
"Kau lagi?" ucap Arya
"Kenapa aku harus bertemu dengan kau lagi" ucap wanita itu
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, dan setiap aku bertemu denganmu pasti aku akan sial" ucap Arya, siapa lagi kalau bukan Lula
"Maaf tuan nona, tolong jangan berisik" ucap salah satu pramugari tersebut
"Maafkan kami, tapi bisa saya ganti tempat duduk?" tanya Arya
"Maaf tuan tidak bisa" ucap pramugari itu dengan lembut
"Ck, kenapa aku harus sesial ini" umpat Arya kesal
"Bukan kau saja, aku juga sial" ucap Lula tak mau kalah
Reyhan yang mendengar perdebatan di belakang dia segara menuju tempat Arya
"Lula, kenapa kamu disini?" tanya Reyhan
"Tentu saja aku akan pergi ke Indonesia" jawab Lula
"Maksudku untuk apa kau ke Indonesia?" tanya Reyhan
"Aku sudah lulus kuliah di luar negri, jadi aku kembali ke Indonesia. Aku ingin bekerja di negaraku saja" ucap Lula
"Maaf, apa bisa nona ini pindah ke tempat duduk saya?" tanya Reyhan
"Silahkan tuan" ucap Pramugari itu dengan senyum lembut
Lula pun akhirnya pindah duduk di tempat Reyhan dan Viona
.
.
Kurang lebih perjalan 20 jam, akhirnya pesawat mereka mendarat dengan sempurna di bandara Indonesia
"Lula, kamu juga ikut pulang?" tanya Lista
"Iya kak" jawab Lula
"Kenapa kamu juga ikut pulang?" tanya Risa
"Dia sudah lulus, kenapa dia masih harus berada di sana" jawab Viona
"Wah, selamat ya. Kenapa kau tak memberi tau kami sebelumnya?" tanya Cantika
"Aku mau buat kejutan kak, namun siapa sangka aku duduk dengan orang yang membuatku sial" ucap Lula
"Dasar gadis gila, harusnya aku yang bilang seperti itu" ucap Arya emosi
"Sudahlah, Lexi Ryo bawa bos kalian" ucap Juan memijat keningnya
"Dadah, sampai jumpa" ucap Lula
"Salah, jangan bertemu lagi ya" ucap Lula lagi melambaikan tangannya
"Sudah Lula, kamu naik apa?" tanya Lista
"Aku sudah dijemput kak, aku pergi dulu kak" ucap Lula melambaikan tangannya
"Baiklah, hati-hati" ucap Lista
"Ya sudah kita berpisah disini, kita bertemu lagi din pernikahan Viona" ucap Cantika
__ADS_1
"Baiklah, sampai jumpa semuanya" ucap Risa menggandeng tangan kekasihnya itu
"Ayo sayang kita pulang, kamu harus banyak istirahat" ucap Arvin merangkul istrinya
"Iya mas" jawab Lista
"Bian siapkan mobilnya" ucap Arvin
"Baik tuan muda" jawab Bian
Baru saja Lista akan keluar dari pintu bandara, dia melihat seorang anak kecil sedang menangis dengan memanggil ayahnya
"Mas, tunggu sebentar" ucap Lista berjalan menuju arah anak kecil itu yang sudah di kelilingi beberapa orang dan juga keamanan di sana
"Maaf, kenapa dengan anak ini?" tanya Lista pada keamanan itu
"Dia terpisah dengan orang tuanya nona, dan kami coba bertanya dimana rumahnya dia bilang tidak tau" jawab keamanan tersebut
"Bagaimana anak sekecil ini bisa terpisah dengan orang tuanya?" tanya Lista merasa kasihan
"Sepertinya dia bukan terpisah, namun sengaja di buang" ucap salah satu wanita yang mencoba menenangkan anak itu
"Kenapa ibu bicara seperti itu?" tanya Lista
"Tadi waktu saya turun dari taxi, saya melihat seorang pria dan wanita meninggalkan anak ini sendirian di luar sana. Lalu ada yang menegurnya dan pria itu kembali membawa anak ini masuk. Setelah itu saya tidak tau lagi, dan saat saya kembali saya melihat anak ini menangis disini" jawab ibu itu menceritakan pada Lista
"Nak, siapa nama kamu?" tanya Arvin menepuk kepala anak kecil itu
"R...Rah... Rahsya" jawabnya dengan nada sedikit takut
"Berapa usiamu nak?" tanya Arvin lagi
"E...enam tahun" jawabnya sambil takut untuk menatap Arvin
"Pak, tolong minta seseorang untuk cek CCTV, jika akan ini memang di tinggalkan maka saya akan membawanya" ucap Arvin
"Tidak sayang, mungkin aku akan membawanya ke panti asuhan. Dari pada dia tinggal di jalanan, kasihan" ucap Arvin
"Aku tidak setuju" ucap Lista, membuat Arvin terkejut
"Kenapa Lista?" tanya Arvin menatap istrinya bingung
"Aku tidak setuju jika dia tinggal di panti asuhan. Kenapa kita tidak merawat dia saja?" tanya Lista
"Kamu yakin akan membesarkan anak yang bukan anakmu?" tanya Arvin
"Mas, kamu tau kau baru saja kehilangan anakku, mungkin dengan adanya dia rasa bersalah dan rasa rinduku bisa terobati" ucap Lista dengan mata berkaca-kaca
"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan. Tapi kita harus melihat kebenaran dari CCTV dulu" ucap Arvin
"Kamu tetap disini dulu, aku akan melihat rekaman CCTV dulu" ucap Arvin, Lista mengangguk
"Sayang kemarilah" ucap Lista mengulurkan tanganya
Anak itu terlihat ragu untuk memberikan tangannya pada Lista, dia menatap mata Lista
"Tidak apa jangan takut, kemarilah" ucap Lista lagi
Perlahan anak itu mengangkat tangannya dan memberikan tangannya pada Lista
"Maaf nona saya harus pergi, tidak apa kan saya tinggal?" tanya ibu tadi
"Tidak apa bu, anak ini biar menjadi urusan saya" jawab Lista tersenyum manis
"Baiklah, saya permisi" ucap Ibu itu dan berlalu pergi
__ADS_1
"Perkenalkan nama tante Lista, nama kamu tadi Rahsya kan?" tanya Lista, anak itu mengangguk
"Bagaimana jika kamu menjadi anak tante, kamu mau?" tanya ListaLista, anak itu diam
"A...aku takut tante" ucap Rahsya
"Takut kenapa?" tanya Lista
"Kata ayah aku anak pembawa sial, ibuku meninggal setelah menyelamatkan aku" ucapnya menunduk
"Sayang apa yang dikatakan ayahmu itu tidak benar. Ibumu pergi itu bukan kesalahanmu" ucap Lista memeluk anak itu
"Ayah bilang aku anak terkutuk, aku bukan anak baik" ucap Rahsya
"Hidup dan mati seseorang sudah di tentukan oleh yang diatas, dan kematian ibumu itu sudah takdir dari yang diatas" ucap Lista lembut
Tak berapa lama, Arvin kembali dengan beberapa keamanan bandara
"Bagaimana mas?" tanya Lista
"Dia memang sengaja di tinggalkan disini, ayahnya pergi dengan istri barunya" ucap Arvin
"Kasihan sekali kamu nak" ucap Lista memeluk Rahsya
"Sekarang Rahsya mau kan jadi anak tante?" tanya Lista
"Apa nanti aku tidak akan menjadi beban untuk tante?" tanya Rahsya
"Kamu bukan beban untuk kami, mungkin ini memang takdirmu untuk menjadi anak kami" ucap Arvin lembut
"Pak, saya akan membawa anak ini pulang, jika anda butuh penjelasan atau masalah apapun dari pihak berwajib, anda bisa langsung menghubungi saya" ucap Arvin tegas
"Baik tuan muda" jawab keamanan bandara itu
"Ayo sayang" ucap Arvin menggendong Rahsya
"Rahsya kamu panggil kami mami dan daddy ya?" ucap Lista
Rahsya menatap Arvin, Arvin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
"Tuan muda, nyonya muda anak siapa itu?" tanya Bian, Arvin dan Lista pun menjelaskan pada Bian
"Kasihan sekali anak sekecil ini harus menderita" ucap Bian merasa iba
Bian pun langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman utama Prasetya
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di kediaman utama, dan ternyata mami dan papi sudah berada di rumah
"Akhirnya anak mami pulang juga" ucap Elin menyambut menantunya itu
"Anak siapa itu Vin?" tanya Elin
"Arvin akan menjelaskan di dalam" ucapnya yang masih menggendong Rahsya
Arvin pun menjelaskan pada Elin dan Ramon tentang kejadian Rahsya
"Mami papi, Arvin dan Lista sepakat akan mengadopsi Rahsya menjadi anak kami" ucap Arvin
"Apa?" teriak Elin
"Arvin apa kau yakin akan membesarkan anak yang bukan anak kandungmu dan bukan darah dagingmu" ucap Ramon berdiri
"Apa salahnya pi?" tanya Arvin
Ramon menatap mata anak kecil yang ketakutan itu, Rahsya semakin kuat memeluk Arvin sambil melihat Elin dan juga Ramon
__ADS_1
"Papi ijinkan, tapi jika nanti kau sudah punya anak sendiri kau harus mengusirnya dari rumah ini" ucap Ramon membuat Lista dan Arvin terkejut
**Bersambung**