
Di perusahaan...
"Kita sudah menstabilkan saham perusahaan" ucap Juan lega
"Vin, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Reyhan yang melihat Arvin berbeda dari biasanya
Arvin menghela nafasnya
"Aku akan bercerai dengan Lista" ucap Arvin pelan, Reyhan yang saat itu sedang minum tiba-tiba menyemburkan airnya
"Ke...kenapa kau tiba-tiba ingin bercerai?" tanya Reyhan
"Aku rasa ada seseorang di hatinya" ucap Arvin pelan
"Lalu kenapa jika ada orang lain di hatinya, bukankah pernikahan kalian ini hanya kontrak, jadi tak masalah kan" ucap Reyhan sengaja
"Lalu kau, apa di hatimu ada orang lain?" tanya Juan, Arvin menggelengkan kepalanya
"Sejak kejadian hari itu, tiba-tiba saja perasaanku pada Lista berubah" ucap Arvin
"Kejadian, kejadian apa?" tanya Juan
"Aku sudah merenggut kesuciannya" ucap Arvin
"Apa?" ucap Juan dan Reyhan bersama
"Ba...bagaimana kau bisa... "ucap Reyhan terhenti
Arvinpun menceritakan semuanya pada Juan dan Reyhan, dan juga kecemburuan dirinya pada Darren dan juga teman kampus Lista
"Tunggu, jadi kau memaksa Lista melakukan itu?" tanya Reyhan, Arvin mengangguk
"Bagaimana kau bisa tau kalau Darren memiliki perasaan pada Lista?" tanya Juan menyelidik
"Jangan bilang kau percaya dengan ucapanku?" tanya Reyhan
"Apa yang kau katakan?" tanya Juan, Reyhan tertawa kecut pada Juan
"Aku mengatakan, bahwa Darren tertarik pada Lista" ucap Reyhan
"Tuuk, dasar bodoh" ucap Juan memukul kepala Reyhan dengan sendok yang dia pegang
"Hei, kalau aku bodoh aku tidak akan menjadi dokter" ucap Reyhan sambil menggosok kepalanya
"Itu karena keluargamu pemilik rumah sakit itu" sahut Juan
"Sial" umpat Reyhan kesal
"Vin, kau pikirkan lagi untuk bercerai dengan Lista" ucap Juan
"Aku tidak ingin bercerai, tapi Lista sendiri yang mengubah jangka waktu menjadi enam bulan" ucap Arvin
"Itu karena kau tak memberikan kepastian pada Lista" ucap Reyhan
"Aku sudah mengatakan, akan membuka lembaran baru dengannya, tapi dia menolak" ucap Arvin menyandarkan dirinya dengan kasar
"Kau mau mulai dari awal dengannya, apa kau sudah membuang masa lalumu?" tanya Juan, Arvin diam tak menjawab
.
"Bian kau?" ucap Daniel saat melihat Bian
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bian terkejut
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau yang disini?" tanya Daniel dengan menodongkan pistol pada Bian
"Apa maksudmu Daniel?" tanya Bian bingung
"Apa kecurigaan ku selama ini benar" ucap Daniel
"Kau mencurigaiku?" tanya Bian menatap Daniel
__ADS_1
"Benar, aku selalu mengikuti gerak gerik mulai dari CCTV rumah tuan muda" jawab Daniel pada intinya
"Apa kau pikir aku akan menghianati tuan muda, aku masih waras Daniel" ucap Bian membalikkan badannya
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi Bian?" tanya Daniel yang masih tetep pada posisinya
"Jika kau ingin tau, ikut denganku" ucap Bian berjalan lebih duludulu, Daniel menyimpan kembali pistolnya dan mengikuti langkah Bian
Tak jauh dari jalan setapak itu, Daniel melihat sebuah bangunan yang kecil namun sangat bersih
"Tempat apa ini?" tanya Daniel melihat sekelilingnya
"Inilah tempat dimana aku mengawasi musuh" jawab Bian
"Musuh, maksudmu?" tanya Daniel masih tak mengerti
"Aku tau, seseorang sedang mengincar keluarga Prasetya, makanya aku diam-diam menyelidiki sendiri. Karena aku yakin, mereka pasti menyerang perusahaan tuan muda" ucap Bian
"Jadi kau mematai mereka tanpa sepengetahuan tuan muda?" tanya Daniel
"Benar.Karena beberapa hari ini aku melihat ada mobil yang selalu terparkir di depan rumah tuan muda, namun saat aku membuka gerbang mobil itu segera pergi" jawab Bian menjelaskan
"Lalu apa kau tau siapa dalang ini semua?" tanya Daniel
"Ini hanya perkiraan ku" ucap Bian, lalu Bian membisikan sesuatu pada Daniel
"Apa kau yakin, aku rasa tidak mungkin" ucap Daniel tak percaya
"Kita tidak tau isi hati manusia" ucap Bian mengangkat bahunya
.
.
Darren yang saat itu terus berada di samping Lista, segera mengantar Lista pulang
"Kak, apa aku tidak merepotkan kak Darren?" tanya Lista
"Lista, bolehkah aku bertanya?" tanya Darren
"Apa kak?" tanya Lista
"Apa kau mencintai Arvin?" tanya Darren, Lista diam tak menjawab
"Kak, lihatlah ada penjual batagor, bisakah kita mampir sebentar?" tanya Lista yang sengaja mengalihkan topik. Darren yang tau maksud Lista pun tak lagi bertanya
Darren pun segera menepikan mobilnya, dan turun untuk membalikan batagor Lista
Tak berapa lama, Darren pun kembali memberikan batagor itu pada Lista. Darren pun segera kembali melajukan mobilnya
Setelah sampai rumah, Lista segera masuk ke kamar mengunci pintu kamarnya dan bersandar pada pintu kamarnya
"Mas Arvin, kenapa aku semakin takut kehilanganmu" ucap Lista yang mengingat perkataan ketiga sahabatnya itu
Flasback On
Saat di kampus, Lista terlihat lebih diam dari biasanya. Ketiga sahabatnya yang melihatnya pun merasa bingung dengan sikap Lista hari ini
"Lis, kamu kenapa?" tanya Cantika, Lista hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Lista, bukankah kita sudah berjanji tidak akan ada rahasia lagi" ucap Viona
"Beberapa hari ini aku sengaja menghindar dari mas Arvin" ucap Lista
"Kenapa?" tanya Risa
"Aku tidak ingin semakin dalam mencintai mas Arvin" ucap Lista
"Apa kau sudah mencintai Arvin?" tanya Risa, Lista mengangguk
"Aku tau, di hati mas Arvin ada wanita lain. Aku tidak mau cinta bertepuk sebelah tangan" ucap Lista
__ADS_1
"Bagaimana kau tau jika bertepuk sebelah tangan?" tanya Viona
"Di ruang kerjanya masih ada foto mantan mas Arvin, dan juga masih banyak kenangan mantan mas Arvin disana" ucap Lista
"Lista, kau salah jika kau menghindari Arvin. Seharusnya kau tanyakan padanya dengan jelas tentang perasaannya padamu" ucap Risa
"Lagipun kalau kamu semakin menghindar maka akan semakin besar juga rasa cinta dan rindumu pada Arvin" sambung Risa, yang membuat Viona dan Cantika saling pandang
"Kenapa kalian menatapku?" tanya Risa
"Kau jomblo, tapi kau tau masalah hati" ucap Viona
"Karna aku jomblo jadi lebih tau, puas" ucap Risa yang membuat Lista tertawa pelan
"Saranku, temui dia dan tanyakan dengan jelas" Viona
Flashback Off
"Mas Arvin akankah kau akan melepas cinta pertama mu dan memilhku?" ucap Lista yang masih menangis
.
.
Di markas Arya, ketiga anak buah Daniel sudah berada di tempat eksekusi milik Arya
Tanpa bertanya Arvin sudah tau siapa pria yang mereka bawa itu
"Ck, ck, ck sungguh sial sekali nasibmu" ucap Arya tersenyum miring
"Lepaskan, apa yang kalian lakukan?" tanya pria itu memberontak
"Masukkan saja dia ke ruang bawah tanah. Biarkan dia merasakan kegelapan disana" ucap Arya
"Baik tuan muda" jawabnya
Lalu Arya meraih ponselnya dan menghubungi seseorang
"Hai tuan muda, apa kau tak akan datang kemari dan melihat anjing yang asistenmu tangkap" ucap Arya
"Bagus, aku akan segera kesana" ucapnya datar dan langsung mematikan ponselnya
"Sial, dasar raja iblis" umpat Arya kesal
Sekitar satu jam, Arvin dan kedua sahabatnya datang ke markas Arya dan disusul juga oleh Darren
"Darren dari mana kau?" tanya Juan
"Dari kampus" jawab Darren datar
"Hei ada apa denganmu, kau terlihat kacau?" tanya Reyhan menepuk bahu Darren
"Tidak apa, aku hanya lelah" ucap Darren memejamkan matanya
"Vin, bagaiamana dengan perusahaanmu?" tanya Darren
"Apa urusannya denganmu?" tanya Arvin dingin membuat Darren bingung dan menatap Arya, Arya hanya mengangkat bahunya
"Darren, bagaimana keadaan kampus, apa mereka tak membuatmu repot?" tanya Reyhan memecah keheningan
"Mereka bukan anak tk, untuk apa membuatku repot" jawab Darren
"Darren, apakah Viona sering di goda oleh pria disana?" tanya Reyhan, membuat Juan dan Arya geli
"Aku tidak tau" jawab Darren
"Kau kan dosen, kenapa bisa tidak tau?" tanya Reyhan
"Walau dia dosen, dia tidak akan memperhatikan Viona" ucap Juan kesal
"Bagaimana dengan Lista, apa kau juga tak memperhatikannya?"
__ADS_1
**Bersambung**