Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 66


__ADS_3

Sekitar jam dua dini hari, Ponsel Reyhan tiba-tiba berdering dengan begitu nyaring membuat Reyhan kesal


"Siapa sih malam-malam begini telphon" ucap Reyhan tanpa melihat ponselnya


"Halo siapa?" ucap Reyhan


Mendengar perkataan dari seseorang di balik telphonnya, Reyhan segera bangkit dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi


Setelah itu, Reyhan berganti pakaian dan segera menuju garasi dan menjalankan mobilnya


Reyhan langsung membelah jalanan yang sepi dengan kecepatan penuh, untuk segera bisa sampai di tempat tujuannya


"Dokter, untung saja anda segera datang" ucap salah satu perawat di rumah sakit itu


"Bagaimna kondisi mereka?" tanya Reyhan sambil terus berjalan menuju ruangannya untuk mengganti pakaiannya


"Mereka sudah meninggal dunia, tapi ada yang masih di IGD" jawab perawat pria itu


"Kau sudah menghubungi dokter yang lain?" tanya Reyhan


"Sudah dokter" jawabnya


"Dokter Reyhan" sapa dokter Aldi


"Bagaimna kondisi mereka?" tanya Reyhan


"Sangat buruk dokter" jawab dokter Aldi


Reyhan segera menuju ruang IGD dan memeriksanya


"Sepertinya wanita ini tidak akan bisa selamat" ucap Reyhan menyentuh leher wanita itu, dokter Aldi mengangguk


"Dok...Dokter" tiba-tiba seorang pria menggenggam tangan Reyhan


Reyhan menghampiri pria itu dan mendekatinya


"To...tolong, ban...tu a... ku" ucapnya terbata-bata


"Apa yang bisa saya bantu tuan?" tanya Reyhan sambil menekan pergelangan tangan pria itu dengan dua jarinya


"To...tolong, sa...saya ing...in ber... bertemu dengan an...anak sa.. ya" ucap pria itu memberikan foto pada Reyhan


"Dia sekarang berada di mana tuan?" tanya Reyhan, pria itu menggeleng dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya


"Tuan, tenang saja. Saya akan mencari anak anda dan membawanya kemari" ucap Reyhan, pria itu mengangguk


.


.


Di kediaman utama Prasetya...


"Tidaak, Ayaaah"


"Rahsya ada apa sayang?" tanya Lista memeluk Rahsya


"Mami, Rahsya bermimpi kalau ayah Rahsya sudah mati" ucapnya


"Sayang, itu hanya mimpi. Sudah sekarang kamu tidur lagi ya" ucap Lista


"Tapi Rahsya takut mam" ucapnya


"Sudah sekarang Rahsya tidur, mami akan menemani Rahsya" ucap Lista membaringkan Rahsya


"Terimaksih mami" ucap Rahsya


Di sisi Arvin...


Arvin yang berbalik dan ingin memeluk istrinya tiba-tiba terbangun karena dia tak melihat Lista disampingnya


"Sayang" panggil Arvin dan segera turun dari tempat tidur untuk mencari istrinya


"Lista, kamu dimana?" panggil Arvin, lalu dia menuju kamar Rahsya


Melihat Lista memeluk Rahsya dengan erat, Arvin tersenyum. Lalu dia ikut masuk kedalam selimut dan tidur bertiga disana

__ADS_1


.


Keesokan paginya, Arvin membuka matanya dan pertama kali yang dia lihat adalah wajah putranya yang lucu itu


"Daddy, ini sudah siang. Mami sudah menyiapkan sarapan" ucapnya


"Hemmh, iya sayang. Sebentar lagi daddy bangun" ucap Arvin menepuk kepala Rahsya


"Cepat daddy bangun, jika mami melihat daddy masih tidur, daddy akan kena marah mami" ucap Rahsya


"Iya, ini daddy bangun" ucap Arvin duduk dan segera kembali ke kamarnya


"Rahsya, daddy mu sudah bangun?" tanya Lista


"Sudah mi, daddy sudah kembali ke kamarnya" ucap Rahsya


"Ayo kamu turun dulu, di bawah sudah ada kakek dan nenek, mami masih mau bantu daddy bersiap-siap" ucap Lista


"Siap mami" ucap Rahsya dan segera menuju meja makan


"Selamat pagi kakek nenek" sapa Rahsya


"Selamat pagi sayang, sini cucu kakek duduk di sini" ucap Ramon yang memberikan tempat duduk ditengah


"Di mana mami mu?" tanya Elin


"Mami sedang membantu daddy" jawabnya


"Hah, kebiasan Arvin sangat manja pada istrinya" ucap Elin


"Kenapa mi, mami mau papi manja ke mami?" tanya Ramon


"Enggak, kita itu sudah tua. Lihat ini sudah punya cucu" ucap Elin membuat Ramon tertawa kecil


"Nanti Rahsya mau kemana sama mami?" tanya Elin


"Kata mami, Rahsya mau di kenalin ke teman mami sama daddy, terus mau mencari perlengkapan untuk sekolah" jawab Rahsya


"Wah Rahsya mau sekolah?" tanya Ramon


"Nanti kalau di sekolah, Rahsya harus nurut sama guru, dan tidak boleh nakal, yang paling penting harus menjadi anak yang pintar" ucap Elin lembut


"Siap nek" ucapnya sambil mengangkat tangannya di kepala seperti sedang hormat


"Sepertinya kamu sangat bahagia sekali" ucap Arvin


"Tentu saja, kan besok Rahsya sudah mau sekolah" ucap Rahsya


"Semangat sekali anak mami" ucap Lista


"Anak daddy memang harus semangat" ucap Arvin


"Nanti, kamu mau tas yang karakter apa?" tanya Arvin


"Daddy, aku bukan anak kecil lagi. Jadi beli tas yang biasa saja" ucap Rahsya


"Baiklah, apapun keinginanmu nanti daddy belikan" ucap Arvin


"Yeay, terimakasih daddy" ucapnya senang


Setelah sarapan, Lista dan Rahsya bersiap untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya


"Mami, apa kita tidak pergi bersama daddy?" tanya Rahsya


"Nanti daddy menyusul. Sekarang daddy masih ada urusan di kantor" jawab Lista, Rahsya hanya mengangguk


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai, Rahsya terus melihat sekelilingnya


"Mami ini tempat apa, kenapa begitu ramai sekali?" tanya Rahsya


"Ini namanya mall sayang. Nanti kita cari perlengkapan sekolah kamu disini" ucap Lista sambil terus berjalan dan menggandeng tangan Rahsya


"Hai, maaf aku terlambat" ucap Lista yang melihat ketiga temannya sudah berada disana


"Santai, kami juga baru sampai" ucap Cantika

__ADS_1


"Lis, anak siapa ini?" tanya Viona


"Anakku" jawab Lista


"Lista, aku serius" ucap Viona


"Rahsya, perkenalkan ini sahabat mami" ucap Lista


"Ha...halo tante, namaku Rahsya" ucapnya pelan


"Rahsya nama tante Viona, ini Cantika, dan ini Risa" ucap Viona memperkenalkan mereka


"Lis, apa maksudnya ini Lis?" tanya Risa


"Rahsya, kamu main disana dulu ya. Dan ingat jangan jauh-jauh" ucap Lista memeberi peringatan pada putranya itu


"Siap mami" ucap Rahsya tersenyum dan segera berlari ke arena bermain


"Jujur aku bingung Lis" ucap Viona


Lista langsung menjelaskan kejadian kemarin pada ketiga sahabatnya


"Jadi dia memang sengaja di buang oleh orang tuanya?" tanya Cantika


"Aku tidak tau mereka orang tua kandung atau bukan. Tapi saat aku baru melihatnya dia menangis dan memanggil ayahnya" ucap Lista


"Keterlaluan sekali dia, tega sekali membuang anak seimut itu" ucap Viona geram


"Mungkin Rahsya sudah menjadi takdirku, dan menjadi putra pertama ku" ucap Lista menatap Rahsya


"Lihatlah dia begitu bahagia" ucap Cantika


Lalu mereka mengobrol sambil mengawasi Rahsya yang sedang bermain


.


.


Sementara itu....


"Arya, ada apa kau kemari?" tanya Reyhan


"Jika aku datang kemari berarti aku sakit. Dasar bodoh" ucap Arya kesal


"Kau kenapa, kenapa kau terlihat begitu emosi" ucap Reyhan mengangkat sebelah alisnya


"Ck, cepat kau periksa aku" ucap Arya


"Cepat berbaringlah" ucap Reyhan


Reyhan memegang pergelangan tangan Arya, Reyhan mengerutkan keningnya


"Kau tidak demam" ucap Reyhan


"Yang bilang aku demam siapa?" tanya Arya


"Lalu, apa keluhanmu?" tanya Reyhan


"Aku ingin kau memeriksa keadaan jantungku" ucap Arya


"Ada apa dengan jantungmu?" tanya Reyhan terkejut


"Beberapa hari ini jantungku berdetak dengan cepat. Apa lagi kemarin, saat bertemu dengan Lula seprtinya jantungku kambuh" ucap Arya polos


"Kemarilah, aku akan memeriksanya" ucap Reyhan


Reyhan menempelkan stetoskopnya memeriksa dada Arya


"Tidak mungkin Ar, ini pasti salah" ucap Reyhan memggelengkan kepalanya, lalu memeriksa dada Arya lagi


"Apa maksudmu Rey?" tanya Arya menatap Reyhan


"Kau memang punya jantung Ar" ucap Reyhan menunduk, Arya yang mendengar perkataan Reyhan pun terkejut dan tak menyangka ternyata dugaannya selama ini benar


**Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2