Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 8


__ADS_3

Di rumah sakit, Ratna, Citra, dan Evan sedang menunggu Haidar yang sedang berada di ruang operasi


"Ma, bagaimana papa bisa kecelakaan?" tanya Citra


"Mama juga tidak tau" ucap Ratna terlihat khawatir


"Menurut polisi, rem mobil papa blong" sahut Evan


Tak berapa lama, dokter keluar dari ruang operasi, dan disusul juga dengan kehadiran Lista bersama keluarga Prasetya


"Dok bagaimana dengan suami saya?" tanya Ratna


"Keadaan tuan Haidar sangat memprihatinkan" jawab Reyhan


"Apa saya bisa melihat suami saya?" tanya Ratna


"Maaf,tapi tuan Haidar ingin bertemu dengan nona Lista dan tuan Arvin" ucap dokter Reyhan


Dengan cepat Lista masuk keruang operasi dan melihat keadaan Haidar


"Daniel" ucap Arvin, dan Daniel pun tau apa yang di maksud Arvin


Daniel segera mendorong kursi roda Arvin menuju ruang operasi


"Papa" panggil Lista dan memeluk papanya yang penuh dengan luka


"Lista, maafkan papa" ucap Haidar dengan suara yang lemah


"Kenapa papa minta maaf?" tanya Lista menangis


"Maafkan papa, karena selama ini papa banyak menyimpan rahasia padamu. Ini adalah kalung keluargamu" ucap Haidar menyerahkan kalung dengan liontin giok merah yang sangat indah


" Kalung keluarga? Apa Lista bukan anak papa?" tanya Lista menggenggam tangan papanya


"Kamu putri papa, kamu malaikat kecil papa, kamu gadis yang membuat papa bahagia" ucap Haidar tersenyum di sela-sela tangisnya


"Tapi, mama mu bukan mama Ratna. Mama mu sudah pergi lebih dulu" ucap Haidar menghapus air mata putrinya


Kini pandangan Haidar beralih pada Arvin yang sedari tadi diam di samping Lista bersama Daniel


"Nak Arvin, kau akan melindungi putriku kan?" tanya Haidar, Arvin mengangguk pelan


"Terimakasih, sekarang aku bisa pergi dengan tenang" ucap Haidar menatap lembut putrinya


"Papa akan pergi kemana, papa gak boleh pergi" ucap Lista memeluk papanya


"Papa sudah harus pergi, mama mu menunggu papa" ucap Haidar, perlahan pegangan tangan Haidar mengendur, dan perlahan Haidar memejamkan matanya


"Papa, papa, jangan tinggalin Lista" ucap Lista menangis histeris


Dengan sigap Daniel langsung memanggil dokter Reyhan


Dokter Reyhan yang sengaja di luar pintu langsung masuk dan memeriksa Haidar


Reyhan menatap Lista, lalu memggelengkan kepalanya


"Tidak, papa, papa bilang papa gak akan meninggalkan Lista, papa bangun pa" ucap Lista histeris


Arvin menarik tangan Lista hingga Lista terduduk dipangkuan Arvin. Arvin memeluk Lista dengan erat sambil menenangkan Lista


"Daniel bawa kami keluar dulu" ucap Arvin


Daniel mendorong kursi roda Arvin yang saat itu Lista berada di pangkuan Arvin


Ratna dan Citra masuk keruangan Haidar saat ini, juga diikuti Elin dan Ramon


"Lista, biar aku yang membawa Lista" ucap Evan yang ingin membawa Lista ke gendongannya


"Jangan menyentuhnya" ucap Arvin menatap Evan tajam


"Bagaimana kau akan membawanya, kau berdiri saja tidak bisa" ucap Evan, tapi Arvin tak menghiraukan Evan


Arvin melihat kearah Daniel, dan Daniel langsung mengangkat tubuh Lista yang masih lemah untuk istirahat di ruang yang sudah di siapkan oleh perawat atas permintaan Arvin


"Walau aku cacat, setidaknya aku tidak pernah memanfaatkan Lista" ucap Arvin dan berlalu pergi


"Mas, bagaimana dengan papa, aku masih ingin melihat papa" ucap Lista dengan lemah


"Kau istirahat dulu, anak buahku sedang mempersiapkan pemakaman papa" ucap Arvin sedikit lembut

__ADS_1


"Terimkasih" ucap Lista


"Istirahatlah, aku akan keluar sebentar" ucap Arvin, Lista menganggukkan kepalanya


"Bagiamana hasilnya?" tanya Arvin


"Ada seseorang yang sengaja menyabotase mobil tuan Haidar" jawab Daniel


"Menurut asisten tuan Haidar satu minggu yang lalu dia baru melakukan service mobil tuan Haidar" sambung Daniel


"Lalu apakah ada yang mencurigakan?" tanya Arvin


"Menurut beberapa orang di kediaman Dhitama, nyonya Dhitama merasa kesal pada tuan Haidar karena semua hartanya di wariskan pada nyonya muda" ucap Daniel


"Selidiki terus nyonya Dhitama dan juga nona Dhitama" ucap Arvin


"Ada juga kemungkinan Evan terlibat tuan. Karena selama ini dia juga mengincar harta keluarga Dhitama" ucap Daniel


"Tetap awasi keluarga Dhitama" ucap Arvin datar


"Baik tuan" ucap Daniel


.


.


Keesokan harinya, Haidar pun telah dimakamkan


Ketiga sahabat Lista dan Reki juga berada di pemakaman


"Lista, yang sabar ya. Biarkan om pergi dengan tenang" ucap Cantika memeluk Lista


"Aku tidak menyangka, papa secepat ini meninggalkan aku" ucap Lista menangis di pelukan sahabatnya


"Lis, sudah jangan sedih lagi. Om pasti akan sedih melihat kamu seperti ini" ucap Risa menenangkan Lista


Sedangkan Viona berada di samping Lista sambil menahan tubuh Lista agar tidak jatuh


"Lista, aku tidak tau seperti apa papamu. Tapi aku tau dia sangat baik, dia mampu mendidik kamu dengan sangat baik" ucap Reki menggenggam tangan Lista


Lista hanya menganggukkan kepalanya pelan


"Daniel, kau bawa Arvin ke mobil. Sebentar lagi aku akan membawa Lista ke mobil" ucap Darren yang menyadari raut wajah Arvin


"Baik tuan Darren" ucap Daniel yang langsung mengikuti perkataan sahabat tuannya itu


"Permisi semua, saya akan membawa Lista lebih dulu" ucap Darren sopan


"Baiklah pak Darren" ucap Viona


.


.


Setelah acara pemakaman itu, Lista dan Arvin pergi menuju rumah Dhitama


"Kenapa kita tidak pulang?" tanya Lista


"Ada hal yang harus di selesaikan di rumah utama" ucap Arvin


"Apa lagi yang di selesaikan, papa sudah tidak ada" ucap Lista dengan pandangan kosong


"Kau masih ada akan rumah itu" ucap Arvin


"Mas, apa setelah satu tahun kau akan mengusirku?" tanya Lista tanpa sadar sambil meneteskan air mata


"Jangan bahas itu, hapus air matamu dulu" ucap Arvin memberikan tisu


.


Setelah sampai dirumah Dhitama, ternyata juga sudah ada pengacara dan asisten Haidar sudah berada disana


"Paman, kenapa disini?" tanya Lista


"Ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda dan nyonya Ratna" ucap Pengacara itu


"Baiklah, mari masuk paman" ucap Lista


Saat Lista masuk, ternyata disana sudah ada Ratna, Citra dan Evan

__ADS_1


"Silahkan paman" ucap Lista


"Baik, saya datang kemari karna mendapat amanat dari tuan Dhitama untuk menyampaikan beberapa aset milik tuan Dhitama" ucapnya


"Baik, silahkan" ucap Evan antusias


"Rumah beserta isinya ini, akan menjadi milik nyonya Ratna dan nona Citra" ucap pengacara itu menatap asisten Dhitama


Mendengar itu, Ratna dan Citra tersenyum puas


"Lalu, perusahaan dan juga aset yang lain sudah diwariskan kepada nyonya muda Prasetya selaku putri satu satunya tuan Dhitama" ucap pengacara itu, membuat Citra dan Ratna tak Terima


"Tapi saya juga putrinya, kenapa hanya Lista" ucap Citra berdiri


"Benar, tapi disini tertulis anda anak tiri tuan Dhitama" jawabnya


"Tidak bisa, saya tidak bisa terima" ucap Ratna dengan nada tinggi


"Kalau anda tidak Terima, anda bisa aju banding di pengadilan" ucapnya


"Saya akan mentransfer semua saham tuan Dhitama kepada tuan muda Arvin Prasetya selaku suami dan wali nyonya muda Prasetya" ucapnya lagi


"Semua aset yang di tinggalkan tuan Dhitama akan di berikan pada nyonya Prasetya pada usia yang ke 25 tahun" sambungnya lagi


"Baik, saya terima" ucap Arvin


"Tidak bisa begitu" Tiba-tiba Evan angkat bicara


"Kenapa tuan?" tanya asisten Dhitama


"Yang merawat Lista dari kecil hingga besar adalah nyonya Ratna, bagaimana bisa nyonya Ratna dan putrinya tidak bisa mendapatkan hak waris?" tanya Evan berdiri


"Apa yang kau tau tentangku?" tanya Lista menatap Evan


"Benar apa kau lupa bagaiamana mama selalu memanjakan kamu dan merawatmu?" tanya Citra


"Merawatku yang bagaimana, dan bagaimana cara mama memanjakanku?" tanya Lista


"Aku satu minggu hanya diberikan uang dua ratus ribu, sedangkan kau satu minggu bisa menghabiskan uang lebih dari sepuluh juta. Bagaimana cara mama memanjakanku?" tanya Lista mengingat semua ketidak adilan pada dirinya


"Mama melakukan ini juga demi kebaikanmu" ucap Ratna sedikit panik


"Kebaikanku atau kebaikan kakak" ucap Lista


"Mama selalu memberikan barang baru pada kakak, tapi aku selalu mendapat barang sisa dari kakak" ucap Lista menangis


"Tapi kau juga harus menunjukkan rasa terimaksih mu pada mama yang merawatmu" ucap Evan lagi


"Lebih baik kau tutup mulutmu itu" ucap Arvin


"Oh, apa kau memang sengaja menikah dengan Lista agar kau bisa menjadi wali Lista, dan mendapatkan hak waris Lista?" tanya Evan menunjuk Arvin


"Untuk apa aku sengaja menikahi Lista hanya untuk warisan yang tidak seberapa dengan aset pribadiku" ucap Arvin menatap Evan


Tiba-tiba saja, beberapa orang berpakaian serba hitam, bertubuh tegap mengelilingi Evan, dan tentu saja itu membuat Evan bingung


"Kurung dia, biarkan bos kalian yang akan Mengintrogasinya" ucap Arvin kepada pria berbadan tegap itu


"Baik tuan" ucapnya


"Tunggu kenapa kau membawa suamiku?" tanya Citra


"Dan" ucap Arvin. Daniel yang tau pun langsung membawa nyonya mudanya masuk mobil


Begitupun dengan pengacara dan asisten Haidar juga langsung keluar dari kediaman Dhitama


"Sebaiknya kau berdoa, agar kau tak terlibat dalam kecelakaan papamu" ucap Arvin menatap Citra


Citra merasa ketakutan akan tatapan Arvin yang begitu menusuk bagai pisau


Arvin keluar di bantu oleh salah satu pengawalnya


"Untuk apa punya suami kaya, jika cacat" ucap Citra mencibir Arvin


"Plaak" sebuah tamparan melesat pada pipi Citra


"Kau"


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2