
Mentari telah bersinar, dan menembus kamar pasangan yang baru saja berbahagia
Lista membuka matanya lebih dulu, dia melihat kearah sampingnya. Wajah seorang pria yang menjadi suaminya selama empat bulan ini
Lista menatap wajah Arvin yang selama ini membuat hati Lista gelisah bila tak melihatnya
"Apa kau sudah puas memandang wajah suamimu?" tanyanya dengan mata masih terpejam
"M... mas Arvin sudah bangun?" tanya Lista sedikit malu
"Sudah tadi saat kau baru membuka matamu" ucap Arvin mencium bibir Lista
"Eeemmh... " Lista memukul dada Arvin karena merasa sudah kehabisan oksigen
"Lista, bisakah aku menginginkan yang lebih?" tanyanya tidur sambil memeluk erat Lista
Lista yang baru akan menjawab, tiba-tiba Arvin me****t bibir mungil Lista kembali dengan ganas dan tangan yang tak tinggal diam
"Emmh mas, aku harus ke kampus" ucap Lista, karena memang dia harus kekampus
"Aku akan meminta absen untukmu" ucapnya masih dengan aktifitasnya
"Ti... tidak bisa, karena hari ini aku terakhir masuk sebelum libur" ucap Lista terbata karena tidak bisa menahan sentuhan Arvin
"Baiklah hari ini aku akan melepaskanmu. Besok aku juga akan ambil cuti" ucap Arvin
"Kenapa kau mau ambil cuti?" tanya Lista
"Untuk menagih hutangmu. Aku mau kau membayarnya sehari penuh dengan ku disini" ucap Arvin tersenyum sambil menjilat bibirnya sendiri
Mendengar itu Lista segera beranjak dan menuju kamar mandi dengan perasaan campur aduk
Sekitar 15 menit, tiba-tiba Lista menyembulkan kepalanya sedikit
"Eemmh mas, bisa tolong ambilkan bajuku?" tanya Lista pelan
"Kenapa, kau ganti di luar saja" ucap Arvin tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya
"A... aku malu" ucap Lista lagi dengan wajah yang merah malu
"Untuk apa malu, aku sudah melihatnya dengan jelas semua milikmu, ya walau hanya sekali" ucap Arvin menggoda Lista
"Mas Arvin" ucap Lista bertambah malu
"Iya sayang" ucap Arvin yang semakin menggoda Lista
Arvin turun dari ranjang menuju lemari dan mengambilkan baju milik Lista
"Apa aku boleh masuk?" tanya Arvin menyerahkan baju Lista dankembali menggoda Lista
"Tidak" ucap Lista menarik baju miliknya dan menutup pintu dengan cepat
"Lista kau sangat menggemaskan" ucap Arvin sambil terduduk di kursi rodanya kembali
Setelah itu Lista keluar dan kini giliran Arvin yang masuk dengan kursi rodanya
"Mas, sebenarnya kenapa kamu berpura-pura lumpuh?" tanya Lista
"Aku tidak bisa memberi taumu, karna aku masih harus menyelidiki sesuatu" ucap Arvin
"Sampai kapan mas Arvin akan seprti ini?" tanya Lista
"Sampai semua masalah ini selesai" jawab Arvin
"Aku harap semoga penyelidikanmu cepat selesai dan kau bisa beraktifitas dengan normal" ucap Lista memeluk Arvin dari belakang
__ADS_1
"Terimakasih sayang" ucap Arvin, Lista tersenyum namun sedikit malu, kala Arvin memanggilnya dengan sebutan sayang
.
.
Di kampus, ketiga sahabat Lista sudah menunggunya di kantin
"Hai, dimana Lista?" tanya Reki yang langsung duduk
"Belum datang, Reki traktir dong tanggal tua nih" ucap Risa
"Mahasiswa seperti kalian apa ada tanggal tua juga?" ledek Reki tertawa
"Tentu saja ada. Di tanggal tua harus berhemat" ucap Cantika
"Iya berhemat buat ngejar diskon belanja di bulan depan" ucap Viona tertawa
"Dasar kalian, ya sudah kalian bisa pesan" ucap Reki
"Eh sekalian pesan untuk Lista" sambung Reki
"Siap" ucap Risa memesan sarapan untuk dirinya dan temannya
Sementara itu..
Lista yang langsung diantar oleh Arvin sudah tiba di kampus
"Mas, aku turun dulu" ucap Lista mencium tangan Arvin
"Sudah itu saja" ucap Arvin
"Lalu?" tanya Lista, Arvin menunjuk pipinya
Lista menghela nafasnya dan mencium pipi Arvin. Baru saja Lista akan menarik ciumannya, tiba-tiba Arvin menahan tengkuk Lista dan mencium bibir mungil Lista
Lista mendorong tubuh Arvin keras dan Lista segera keluar dari mobil dengan cepat. Arvin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
"Jalan" ucap Arvin
Di kantin..
"Wah ada acara apa ini?" tanya Lista yang baru datang
"Lista, cepat makan. Mumpung ada makanan gratis" ucap Risa
"Benarkah" ucap Lista segera duduk
"Iya makanan gratis dari Reki" ucap Viona
"Wah Reki baik sekali" ucap Lista tersenyum lembut
Setelah sarapan, Lista dan ketiga sahabatnya masuk ke kelas mereka, tapi tidak dengan Reki, karna mereka beda kelas
"Kenapa beberapa hari ini pak Darren tidak mengajar" ucap Cantika
"Mungkin dia sibuk dengan urusan yang lain" ucap Viona
"Kalian merasa gak sih, pak Darren kayak yang menghindar dari kita" ucap Cantika membuat Lista berpikir
"Apa kak Darren ada masalah dengan mas Arvin atau dengan yang lain" ucap Lista dalam hati
.
.
__ADS_1
Setelah keluar dari kampus, Lista masih belum di jemput oleh Bian, jadi dia menunggu di taman
"Lista, kenapa kamu belum pulang?" tanya Reki yang langsung turun dari mobilnya
"Sepupuku belum datang" ucap Lista berbohong
"Bagaimana jika aku yang mengantarmu" ucap Reki
"Tidak perlu, mungkin dia masih dijalan" ucap Lista
Tak berapa lama, berhenti sebuah mobil hitam di depan Lista dan Reki
"Bruk" tiba-tiba pria bertopeng itu memukul Reki hingga dia jatuh pingsan
"Reki" teriak Lista, namun pria bertopeng itu segera membekap mulut Lista dan membawanya ke dalam mobil
"Lepaskan aku, siapa kalian" teriak Lista, tanpa menjawab pria bertopeng itu membekap mulut Lista dengan sapu tangan hingga pingsan
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil itu sampai di sebuah gudang yang sudah lama terbengkalai
Lista yang sudah sadar masih pura-pura tidur, Lista mencoba mencari celah untuk kabur
"Bagus sekali kalian membawanya" ucapnya tertawa
"Tuan bagaimana kalau kita langsung bunuh saja" ucap seorang wanita yang tak asing di telinga Lista
"Jangan, dia sangat cantik. Pantas saja putraku tergila-gila padanya" ucap pria paruh baya itu
"Cih, aku akan menghancurkan wajahnya hingga tidak ada satu orang pun yang mengenalnya" ucapnya geram
"Tunggu, aku ingin mencicipi tubuh istri presdir yang terkenal" ucap pria paruh baya itu
Saat pria itu mencoba mendekat, Lista membuka matanya dan menendang pria paruh baya itu
"Sial, kau sudah bangun" ucapnya semakin geram
"Kak Citra, aku pikir aku salah. Ternyata memang kamu kak" ucap Lista tak percaya
"Kenapa jika memang aku, dari dulu aku tidak suka padamu, dari dulu aku ingin membunuhmu" ucap Citra lantang
"Apa salahku kak, papa selalu menyayangimu. Bahkan Evan calon suamiku pun papa berikan padamu" ucap Lista
"Aku memang sengaja. Apapun yang menjadi milikmu aku akan merebutnya darimu" ucap Citra
"Kau hanya anak haram, kenapa papa lebih sayang padamu dan mewariskan semua hartanya padamu" sambung Citra lagi
"Plaak" Mendengar perkataan Citra, Lista merasa tak terima dan menampar Citra
"Aku bukan anak haram, kaulah yang anak haram. Bahkan kau saja tidak tau siapa papamu" ucap Lista tak kalah lantang
"Berani kau menamparku" ucap Citra semakin emosi
"Tuan, kau bersiap untuk menikmati tubuh anak haram ini" ucap Citra
"Kalian pegang dia" ucap Citra pada pria yang menangkap Lista tadi
"Jangan sentuh aku, lepaskan aku, lepas" teriak Lista memberontak
"Tenang saja sayang, aku tidak akan menyakitimu" ucapnya dengan wajah yang penuh nafsu
"Tidaaak, hentikan" ucap Lista, namun pria itu semakin mendekat pada tubuh Lista
"Mas Arvin tolong aku, mas Arvin" ucap Lista menangis
"Braaak"
__ADS_1
**Bersambung**