Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 19


__ADS_3

"Jadi jangan benci aku, jangan menghindar dari aku, Aku tidak tahan jauh dari kamu" ucap Arvin memeluk Lista


"Lalu, apa kau bersedia memulai dari awal denganku?" tanya Arvin, Lista menatap mata Arvin dan mengangguk pelan


"Terimakasih, terimakasih Lista" ucap Arvin mengecup kening Lista dengan lembut


Bi Ani dan bi Ina yang melihat Arvin dan Lista sudah bisa saling menerima merasa senang dan turut bahagia


"Mbak, kayaknya bentar lagi bakal ada tangisan bayi" ucap Ina berbisik


"Iya ya, kita harus kasih kabar baik ini pada nyonya" ucap bi Ani girang


"Tentu mbak, gimana bahagianya nyonya ya mbak. Kita aja bahagia melihat nyonya muda dan tuan muda bersatu" ucap Ina


"Iya" ucap Ani tertawa pelan


Namun beberapa saat kemudian, bi Ani dan bi Ina mencium bau sesuatu yang tidak asing


"Na, kok kayak bau gosong ya Na?" tanya bi Ani


"Astaga mbak, aku goreng ikan" ucap bi Ina lsntang dan segera kedapur


Arvin dan Lista segera menengok ke arah kedua bibi, Lista menutup wajahnya malu


Karena saat itu, Arvin mencium bibir pink Lista dengan lembut


"Mas, apa bibi sudah dari tadi di sana?" tanya Lista menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya


"Aku juga tidak tau" jawab Arvin


"Bi Ani" panggil Arvin, dan Lista segera turun dari pangkuan Arvin sambil menunduk


"Iya tuan ada apa?" tanya bi Ani sedikit takut kena marah tuan mudanya itu


"Pindahkan Barang-barang nyonya dikamar utama" ucap Arvin, Lista menatap Arvin terkejut


"Ke...kenapa di pindah?" tanya Lista gugup


"Iya sayang, mulai sekarang kita harus tidur satu kamar" jawab Arvin, membuat bi Ani tersenyum mendengar perkataan Arvin


Sedangkan Lista makin menjadi salah tingkah, dia segera berlari ke arah kamarnya dan menutup pintunya dengan keras


"Bi, apa aku salah bicara?" tanya Arvin menatap bi Ani


"Tidak tuan, hanya saja saat ini nyonya muda sedang malu" ucap bi Ani terkekeh, sedang Arvin hanya tersenyum senang


.


.


Di tempat lain


"Kita harus segera menculik Lista" ucap pria paruh baya itu


"Aku akan membawa Lista keluar negri" ucap pria muda itu tenang


"Tidak bisa, kau harus membunuhnya" ucap Citra cepat. Pria itu menatap Citra tajam


"Eemm, mak... maksudku kalau kau tak membunuhnya, kita akan gagal" ucap Citra sedikit takut dengan tatapan pria itu


"Yang dikatakan Citra benar. Arvin memiliki banyak koneksi, jika kau membawanya keluar negri, dia akan mudah menemukan kamu" ucap Pria paruh baya itu


"Aku tidak bisa membunuhnya, aku mencintainya" ucap prai itu dengan pantang


"Apa yang kau suka dari Lista, apa selama ini dia melihat kearahmu?" tanya Citra sedikit emosi


"Aku tidak perduli dia mau melihatku atau tidak, yang aku tau aku sangat mencintainya" ucapnya dan mendorong Citra hingga tersungkur


"Baiklah lakukan sesuai keinginanmu" ucap pria paruh baya itu mengalah


"Baik pa" jawabnya dan segera pergi


Citra yang mendengar perkataan pria paruh baya itu semakin mengeratkan giginya. Bagaimanapun Lista harus mati ditangannya

__ADS_1


"Tuan kenapa kau menyetujuinya?" tanya Citra


"Kau tenang saja, untuk saat ini kita mengalah pada putraku yang sedang di mabuk cinta itu" ucap pria paruh baya itu tersenyum licik


.


.


Malam harinya, bi Ani dan bi Ina menyiapkan banyak makan malam


"Bi kenapa banyak sekali, apa akan ada tamu?" tanya Lista


"Saya tidak tau nyonya, tuan yang meminta untuk menyiapkan beberapa hidangan" jawab bi Ina


Lista yang bingung kembali ke kamarnya dan mencari suaminya


"Mas, kenapa kamu meminta banyak hidangan pada bibi, apa akan ada tamu?" tanya Lista panjang lebar


"Apa kau ingin tau?" tanya Arvin, Lista memgangguk


Arvin menggerakkan jari telunjuknya agar Lista menghampirinya, Lista pun mendekati Arvin dengan wajah Lista sudah dekat dengan wajah Arvin


Tanpa menjawab Arvin menarik tengkuk Lista dan mencium bibirnya sebentar


"Aku butuh jawaban bukan ciuman" ucap Lista cemberut, membuat Arvin terkekeh


"Kau akan tau nanti" ucap Arvin menarik Lista di pangkuannya


"Kau curang" ucap Lista yang mengembungkan pipinya membuat Arvin tak tahan ingin melahap bibir mungil Lista


"Jika wajahmu seperti itu, aku tidak yakin bisa menahan sesuatu yang seharusnya berada di tempatnya" ucap Arvin melirik bawah membuat Lista segera berlari dari kamar


Saat Lista sedang menonton TV diruang keluarga, tiba-tiba dia mendengar suara bel pintu rumahnya


Lista segera berlari dan membuka pintu


"Surprise" ucap ketiga sahabatnya itu


"Kalian?" ucap Lista terkejut


"Aku yang meminta mereka kemari" jawab Arvin


"Maksudnya?" tanya Lista tak mengerti


"Anggap saja hari ini, hari bersejarah bagi kita. Aku mengundang mereka untuk merayakan kebahagiaan kita" ucap Arvin lembut sambil menggenggam tangan Lista


"Cih" umpat Arya tiba-tiba muncul


"Hai aku Arya. Aku sahabat sekaligus sepupu Arvin" ucapnya sambil megedipkan matanya


"Aku tidak keberatan membuat matamu keluar, jika kau memandangi istriku" ucap Arvin dingin sambil menatap Arvin


"Sial" umpat Arya mendengus


Lista melihat ketiga sahabatnya juga Juan dan Reyhan, namun Lista tak melihat keberadaan Darren


"Kak Darren mana?" tanya Lista membuat Arvin kesal mendengarnya


"Darren tidak datang, dia takut pada Arvin" ucap Reyhan cekikikan


"Takut kenapa?" tanya Lista menatap Arvin


"Plak" tiba-tiba Viona memukul lengan kekasihnya itu


"Pak Darren sedang ada urusan. Jadi dia tidak bisa ikut" ucap Viona, sambil melotot pada Reyhan


Reyhan hanya senyum kecut sambil menggosok tengkuknya tak gatal, karena mendapat tatapan dari Juan dan Arvin


"Ya sudah ayo masuk" ucap Lista dan mendorong kursi roda Arvin menuju ruang keluarga


"Aku akan keruang baca dulu, kau bisa ajak temanmu berkeliling" ucap Arvin, Lista mwnganggukkan kepalanya


"Vin, sebenarnya ada hal apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Juan saat berada di dalam ruang baca

__ADS_1


Saat Arvin akan menjawab, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang baca Arvin


"Masuk" ucap Arvin datar


Terlihat Bian dan Daniel yang baru saja datang dengan membawa beberapa berkas di tangan mereka


"Maaf tuan muda, ini informasi yang saya dapatkan" ucap Bian


"Bian aku fikir kau akan menghianati Arvin" ucap Arya


"Maafkan saya tuan muda, tapi saya tidak akan pernah menghianati keluarga yang sudah membantu saya dan keluarga saya" ucap Bian tegas dan jujur


"Aku salut padamu Bian, tapi jika kau menyelidiki sesuatu tanpa sepengetahuan ku lagi, aku akan memotong semua gajimu" ucap Arvin tajam


"Jika dalam situasi seperti saat ini, saya akan melakukan hal yang sama" jawab Bian lagi tanpa takut


Arvin dan Arya tersenyum miring mendengar perkataan Bian itu


"Terimaksih kau sudah setia pada keluargaku" ucap Arvin


Semua teman dan asisten Arvin di buat terkejut kembali saat kata-kata yang tidak pernah Arvin ucapkan itu keluar dari mulut tajam Arvin


"Ada apa, apa ada yang salah dengan kata-kata ku?" tanya Arvin menatap tajam


"Tidak ada" jawab ketiganya cepat


"Daniel" ucap Arvin menatap Daniel


"Baik tuan muda, ini informasi yang anda inginkan" ucap Daniel. Arvin membuka berkas dari Daniel


"Jadi mereka berada di Amerika?" tanya Arvin


"Benar tuan, dan saya juga sudah berunding dengannya, tapi dia menolak" ucap Daniel


"Kenapa dia menolaknya?" tanya Arvin mengerutkan keningnya


"Dia tidak memberi alasan yang pasti, tapi dia memberikan saya ini" ucap Daniel sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Arvin


Arvin lansung membukanya, tiba-tiba mata Arvin terbelalak saat membaca surat itu


"Apa yang dia katakan?" tanya Arya, Arvin memberikan surat itu pada ketiga sahabatnya


Sedang disisi lain..


Lista membawa ketiga sahabatnya untuk berkeliling rumah dan akhirnya mereka berhenti di taman belakang


"Lista, apa kau yakin akan memberikan Arvin kesempatan?" tanya Cantika, Lista mengangguk


"Apapun pilihan kamu, kita akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu" ucap Viona lembut


"Terimakasih" ucap Lista


"Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku" ucap Lista


"Apa?" tanya Risa


"Setelah kepergian papa, aku tidak pernah mendengar kabar mama dan kak Citra" ucap Lista


"Untuk apa kau bertanya tentang mereka yang tak perduli dengan hidup dan matimu" jawab Viona geram bila mengingat perlakuan ibu dan anak itu


"Tapi bagaimanapun mereka juga keluargaku" jawab Lista


"Kau sendiri yang menganggap mereka keluarga, sedang mereka menganggapmu sampah" ucap Cantika, Lista diam menunduk


Memang benar, apa yang di katakan meraka semua benar, tapi bagaimanapun Lista masih menganggap mereka keluarga


"Dia tidak akan bisa, karena Lista memiliki hati yang lembut dan hangat. Buktinya dia bisa mencairkan hati tuan muda Prasetya yang kaku dan dingin" ucap Risa membuat Lista tersenyum malu dan membuat ketiga sahabat Lista tertawa


Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi mereka dengan tatapan penuh kebencian dan dendam


**Bersambung**


Ayo kak bantu like komen dan vote ya kak supaya semangat kak

__ADS_1


Untuk yang sudah like Terimakasih karena sudah mampir


__ADS_2