa dia tidak sarapan?" tanya Lista
"Tidak nyonya" jawab bi Ina
Beberapa saat kemudian, ponsel Lista berdering tertera nama Arvin disana
"Iya halo mas" ucap Lista
"Lista, bisa tolong ambilkan berkas di meja kerjaku?" tanya Arvin
"Oh, baiklah. Tunggu jangan di matikan" ucap Lista sambil menuju ruang kerja Arvin
"Berkasnya dimana?" tanya Lista
"Di meja, dekat dengan tumpukan buku, warna biru" ucap Arvin
"Oh iya, aku sudah menemukannya" ucap Lista
"Tolong antar ke kantor" ucap Arvin
"Iya mas" jawab Lista mematikan ponselnya
Baru saja Lista ingin keluar, tiba-tiba mata Lista melihat sebuah pigura kecil yang terpajang di meja kerja Arvin
"Siapa wanita ini? Apa wanita ini yang membuat mas Arvin tidak bisa membuka hatinya untukku?" tanya Lista, entah kenapa hatinya begitu sakit saat melihat foto wanita itu
Lista segera keluar, dan menghela nafasnya panjang. Dadanya terasa sesak kala mengingat ucapan Arvin yang tak akan mencintainya
"Apa hanya aku yang mencintai mas Arvin" ucap Lista pelan dan menghapus air matanya
Lista segera menemui Bian dan meminta Bian mengantarkan Lista ke kantor Arvin
Di perjalanan Lista hanya diam mengingat foto wanita itu
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Bian
"Aku tidak apa-apa" jawab Lista tersenyum pada Bian
"Bian, berhenti di cafe depan ya. Aku mau membelikan sarapan buat mas Arvin" ucap Lista
Lista segera memesan makanan untuk suaminya
Disana Lista melihat sepasang seorang pria yang terlihat bahagia sambil memegang perut istrinya yang sudah membesar
"*A*pakah aku juga bisa memiliki keluarga kecil bersama mas Arvin" batin Lista yang hampir saja meneteskan air matanya
"Kak, ini pesanannya" ucap karyawan itu
"Iya terimakasih" ucap Lista tersenyum lembut
Setelah itu, Bian kembali melakukan mobilnya menuju kantor Arvin
Sekitar 15menit, Lista sudah berada di lobi perusahaan Arvin
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya recepsionis itu
"Apa bisa bertemu dengan tuan Arvin?" tanya Lista
"Maaf tuan Arvin sedang ada rapat" ucapnya
"Kalau begitu saya titip untuk tuan Arvin" ucap Lista lembut
"Baiklah, tapi tuan muda tidak biasa makanan yang tidak higienis" ucap resepsionis itu mendorong makanan yang Lista bawa dengan sedikit ketus
"Hust, jangan bicara seperti itu " ucap salah satu rekannya memperingatkan
"Kenapa, banyak wanita yang selalu datang kesini pasti ingin bertemu dengan tuan muda. Kau kan tau sendiri kekasih tuan muda sering datang kemari bahkan juga sering berdua dengan tuan muda di ruang pribadi tuan muda" ucapnya lagi dengan melirik Lista sinis
Mendengar perkataan resepsionis itu, hati Lista makin tak karuan dan rasanya makin sakit
Lista meraih ponselnya, lalu menghubungi Arvin
"Mas aku sudah dibawah. Aku titipkan di meja resepsionis" ucap Lista dan mematikan ponselnya
"Maaf nona, nanti akan saya sampaikan" ucap rekan resepsionis itu, Lista hanya mengangguk
Lista keluar dari kantor Arvin dan bersiap untuk pulang, namun dia urungkan niatnya itu
"Bian, antar aku ke suatu tempat" ucap Lista
__ADS_1
"Baik nyonya" ucap Bian
.
Sementara itu....
"Dimana nona tadi?" tanya Daniel
"Sudah pergi tuan" jawabnya
Tanpa berkata lagi, Daniel kembali naik dan hanya membawa berkas itu
"Tuan, nyonya sudah pergi" ucap Daniel
"Minta kedua resepsionis itu keruangnku sekarang" ucap Arvin dingin
"Baik tuan" ucap Daniel
Daniel merasa bingung, kenapa Arvin tiba-tiba meminta memanggil kedua resepsionis itu
Setelah cukup lama menunggu, kedua resepsionis itu datang keruangan Arvin
Daniel dapat merasakan suasana aneh pada ruangan Arvin
"Apa yang mereka lakukan, hingga tuan muda begitu marah" batin Daniel merinding
"Apa yang kalian katakan pada gadis yang bernama Lista itu?" tanya Arvin dingin
"Ka...Kami tidak mengatakan apa-apa tuan" ucapnya sedikit gemetar
"Lusi dan Vira, siapa yang mengatakan aku selalu membawa kekasihku kemari?" tanya Arvin menatap keduanya tajam
Kedua wanita itu langsung tak bisa menelan salivanya
Arvin mengotak atik laptopnya dan menunjukkan video di lobi perusahaan
Daniel yang melihat rekaman ituitu langsung memejamkan matanya
"Pantas saja, tuan muda sangat marah" ucap Daniel
"Kalian di pecat" ucap Arvin dingin
"Tu... tuan, maafkan saya. Saya tidak salah tuan" ucap Vira membela diri
"Iya kau memang tak salah, tapi kesalahanmu tak mengatakan pada asisten Daniel untuk sarapan yang dia titipkan pada kalian" ucap Arvin
"Tapi tuan" ucap Vira terhenti saat Arvin mengangkat tangannya
"Daniel" ucap Arvin, Daniel segera meminta kedua resepsionis itu keluar dari ruangan Daniel
.
Bian dan Lista sudah sampai pada tempat tujuan Lista
"Bian, kau tunggu aku di sini" ucap Lista yang mencoba menahan air matanya
"Baik nyonya" ucap Bian
Lista berjalan mengikuti jalan dengan langkah yang berat
"Papa" ucap Lista diatas batu nisan sang papa
"Papa bilang jika mas Arvin menyakiti aku, papa orang pertama yang akan memukul mas Arvin, tapi kenapa papa pergi lebih dulu" ucap Lista memegang dadanya yang sakit
"Papa, Lista sendirian di sini pa, Lista sendiri" ucapnya dengan tangis yang semakin pecah
Bian yang tidak jauh dari posisi Lista, juga merasakan sakit yang di rasakan Lista
Perlahan Bian mendekati Lista
"Nyonya, ayo kita pulang" ucap Bian lembut, Lista menggelengkan kepalanya
"Nyonya, ini sudah sore. sebentar lagi tuan muda akan pulang" ucap Bian
"Aku tidak ingin pulang, biarkan aku disini" ucap Lista
"Nyonya tolong, jika saya terlambat membawa nyonya, tuan muda akan memecat saya" ucap Bian berbohong
Lista menatap Bian, dan menganggukkn kepalanya pelan
Lista berdiri dan berjalan kearah mobilnya kembali
Namun seseoran mengawasi Lista dan Bian dengan senyum menyeringai
__ADS_1
**Bersambung**