
Juan dan Darren masih berada di markas Arya. Darren dan Juan sengaja melihat keadaan Citra dan Reki yang makin kurus bagai tengkorak hidup
"Citra, aku lihat kau terlihat lebih baik seperti sekarang" ucap Darren sinis
"Lepaskan aku, kenapa kalian tak membunuhku" ucap Citra dengan suara lemah
"Membunuhmu adalah hal yang mudah bagi kami, tapi itu terlalu indah untukmu" ucap Juan tertawa
"Apa yang membuat kalian begitu melindungi Lista anak haram itu" ucap Citra membuat Darren geram dan mendekatkan dirinya pada Citra
"Yang berstatus anak haram itu kau, bukan Lista" jawab Darren menatap tajam Citra
"Apa kau pikir aku tak tau, kau tertarik pada Lista bukan?" tanya Citra membuat Darren tersenyum
"Kau melihatnya. Baiklah aku akan memberi kau sebuah rahasia besar. Dengarkan baik-baik" ucap Darren mendekatkan wajahnya pada telinga Citra
"Lista adalah adik kandungku" ucap Darren pelan membuat Citra terkejut
"Tidak mungkin" ucap Citra tak percaya
"Bukankah kakak Lista sudah mati?" ucap Citra tak percaya
"Bagaimana kau yakin kakak Lista sudah mati" ucap Juan
"Ka...Karena mamaku yang membuangmu di sungai" ucap Citra lolos begitu saja
"Jadi kau yang sudah membuangku, dan kau juga yang membunuh mamaku" ucap Darren mencekik leher Citra kuat
"Darren kau akan membunuhnya" ucap Juan menghentikan Darren
"Bukankah dia yang minta di bunuh" ucap Darren yang tak bisa menahan amarahnya
"Darren kita keruangan sebelah" ucap Juan menarik tangan Darren
Sebelum keluar dari tempat Citra, mereka mendengar teriakan Citra yang histeris dan menyedihkan
"Bagaimana kabarmu Reki?" tanya Juan
"Untuk apa kau kemari, untuk menertawakanku?" tanya Reki menatap Darren
"Kau pikir aku orang yang santai" ucap Darren menatap Reki
"Aku datang hanya untuk melihatmu mati atau belum" ucap Juan tersenyum
"Lebih baik kalian bunuh saja aku" ucap Reki menatap Darren
"Tentu saja, tapi bukan kami yang membunuhmu" ucap Darren keluar dari tempat Reki dengan wajah menahan amarah
"Kurang ajar" ucap Reki geram namun dia tak bisa memberontak
.
.
Di tempat lain...
Reyhan segera kerumah sakit karena perintah Arvin, untuk mengobati luka Bian dan anak buah Daniel
Beberapa anak buah Daniel juga terluka karena ulah para pemotor itu
"Bian tahan sebentar, aku akan mengeluarkan pelurunya" ucap Reyhan
"Baiklah tuan" ucap Bian menahan sakit saat Reyhan megeluarkan peluru dilengan Bian
"Kenapa tiba-tiba mereka menyerangmu?" tanya Reyhan
"Saya juga tidak tau tuan. Mereka tiba-tiba menyerang mobil saya" jawab Bian sambil menahan rasa sakitnya
"Siapa mereka,sebenarnya siapa yang ditargetkan oleh mereka" ucap Reyhan berpikir
"Maksud tuan Reyhan apa?" tanya Bian
__ADS_1
"Kenarin Ryo dan Daniel, tadi pagi tiba-tiba Arya menghilang sekarang kau dan Lista" ucap Reyhan
"Apa, tuan Arya menghilang?" tanya Bian Reyhan mengangguk
"Apa ini ada hubungannya dengan mobil hitam yang selalu berada di depan rumah tuan muda" ucap Bian
"Mobil di depan rumah Arvin?" tanya Reyhan menatap Bian
"Benar, tapi anehnya mobil itu akan pergi saat jam 4 pagi tuan" ucap Bian merasa aneh
"Apa kau sudah menyelidikinya?" tanya Reyhan sambil membalut luka Bian
"Saya tidak menemukan informasi tentang mobil dan pemilik mobil itu. Bahkan saat saya akan menyergapnya, dia selalu bisa kabur" ucap Bian masih merasa bingung
"Sudah selesai, kau boleh pulang sekarang" ucap Reyhan membersihkan tangannya
"Baik tuan, terimakasih" ucap Bian
"Bian kau harus menemukan siapa pemilik mobil itu, dan kau harus lebih ketat menjaga keamanan rumah Arvin" ucap Reyhan
"Saya mengerti tuan" ucap Bian dan pergi dari ruang pengobatan
Sebelum kembali kerumah Arvin, Bian pergi mengunjungi Daniel dan Ryo
"Dan, bagaimana keadaanmu?" tanya Bian dan ternyata Ryo juga ada diruangan yang sama
"Apa hanya Daniel saja yang kau pedulikan?" ucap Ryo kesal membuat Bian tertawa pelan
"Aku tidak melihatmu" jawab Bian enteng
"Kenapa kau tak membawa buah tangan?" tanya Ryo
"Aku tak ingin membawa apapun untukmu" jawab Bian enteng
"Bian kenapa dengan lenganmu?" tanya Daniel
"Aku di serang" jawab Bian
"Aku juga tidak tau, tapi anak buahmu sudah membawa mereka kemarkas tuan Arya" ucap Bian
"Tapi masalah ini terjadi berturut-turut" sambung Bian
"Apa lagi yang terjadi?" tanya Ryo
"Tuan Arya menghilang" ucap Bian
"Apa?" tanya Daniel dan Ryo bersama
"Aku juga mendengarnya dari tuan Reyhan" jawab Bian
"Aku rasa ini rencana bos Arya" ucap Ryo yakin
"Kenapa kau begitu yakin, bagaimana kalau tuan Arya di culik?" tanya Daniel
"Aku lebih tau seperti apa bos Arya" ucap Ryo, membuat Bian dan Daniel mengerti. Karena tak semudah itu melumpuhkan Arya
"Tapi terimakasih untuk bantuanmu" ucap Bian menepuk bahu Daniel
"Tidak perlu sungkan, sudah seharusnya aku membantumu melindungi nyonya muda" ucap Daniel memukul lengan Bian
" Sialan, sakit Dan" ucap Bian meringis, membuat Ryo tertawa
"Sial" ucap Bian kesal
"Tapi untung saja tadi Risa menghubungi Lista, dan Risa mendengar suara keributan" ucap Daniel
"Ck, menyebalkan" ucap Ryo kesal
"Kau kenapa?" tanya Bian
"Saat ada kekasihnya, aku harus berada di luar selama satu jam" ucap Ryo kesal
__ADS_1
"Aku tidak menyuruhmu keluar, kau sendiri yang mau keluar" ucap Daniel enteng
"Kalau aku tidak keluar, apa aku jadi orang ketiga?" tanya Ryo
"Jika kau tak keberatan" ucap Daniel tanpa rasa bersalah, dan kini giliran Bian yang menertawakan Ryo membuat Ryo mendengus kesal
.
.
Setelah sampai rumah, Arvin menggendong tubuh Lista dan membawanya ke kamar
"Mas turunkan aku" ucap Lista saat baru turun dari mobil
"Diamlah" ucap Arvin dingin
"Tuan ada apa dengan nyonya?" tanya bi Ina
"Tidak apa-apa" jawab Arvin datar dan langsung menuju kamarnya
"Mas, mereka tadi itu siapa?" tanya Lista menatap Arvin
"Aku juga tidak tau, anak buahku sedang menyelidikinya" jawab Arvin dan mendudukkan Lista di sofa kamar
"Lalu bagaimana keadaan Bian?" tanya Lista yang khawatir
"Dia baik-baik saja. Mulai sekarang jika aku tidak ke perusahaan kau tidak perlu datang, aku takut kejadian ini terulang lagi" ucap Arvin memeluk erat tubuh Lista, Lista mengangguk menuruti perkataan Arvin
"Tapi mas Arvin tau dari siapa kalau aku dan Bian dalam masalah?" tanya Lista
"Saat Risa menghubungimu, Risa sedang bersama Daniel, dan Daniel memberi tauku" ucap Arvin, Lista menganggukkan kepalanya
Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu dikamar Lista
"Ada apa?" tanya Arvin membukakan pintu
"Di bawah ada teman nyonya muda" ucap bi Ani
"Baiklah, aku akan turun" ucap Lista dari dalam
"Baik nyonya" ucap bi Ani
"Aku akan membantumu" ucap Arvin membantu Lista
"Aku gak papa mas" ucap Lista yang tiba-tiba saja Arvin menggendong tubuh Lista
"Mas turunkan aku, aku malu" ucap Lista
"Kau mau aku turunkan dari pantai atas atau turun di bawah?" tanya Arvin melepas satu tangannya
"Di bawah di bawah" ucap Lista berpegangan kuat pada leher Arvin
Lista sedikit malu pada ketiga sahabatnya itu, karena Arvin menurunkan Lista pas di depan ketiga sahabatnya
"Ekhem... ekhem" dehem Risa yang membuat Lista semakin malu
"Aku akan meninggalkanmu bersama teman kecilmu" ucap Arvin lembut
"Terimakasih mas" ucap Lista, Arvin hanya tersenyum lembut
"Lista kamu tidak apa-apa?" tanya Risa
"Aku baik baik saja, hanya luka kecil" jawab Lista
"Lista, kamu sudah mendengar kabar tentang tuan Arya?" tanya Viona
"Ada apa dengan kak Arya?" tanya Lista
"Dia menghilang" jawab Viona
"Apa?"
__ADS_1
**Bersambung**