Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 38


__ADS_3

"Tuan muda mengalami kecelakaan" ucap Bian


"Listaa" teriak Elin yang melihat Lista tiba-tiba ambruk, untung saja Bian sigap menangkap tubuh Lista


"Bian bawa kedalam" ucap Elin yang menggenggam tangan menantunya itu


"Maafkan saya tuan, ini kecerobohan saya" ucap Daniel menunduk merasa bersalah


"Bagaiamana keadaan Arvin sekarang?" tanya Ramon dingin


"Tuan muda masih di tangani oleh dokter Reyhan" ucap Daniel menunduk


"Bagaimana Arvin bisa kecelakaan?" tanya Ramon


"Maafkan saya tuan, saat kecelakaan itu saya tidak ada di samping tuan muda" jawab Daniel


"Siapa yang berani menyakiti putraku" ucap Ramon mengepalkan tangannya kuat


Sedangkan Elin dan Lula mencoba menyadarkan Lista yang tengah pingsan itu


"Mami tetap disini jaga Lista, aku akan kerumah sakit" ucap Ramon


"Lula ikut ya om" pinta Lula


"Kamu di rumah bersama tante dulu" ucap Ramon dan segera pergi ke rumah sakit


"Daniel, ikut aku" ucap Bian, Daniel mengikuti langkah Bian


"Apa yang terjadi?" tanya Bian


"Reki berhasil kabur" jawab Daniel


"Apa?" tanya Bian, lalu Daniel pun menceritakan semua pada Bian


"Reki dia sangat berbahaya, kita harus menemukan dia secepatnya" ucap Bian, Daniel mengangguk


Saat Bian dan Daniel keluar, dia mendapati Liata sudah tersadar dan menangis dipelukan mertuanya


"Nyonya muda, maafkan saya" ucap Daniel merasa bersalah pada Lista


"Bawa aku kerumah sakit, aku ingin melihat mas Arvin" ucap Lista


"Lista lebih baik kamu istirahat dulu ya, papi sudah berada di rumah sakit, kita tunggu kabar dari papi" ucap Elin lembut


"Lista tidak bisa menunggu mi, Lista ingin melihat keadaan mas Arvin" ucap Lista menangis tersedu-sedu


"Mami tau sayang, tapi kau juga harus ingat, kau tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran sayang" ucap Elin memeluk menantunya dengan sayang


"Apa yang di katakan tante benar kak, untuk sekarang kak Lista diam dirumah dulu" ucap Lula membatu Elin menenangkan Lista


"Lista mohon mi, biarkan Lista kerumah sakit" ucap Lista memohon, Elin tak kuasa melihat tangisan sang menantu


"Baiklah, Bian, Lula ayo" ucap Elin menuruti kemauan menantunya itu


Bian segera mengangguk dan pergi menuju garasi menyiapkan mobilnya


Sedangkan Daniel di bantu bibi menyiapkan beberpa keperluan Arvin dan bergegas ke rumah sakit


.


Sedangkan di rumah sakit...


"Ramon yang baru tiba di rumah sakit langsung di sambut oleh Juan yang berdiri sendiri di ruang operasi


"Om Ramon" sapa Juan


"Bagaiaman keadaan Arvin?" tanya Ramon


"Reyhan masih belum keluar" jawab Juan

__ADS_1


"Kenapa kau sendiri?" tanya Ramon


"Darren sedang mengejar mobil yang menyebabkan Arvin kecelakaan" jawab Juan


"Kurang ajar" ucap Ramon mengepalkan tangannya


Lalu terdengar suara pintu terbuka, Ramon segera menghampiri Reyhan


"Bagaiamana keadaan Arvin?" tanya Ramon


"Tidak ada luka yang serius om, hanya saja punggung Arvin terkena goresan kaca" ucap Reyahn, Ramon dan Juan bernafas lega mendengar perkataan Reyhan


"Papi, bagaimana keadaan mas Arvin?" tanya Lista berlari


"Lista kau jangan berlari, ingat kandunganmu masih rentan" ucap Juan khawatir


"Arvin tidak apa-apa, tidak ada luka yang serius" ucap Ramon menenangkan menatunya itu


Lista memeluk Elin dengan perasaan lega, mendengar Arvin tak mengalami luka serius


"Kau duduklah dulu, Reyhan akan memindahkan Arvin di ruang perawatan" ucap Juan yang membantu Lista duduk


"Syukurlah kalau kak Arvin baik-baik saja" ucap Lula menatap Elin, Elin mengangguk dan memeluk Lula


Cukup lama menunggu, Lista melihat Arvin yang dipindahkan ke ruang perawatan dan mengikutinya


Saat sampai di ruang perawatan, Lista menggenggam tangan suaminya dan menciumnya


"Mas, kenapa kamu bisa seperti ini" ucap Lista menangis melihat beberapa luka di tubuh Arvin


"Sayang sudah jangan nangis lagi, Arvin kan tidak apa-apa" ucap Elin


"Lista, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, ingat kamu sedang hamil" ucap Reyhan mengingatkan lagi


"Iya kak" jawab Lista


Setelah itu, Lista mulai tenang, dan dia duduk dikursi sambil menggenggam tangan Arvin


"Mas, cepatlah bangun" ucap Lista masih tak bisa menahan air matanya


"Lista istirahatlah, biar mami yang menjaga Arvin" ucap Elin lembut, Lista menggelengkan kepalanya


"Lista tidak apa-apa mi, biarkan Lista yang menjaga mas Arvin" ucap Lista


Papi memegang pundak istrinya dan menganggukkan kepalanya


"Baiklah, mami dan papi akan keluar sebentar mancari makan untuk kamu" ucap Elin lembut


"Iya mi" jawab Lista tak mengalihkan pandangannya pada Arvin


Setelah kepergian Elin dan Ramon, Reyhan, Juan dan Darren melihat keadaan Arvin


"Lista duduklah di sofa" ucap Reyhan, Lista menggelengkan kepalanya


"Kak, ada masalah apa sebenarnya, kak Arvin keluar di tengah malam?" tanya Lista, semua saling pandang


"Reki berhasil melarikan diri" jawab Juan


"Reki?" tanya Lista mengulang


"Reki bukan orang sembarangan, dia sangat berbahaya" ucap Darren


"Dia mampu membuat semua penjaga bawah tanah mati secara bersamaan" ucap Reyhan yang membuat Lista terkejut


"Apa seberbahaya itu Reki?" tanya Lista


"Dia sangat licik" ucap Reyhan


Lista masih menggenggam erat tangan Arvin, dan Lista merasakan tangan Arvin bergerak, dan perlahan Arvin membuka matanya

__ADS_1


"Mas Arvin, kamu sudah bangun?" tanya Lista berdiri


"Aku dimana?" tanya Arvin dengan suara lemah


"Kamu di rumah sakit mas" ucap Lista menghapus air matanya


"Arvin apa ada yang tidak enak?" tanya Reyhan, Arvin menggelengkan kepalanya


"Maafkan aku membuatmu khawatir" ucap Arvin membuat Lista kembali meneteskan air matanya, Lista menggelengkan kepalanya


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku, jika terjadi sesuatu pada mas Arvin" ucap Lista menangis


"Memang apa yang bisa terjadi pada raja iblis" ucap Reyhan membuat Darren dan Juan menatap horor Reyhan


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil" ucap Arvin mengelus rambut panjang Lista


"Sudah, kamu jangan menangis lagi, kasian baby kita" ucap Arvin mengelus perut Lista


"Ekhem... ekhem" dehem Juan dan Darren


Lista sedikit menjauh dari Arvin karena malu pada sahabat Arvin yang sedari tadi melihat kemesraan mereka


"Kak Arvin, kak Arvin sudah sadar?" tanya Lula berlari menuju ranjang Arvin, Arvin hanya mengangguk


"Vin, siapa dia?" tanya Reyhan


"Dia Lula, teman masa kecilku" jawab Arvin


"Kenapa kau tak mengenalkan dia padaku?" tanya Reyhan mendekati Lula


"Hai aku Reyhan" ucap Reyhan lembut


Lista memainkan matanya pada Reyhan, begitupun dengan Darren yang menyadari akan ada bahaya bagi Reyhan


"Ada apa dengan mata kalian?" tanya Reyhan enteng


"Oh jadi seperti ini kelakuan kamu di belakang aku, kamu suka menggoda para gadis?" tanya seorang wanita menjewer telinga Reyhan


"Sa...sayang tidak sayang kamu jangan salah paham" ucap Reyhan pada kekasihnya itu, siapa lagi kalau bukan Viona


"Salah paham gimana, aku melihatnya dengan jelas" ucap Viona kesal


"Sayang jangan marah ya, aku minta maaf" ucap Reyhan, yang dapat tatapan sinis dari Viona


"Mangkanya Rey, kalau sudah ada pawangnya jangan main-main lagi dah" ucap Juan


"Sialan kenapa kalian tidak bilang?" tanya Reyhan menatap Juan


"Aku sudah memberi tau kak Reyhan, tapi malah kak Reyhan yang tidak peka" ucap Lista


"Sayang maafkan aku ya" ucap Reyhan


"Jangan bicara padaku" ucap Viona ketus, membuat semua tertawa


"Kemana Cantika dan Risa?" tanya Lista


"Mereka sedang ada acara, nanti mereka akan datang" jawba Viona


"Sayang, maafkan aku ya" ucap Reyhan


"Jangan bicara padaku sampai minggu depan" ucap Viona kesal


"Kakak kekasihnya dokter Reyhan?" tanya Lula, Viona mengangguk


"Kok kakak mau sama dokter Reyhan. Kakak kan cantik" ucap Lula membuat Juan dan Darren tertawa lepas


"Aw, mas perutku sakit" ucap Lista meringis


"Lista"....

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2