
Malam harinya, Lista dan Arvin sudah sampai rumah
Lista segere ke kamar mandi, sedangkan Arvin membaringkan dirinya di kasur empuk miliknya
"Sayang, kamu masih berendam?" tanya Arvin dari luar
"Iya mas, sebentar saja" jawab Lista sambil memejamkan matanya
Lista tak percaya bahwa Citra yang membunuh papanya
"Kenapa kak Citra bisa setega itu, padahal papa sangat menyayangi kak Citra" ucap Lista pelan sambil menghela nafasnya
Setalah cukup lama Lista berendam, akhirnya Lista keluar dari kamar mandi dan Lista melihat Arvin yang sudah tertidur, mungkin dia teralalu lelah
"Mas, bangun mandi dulu sana" ucap Lista mengguncang tubuh Arvin pelan
"Iya sayang sebentar lagi" ucap Arvin masih memejamkan matanya
Tak lama setelah itu, Arvin beranjak dari tempat tidurnya dan segera ke kamar mandi
Lista duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya dan berchating ria dengan sahabatnya
Viona: Risa kamu harus traktir kita makanan yang paling mahal
Risa: Tega amat ViðŸ˜
Cantika: Ya minta Daniel yang traktir
Risa: Aku baru jadian masa iya minta traktir
Lista: Risa kan masih malu, kan masih awal pacaran. Nanti juga bakal malu-maluin😀
Risa: Sialan kalian😡
.
"Sayang, kok kamu gak tidur?" tanya Arvin, yang hanya mengenakan handuk
Lista menengok kearah Arvin yang terlihat jelas tubuh atletis dan perut yang sungguh menggoda, Arvin yang menyadari tatapan Lista tersenyum simpul
"Apa kau sudah puas melihatnya?" bisik Arvin yang tiba-tiba berada di dekat Lista, Lista langsung memalingkan wajahnya dengan pipi merah merona
"Ma... mas Arvin kok gak pakai baju?" tanya Lista sekilas melirik Arvin
"Kenapa, apa kamu malu?" goda Arvin, dan semakin membuat Lista salah tingkah
Perlahan Arvin mendekat dan mencium bibir Lista dengan lembut, semakin lama ciuman Arvin sekakin menuntut
"Eeemh, mas" desah Lista saat tangan Arvin mulai berjalan meraba tubuh Lista
"Lista aku menginginkannya" ucap Arvin menggendong tubuh Lista menuju ranjangnya
Lista hanya menganggukkan kepalanya pelan dan membiarkan Arvin melanjutkan aktifitasnya
Entah berapa lama mereka melakukan penyatuan dengan di iringi suara merdu keduanya hingga Lista terkulai lemas tepat jam 2 dini hari
"Terimakasih sayang, hari ini kau akan menjadi milikku sepenuhnya" ucap Arvin mengecup kening Lista
.
Keesokan harinya....
"Sayang, ayo bangun. Bukannya kamu akan mulai bekerja?" tanya Arvin yang sudah rapi
"Mas, jangan sekarang ya. Aku capek" ucapnya masih memejamkan mata
__ADS_1
Arvin menggelangkan kepalanya dan tersenyum, Arvin menyadari jika Lista kekelahan karena ulahnya semalam
"Baiklah kau istirahat, aku pergi dulu" ucap Arvin mencium kening Lista lembut
Saat Arvin turun, ternyata di bawah sudah ada Elin dan Ramon di meja makan
"Mami, kenapa mami disini?" tanya Arvin mengerutkan keningnya
"Dasar bocah tengil, apa begini cara kamu menyambut mami dan papi?" ucap Ramon kesal
"Lalu?" tanya Arvin
"Kau, dapat darimana sifat dinginmu itu?" tanya Ramon
"Dari papi" ucap Arvin dan Elin bersamaan, Ramon diam lalu menyengir saat putra dan istrinya berkata demikian
"Lista mana, kenapa dia tidak turun?" tanya Elin
"Dia masih tidur" jawab Arvin datar
"Tumben dia masih belum bangun?" tanya Elin menyelidik
"Dia lelah" jawab Arvin cepat, Elin hanya tertawa pelan
"Kenapa kamu tertawa mi?" tanya Ramon bingung
"Pi, sebentar lagi kita akan punya cucu" ucap Elin girang, membuat Arvin memgerutkan keningnya
"Arvin berangkat dulu" ucap Arvin berpamitan, dia ingin segara pergi, dari pada mamanya akan bertanya hal-hal yang aneh
"Apa kau sudah tak menggunakan kursi rodamu lagi?" tanya Ramon
"Tidak, aku sudah lelah berpura-pura duduk di kursi roda" jawabnya datar, membuat Ramon menggelengkan kepalanya
Belum lama setelah kepergian Arvin, Lista turun dan menuju meja makan, tanpa tau jika mertuanya berada di rumah mereka
"Ma.. mami, papi" ucap Lista terkejut
"Eehh, gak papa mi. Cuma pinggang Lista sedikit sakit" jawab Lista tersenyum canggung
"Ini semua karena mas Arvin yang terlalu bersemangat, hingga membuatku sulit berjalan dan pinggang ku sakit" gerutu Lista dalam hati
"Astaga Arvin, kau membuat menantu mami kesakitan, awas aja kamu" batin Elin geram pada putranya itu
"Sudah, ayo sarapan dulu sayang" ucap Elin lembut
"Mami sama Papi kok gak ngabarin dulu kalau mau kesini?" tanya Lista
"Kalau gak ngabarin mana mungkin mami tau keganasan putra mami" ucap Elin membuat Lista tersedak
"Mi, kau suka sekali menggoda menantumu" ucap Ramon tertawa, sedangkan wajah Lista sudah merona akibat ulah Mami Elin
.
.
Di sisi lain
Semua terkejut saat melihat pria tampan dengan setelan jas warna gelap yang baru memasuki perusahaan AV Corp
"Se... Selamat pagi tuan" sapa satpam yang terkejut melihat pemilik perusahaan datang, dia hanya mengangguk
Bagaimana semua tidak heran pasalnya tuan mudanya selama ini menggunakan kursi roda, namun kali ini Arvin tak menggunakan kursi roda lagi
"Tuan muda, hari ini anda akan bertemu dengan klien dari Bandung, dan makan siang bersama tuan Arya Permana, lalu anda akan memimpin rapat bulanan, dan terakhir makan malam dengan direktur anak perusahaan kita" ucap Daniel panjang lebar, dan tiba-tiba Arvin menghentikan langkahnya
__ADS_1
"Kau sengaja membuatku sibuk?" tanya Arvin menatap tajam Daniel
"Maafkan saya tuan, ini semua dari sekertaris anda" ucap Daniel
"Kau saja yang rapat dan makan malam, aku ingin istirahat" ucap Arvin kembali melangkahkan kakinya menuju ruanganya
"Ta... tapi tuan" Daniel belum selesai bicara, Arvin sudah menghilang dari pandangan Daniel
.
Saat Daniel sampai di lantai paling atas, tiba-tiba seorang wanita menghentikan Daniel
"Daniel, bagaimana ceritanya tuan muda sudah bisa berjalan?" tanya Erika sekertaris Arvin
"Apa kau ingin tuan muda lumpuh selamanya?" tanya Daniel
"Tentu saja tidak" jawab Erika cepat
"Jika kau ingin tau, kau tanyakan sendiri pada tuan muda" ucap Daniel sedikit kesal
"Kenapa kau begitu kesal, aku hanya bertanya" ucap Erika mendengus
"Aku kesal padamu, kenapa kau memberikan begitu banyak agenda pada tuan muda?" tanya Daniel
"Bukankah biasanya seperti itu" jawab Erika sedikit bingung
"Sekarang beda" ucap Daniel
"Jika kalian masih bergosip, aku tidak keberatan memotong gaji dan bonus kalian" ucap Arvin yang sedang berada di depan pintu sambil memasukkan tangannya di saku celana
"Maaf tuan muda" ucap keduanya berdiri tegak
"Erika keruangan ku sekarang" ucap Arvin datar, rika langsung mengikuti tuan mudanya masuk keruangan
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Erika sopan
"Kau siapkan satu set meja kerja di sana" ucap Arvin menunjuk ruangan yang kosong
"Baik tuan muda" ucap Erika dan keluar dari ruangan Arvin
Erika bingung, kenapa tuan mudanya meminta satu set meja kerja lagi, ingin bertanya pada Daniel, pasti Daniel tak akan memberi tau dirinya
.
Di markas Arya...
"Reki, kau memang pria sejati. Kau berani membunuh papamu sendiri hanya karena seorang wanita" ucap Arya tersenyum smirk
"Lepaskan aku" ucapnya, Arya menggelengkan kepalanya
"Yang berhak melepaskanmu itu, Lista dan Arvin. Aku hanya mengikuti perintah suami wanita idamanmu itu" ucap Arya mengelilingi Reki
"Apakah Lista masih akan bersama Arvin jika, dia masih menyimpan perasaannya untuk wanita lain" ucap Reki dengan wajah penuh dendam
"Apa kau masih memiliki dendam pada Arvin?" tanya Arya
"Dia yang merebut kekasihku, apa aku tidak boleh memiliki dendam padanya?" tanya Reki penuh emosi
"Apa kau tau, jika kekasihmu itu yang mendekati Arvin dan mengejar Arvin seperti gadis gila" ucap Arya, membuat Reki menatap Arya tajam
"Jika di bilang merebut, harusnya kau yang merebutnya. Arvin berpacaran dengannya sudah 3 tahun dan bersamamu hanya 2 tahun, jadi siapa yang merebut?" tanya Arya menatap tajam Reki
Reki mendelikkan matanya mendengar perkataan Arya tersebut, selama ini Reki fikir dia laki-laki pertama yang menjadi kekasihnya
"Tidak mungkin" ucap Reki tak percaya
__ADS_1
"Jika kau mau balas dendam, aku akan membantumu" ucap Arya berbisik
**Bersambung**