
Pagi itu, Lista terbangun karena merasakan perutnya seperti di aduk, Lista segera berlari kekamar mandi
"Hoek... hoek"
Arvin yang mendengarnya segera menyusul Lista dikamar mandi
"Sayang, kenapa?" tanya Arvin yang menggosok punggung Lista
"Aku gak papa" jawab Lista menepis tangan Arvin dan kembali ke tempat tidurnya lagi
"Sayang maafkan aku, kemarin aku bicara terlalu keras padamu" ucap Arvin lembut
"Aku hanya ingin makan enak, dan kau melarangku" ucap Lista kesal
"Baiklah aku minta maaf, aku tidak akan melarangmu. Tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu dan juga anak kita" ucap Arvin mengelus perut Lista
"Aku tau mas, aku makan nasi dan kerupuk itu keinginan anak kita, kau malah memarahiku" ucap Lista ketus
"Iya aku salah, aku minta maaf ya?" ucap Arvin, Lista masih cemberut
"Sudah jangan marah lagi " ucap Arvin mengecup bibir Lista
"Kau tidak akan melarangku untuk makan nasi dengan kerupuk lagi?" tanya Lista
"Iya sayang" ucap Arvin mengalah pada istrinya itu
Setelah membersihkan tubuh mereka dan rapi, Lista dan Arvin turun untuk sarapan
"Selamat pagi semua" sapa Lista
"Pagi sayang" ucap Elin dan Ramon
"Kak, kau mau makan apa, aku ambilkan ya?" tanya Lula berdiri
"Lula, Arvin sudah memiliki istri, jadi biarkan istrinya yang melayani Arvin" ucap Ramon, membuat Lula sedikit kesal
"Mas mau makan apa?" tanya Lista
"Aku sarapan yang ringan saja sayang, karena jam sembilan aku ada rapat di cafe" ucap Arvin, Lista terseyum lembut
Lista meraih roti dan mengoleskan dengan slai coklat kacang kesukaan Arvin, dan meletakkannya di piring Arvin
"Terimkasih sayang" ucap Arvin
"Kamu gak makan?" tanya Arvin
"Aku ingin makan roti susu" ucap Lista mengambil roti dan menuangkan susu di depannya
Arvin berdiri dan pergi kedapur membuat Lista bingung
"Kenapa dengan mas Arvin, bukannya berjanji tidak akan marah dengan apapun yang aku makan?" batin Lista menatap punggung Arvin membuat Elin bingung
"Sayang minumlah ini" ucap Arvin yang kembali membawakan susu khusus ibu hamil, membuat Lista tersenyum
"Terimkasih mas" ucap Lista terharu
Ramon dan Elin yang melihat kemesraan Lista dan Arvin menggelengkan kepalanya
"Wah romantis sekali kak Arvin dan kakak ipar" ucap Lula
"Makanya Lula cepat mencari pacar, biar bisa romantis seperti kak Arvin dan kak Lista" ucap Elin mengelus kepala Lula
"Iya tante" jawab Lula tersenyum
"Hari ini mami mau pergi arisan, mami tinggal gak papa kan sayang?" pamit Elin menatap Lista dan Lula
"Iya tante" jawab Lula
"Iya mi, tapi sebelum pergi peluk dulu ya" ucap Lista tertawa kecil
__ADS_1
"Papi tidak mau peluk?" tanya RamonRamon, Lista menggeleng sambil tertawa kecil
"Sayang kamu mau mami bawakan apa?"tanya Elin
"Tidak ada mi" jawab Lista
"Lula, tante titip Lista ya" ucap Elin
"Iya tante" jawab Lula
Tak berapa lama terdengar suara deruman mobil dan langsung masuk dua orang pria dari pintu utama
"Selamat pagi tuan, nyonya" sapa Bian dan Daniel bersama
"Pagi Daniel, Bian" jawab Ramon
"Bian, aku akan ke kantor, kau jaga nyonya muda" ucap Arvin bersiap untuk pergi ke kantor
"Baik tuan muda" ucap Bian sedikit membungkukkan badannya
"Mas hati-hati ya" ucap Lista mencium tangan Arvin
"Pasti sayang" ucap Arvin mencium kening Lista
Ramon dan Elin pun meninggalkan rumah untuk kegiatan mereka masing-masing. Namun sebelum itu, Elin memeluk menantu kesayangannya itu
Keadaan rumah sudah sepi. Lista membantu bibi membereskan meja makan, Lula duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya
"Nyonya, biarkan saya yang mengerjakannya" ucap bibi
"Tidak apa bi, hanya sedikit" ucap Lista
"Nyonya nanti siang makan apa?" tanya bibi
"Emmh masih belum kepikiran bi" jawab Lista terkekeh kecil
"Kakak ipar harus makan yang banyak nutrisi, agar kak Arvin tidak marah" ucap Lula
"Nyonya selamat atas kehamilan anda" ucap Bian menghampiri Lista
"Terimakasih Bian" ucap Lista
Lula ayok kita ke taman belakang, disana banyak bunga mami yang sudah bermekaran" ucap Lista
"Baik kak" ucap Lula mengikuti langkah Lista dan diikuti Bian di belakang kedua wanita itu
"Kak, apa kau mencintai kak Arvin?" tanya Lula
"Tentu saja, kalau tidak mencintainya, aku tidak mau menikah dengan mas Arvin" jawab Lista
"Semoga anda selalu bahagia nyonya" batin Bian menatap Lista
.
Senja telah menyapa, Lista duduk di taman sambil menunggu kepulangan sang suami tercinta
"Nyonya di luar dingin, anda bisa menunggu tuan muda di dalam" ucap Bian
"Tidak apa-apa Bian, aku tidak kedinginan" ucap Lista menatap Bian
Bian tetap berdiri di belakang Lista dengan membawa jaket milik Lista yang bibi siapkan untuk Lista, namun Lista menolaknya
Terlihat mobil memasuki garasi rumah utama, dan Lista sudah tau siapa yang datang
Lista berjalan mendekati mobil itu dan memeluk suaminya dengan erat membuat Arvin sedikit terkejut
"Sayang, kenapa kamu di luar?" tanya Arvin yang membalas pelukan istrinya itu
"Aku merindukan kamu" ucap Lista manja
__ADS_1
"Jangan menggodaku sayang" ucap Arvin mencium bibir pink Lista
Sedangkan Bian dan Daniel berada di belakang rumah utama
"Bagaimana, apa mobil itu juga mengikuti kemari?" tanya Daniel
"Iya, semalaman aku berada di dalam mobil untuk mengikuti mobil hitam itu, tapi saat aku mendekati mobil itu, tiba-tiba sebuah mobil memghadangku" ucap Bian geram
"Siapa sebenarnya mereka" ucap Daniel mengepslkan tangannya
"Malam ini, kita akan mengetahui siapa dia" ucap Bian menatap Daniel
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Daniel
"Sesuai perintah tuan muda" ucap Bian
Disisi Lain
"Kak Arvin, kau sudah pulang?" tanya Lula yang ingin memeluk Arvin, namun dengan cepat Arvin menghindar
"Lula, aku harap kau tau batasanmu. Kita bukan anak kecil lagi" ucap Arvin meninggalkan Lula dan Lista
"Lula, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lista lembut
"Kenapa kak Arvin berubah?" tanya Lula terduduk lemas
"Sudah jangan sedih, cantikmu akan hilang jika kau menangis" ucap Lista menghibur
"Terimakasih kak" ucap Lula menatap Lista
"Sudah ayo cepat berdiri, sebelum mami dan papi datang" ucap Lista membantu Lula berdiri
.
Malam harinya, Lista telah tertidur dengan pulas. Perlahan Arvin turun dari ranjang dan menuju tempat Bian berjaga
"Bian" panggil Arvin pelan
"Sudah saya siapakan tuan" ucap Bian yang tau maksud kedatangan Arvin
"Bagaiamana dengan yang lain?" tanya Arvin
"Semua sudah pada posisi mereka" jawab Bian
"Bagus, kau keluar dari pintu samping" ucap Arvin, Bian berjalan menuju pintu samping, sedangkan Arvin memanjat dinding untuk mengintai mobil sedan itu
Bian, berjalan mendekati mobil hitam itu dan mendekatinya, mobil itu menyalakan mesinya untuk bersiap kabur saat melihat Bian mendekat, namun dengan sigap Arvin melompat dan mengejar mobil itu dan memecahkan kaca mobil itu dengan tangan kosong. Moobil itu sempat oleng, namun mobil itu kembali melaju semakin kencang
"Tuan" ucap Daniel yang memang sudah bersiap dengan mobil miliknya
Arvin segera masuk dan ternyata Bian juga berada di sana
"Tuan tangan anda terluka" ucap Bian
"Tidak apa-apa, tangkap dia dulu" ucap Arvin datar
Terdengar decitan mobil, saat beberpa mobil mewah menghadang mobil sedan hitam itu
Beberapa pengawal Arvin mengepung mobil sedan hitam itu dan menodongkan pistol
"Kau tidak akan bisa kabur, keluar kau" ucap Arvin dingin yang keluar dari mobil dan diikuti yang lain
Salah satu pengawal Arvin membuka pintu mobil itu dan menyeret sang pengemudi keluar
"Sekarang tidak akan ada yang membantumu lagi" ucap Juan tersenyum sinis
Pria itu mendongakkan kepalanya menatap para tuan muda itu
"Jonathan?"...
__ADS_1
**Bersambung**