
"Siapa yang mengambil foto ini?" tanya Reyhan dengan wajah serius, membuat semua terkejut
"Aku" jawab Lista sedikit gugup, Reyhan berdiri dari duduknya menghampiri Lista
Dan...
"Bruuk" tiba-tiba Reyhan berlutut di hadapan Lista
"Terimaksih Lista kau sudah menyadarkanku, bahwa Juan tidak pantas untukku" ucap Reyhan yang membuat Juan kesal
"Sial, apa kau pikir kau baik untukku. Kenapa pria bodoh sepertimu lulus menjadi dokter?" ucap Juan kesal yang membuat mereka semua tertawa
.
.
Setelah sarapan...
"Lista kita pulang dulu ya" ucap Viona memeluk Lista dan disusul Risa dan Cantika
"Iya kalian hati-hati ya" ucap Lista
"Tante kami pamit pulang dulu" ucap Viona
"Iya sayang, main-main lagi ya" ucap Elin memeluk Viona, Cantika dan Risa
"Siap tante" ucap Risa dan Cantika bersama
"Sayang aku berangkat dulu, kau jangan keluar rumah" ucap Arvin mencium kening istrinya
"Iya mas" jawab Lista
"Bian jaga nyonya, tanpa izin dariku jangan keluar dari rumah" ucap Arvin menatap Bian
"Baik tuan muda" ucap Bian mengangguk
"Papi gak ke kantor?" tanya Elin pada suaminya
"Nanti saja, papi masih ada yang harus dikerjakan dirumah" ucap Ramon
"Kalian hati-hati ya" ucap Ramon
Setelah itu, keadaan rumah pun menjadi sepi. Lista pergi ke taman rumah mami yang penuh dengan berbagai macam bunga
"Indah sekali" ucap Lista
"Selamat pagi nyonya" tiba-tiba seorang wanita menyapa Lista, Lista melihat ke asal suara itu
"Bi Ani bi Ina, Lista merindukan kalian" ucap Lista memeluk kedua bibi itu
"Sama bibi juga rindu sama nyonya" ucap Bi Ina
"Kenapa bibi kemari?" tanya Lista
"Tuan muda meminta kami untuk tinggal di rumah utama" jawab bi Ani
"Beneran, wah jadi rame dong" ucap Lista terlihat senang
"Wah perut nyonya sudah mulai kelihatan" ucap bi Ani yang mengelus perut Lista
"Iya bi" ucap Lista nyengir kuda
.
.
.
Sedangkan di perusahaan Wijaya grup, Daniel sudah menyiapkan ruang rapat. Ternyata selama ini, Daniel yang memegang kendali atas perusahaan Wijaya grup atas permintaan Arvin
Tak lama setelah itu, para pemegang saham perusahaan Wijaya grup sudah berdatangan
__ADS_1
"Bagiamana Juan, apa ada pergerakan dari Reki?" tanya Arvin berbisik
"Aku yakin sebentar lagi dia akan tiba" ucap Juan terseyum simpul
Tiba-tiba ponsel Arvin berdering tertera nama Darren disana
" Arvin berhati-hatilah, Reki menuju kesana, tapi dia bersama seseorang" ucap Darren
"Siapa dia, apa kau bisa melihat orang itu?" tanya Arvin
"Tidak, tapi sepertinya orang yang berada di belakang Reki bukan orang sembarangan" ucap Darren
"Baik aku mengerti" ucap Arvin mematikan ponselnya
"Ada apa?" tanya Juan
"Darren memberi tau kalau Reki sudah menuju kemari dengan membawa seseorang" ucap Arvin
"Kau pergilah ke dalam, aku akan berada di luar" ucap Juan
"Baiklah" ucap Arvin
.
Disisi Reki...
"Sialan kau Arvin, kau mencuri saham milikku" ucap Reki geram
"Aku akan merebutnya darimu dan mendapatkan perusahaan papaku" ucap Reki mengepalkan tangannya
Reki melihat gedung yang pernah menjadi tempat bermainnya waktu kecil dulu. Tanpa sadar Reki meneteskan air matanya, bila dia mengingat saat kecil bersama papanya dan dia juga mengingat bagaimana dia membunuh papa kandungnya sendiri demi Lista, Pria di samping Reki menepuk bahu Reki seakan memberi dukungan padanya
Reki menghapus air matanya dan mengepalkan tangannya kuat saat melihat seorang pria paruh baya memasuki gedung itu
"Ramon, apa yang kau lakukan disini?" tanya Reki dengan tatapan kebencian
Ramon menengok ke arah suara itu dan melihat Reki di belakangnya
"Kau memiliki saham Wijaya grup?" tanya Reki terkejut
"Tentu saja, apa Doni tidak mengatakannya padamu?" ucap Ramon tanpa menatap Reki, amarah Reki tak terbendung lagi saat Ramon menyebut papanya
"Ini semua karena kau, kau yang membuat perusahaan papaku bangkrut" ucap Reki menatap Ramon tajam, Ramon hanya tersenyum simpul
"Doni pria yang serakah, sehingga dia membeli beberapa tanah yang merugikan dirinya sendiri" ucap Ramon berbalik badan dan pergi dari hadapan Reki
"Ramon aku akan merebut semua yang pernah kau rebut dariku" ucap Reki lantang
"Aku akan membantumu, seperti perkataan tuan Athan" ucap pria disamping Reki itu dan segera masuk kegedung Wijaya Grup
Saat sampai disana, ruang rapat telah penuh dengan para pemegang saham Wijaya Grup
"Reki untuk apa kau kemari?" tanya Arvin yang pura-pura tidak tau tentang kedatangan Reki
"Aku yang harusnya bertanya pada mu, kenapa kau dan pria tua ini berada din di perusahaanku?" tanya Reki melihat sekelilingnya yang menantap Reki aneh
"Kembalikan saham milikku" ucap Reki menggebrak meja itu
"Saham apa yang kau maksud?" tanya Arvin tenang
"Aku tau saham yang di tinggalkan oleh papaku ada padamu" ucap Reki
"Kalau memang iya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Arvin menatap tajam Reki
"Tentu saja aku akan mengambilnya dan merebut perusahaan milik papaku" ucap Reki lantang
"Untuk apa kau merebut perusahaan yang bukan milikmu" ucap salah satu pemegang saham A
"Tapi papaku yang membesarkan perusahaan ini, apa kalian lupa?" tanya Reki geram
"Tidak kami tidak lupa, Tapi kami lebih ingat dimana Doni Wijaya menggunakan uang perusahaan untuk membeli tanah yang tak berguna itu" ucap si A
__ADS_1
"Iya, kalau Doni Wijaya tidak serakah, kami juga tidak akan hidup sengsara. Tapi untung saja tuan muda Prasetya memegang kendali perusahaan ini" ucap pemegang saham C
"Kalian tau apa, dia bukan pemegang saham Wijaya grup" ucap Reki
"Kau salah besar, Tuan muda Prasetya memiliki saham Wijaya grup 30% dan tuan besar Prasetya 25%" ucap Daniel angkat bicara
"Apa? tidak mungkin, papaku tidak pernah mengatakannya" ucap Reki tak percaya
"Percaya atau tidak, itulah kenyataannya" ucap Daniel
"Sekarang Wijaya Grup sudah menjadi anak perusahaan Prasetya Corp" ucap pemegang saham B
"Aku tidak bisa menerima semua ini" ucap Reki lantang
"Terima atau tidak, semua pilihan sudah ditentukan, saham milikmu hanya 10% kau tidak bisa berbuat apa-apa?" ucap Ramon tersenyum smirk
"Aku akan membunuh kalian" ucap Reki yang ingin menghajar Arvin
"Buugh" Tiba-tiba Juan memukul kepala Reki hingga dia tak sadarkan diri
"Maaf mengganggu rapat kalian, saya akan membawa dia ke ruang perawatan" ucap Juan sambil memberikan isyarat pada Arvin
" Maafkan atas kejadian tadi, mari kita lanjutkan rapatnya" ucap Ramon
.
Juan dan Ryo membawa Reki masuk ke mobil dan membawanya kembalike markas Arya
"Pria itu bagaimana?" tanya Juan
"Dia masih pingsan tuan" jawab Ryo
"Dimana dia sekarang?" tanya Juan
"Di bagasi belakang tuan" ucap Ryo menatap Juan dari spion depan
"Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita" ucap Ryo, Juan melihat kebelakang
"Sial, Ryo lebih cepat" ucap Juan
Ryo menginjak pedal gasnya dan melaju lebih kencang
"Ryo belok kanan dan di depan ada persimpangan belok kiri" ucap Juan yang masih melihat ke belakang
"Tuan sepertinya ini jalan buntu" ucap Ryo
"Ikuti saja jalan ini, nanti kita akan bertemu dengan jalan utama lagi" ucap Juan, Ryo menuruti perkataan Juan dan benar saja mereka berada di jalan utama
"Sial, bagaimana mereka masih bisa mengejar kita" ucap Ryo
"Pasti di tubuh mereka tertanam alat pelacak" ucap Juan
"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?"tanya Ryo
"Tidak ada jalan lain, kita gunakan cara lama" ucap Juan, Ryo membelokkan mobilnya dan terus mengikuti jalan tersebut
Sementara itu...
"Bos kita kehilangan jejak" ucap salah satu pria di mobil yang mengikuti Juan
"Lacak lagi jangan sampai kita dibunuh oleh tuan" ucap si bos tersebut
"Ketemu" ucap pria tadi dan langsung mengikuti sinyal alat pelacak itu
"Itu mobilnya, cepat kejar, kalau bisa tabrak saja mobil itu" ucap si bos yang melihat mobil Juan
Pria itu langsung menancap gas dan melaju lebih kencang
"Braakk"
**Bersambung**
__ADS_1