
"Aw, mas perutku sakit" ucap Lista tiba-tiba
"Lista" teriak Viona yang melihat darah mengalir di kaki Lista
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arvin khawatir
Reyhan mengangkat tubuh Lista dan membawanya ke ruang spesialis kandungan dan meminta salah satu dokter spesialis kandungan yang juga teman Reyhan untuk memeriksa Lista
Darren dan Juan menahan Arvin yang ingin turun dari tempat tidurnya
"Kak Arvin jangan turun dulu" ucap Lula menahan Arvin
"Lepaskan aku ingin melihat keadaan Lista" ucap Arvin
"Arvin, kita akan kesana setelah mendapat kabar dari Reyhan dan Viona" ucap Darren
"Arvin sayang kamu sudah sadar?" tanya Elin yang masuk dengan membawa beberpa makanan
"Mami" ucap Arvin memeluk Elin
"Mi, tolong lihat Lista mi" ucap Arvin yang terlihat sangat khawatir
"Apa yang terjadi pada Lista?" tanya Elin
"Ada darah tadi mengalir dari paha kak Lista tante" jawab Lula
"Lalu sekarang dimana Lista?" tanya Elin
"Dia di bawa dokter Reyhan tante" ucap Lula, Elin dan Lula segera keluar mencari keberadaan Reyhan
"Reyhan, bagaiamana dengan Lista?" tanya Elin panik saat menemukan Reyhan
"Lista masih diperiksa oleh dokter Alia" jawab Reyhan yang juga panik
"Tante jangan khawatir, Lista pasti baik-baik saja" ucap Viona merangkul Elin
"Ini pasti kak Lista terlalu lelah, dan tadi dia tidak sarapan" ucap Lula
"Dokter Reyhan" panggil dokter Alia
"Bagaiamana keadaan Lista?" tanya Reyhan
"Untung saja tidak terlambat. Dia terlalu lelah dan stres" jawab Alia
"Lalu bagaiamana dengan kandungannya?" tanya Elin
"Kandungannya juga tidak apa-apa. Kandungan nyonya Lista memasuki minggu ke lima, jadi usahakan jangan terlalu banyak pikiran ya. Karena usia lima minggu usia yang rentan " ucap Alia menjelaskan
"Terimakasih dokter" ucap Elin
"Nanti setelah dia bangun, nyonya Lista sudah bisa pulang" ucap Alia tersenyum
"Dokter Alia terimakasih" ucap Reyhan
"Sama-sama dokter" jawab Alia ramah
Sedangkan disisi Arvin...
"Arvin, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Ramon, Arvin mengangguk
"Sekarang jelaskan bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan?" tanya Ramon
Flashback On
Saat itu Arvin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tanpa ada Daniel di sampingnya
__ADS_1
Setelah sampai tengah perjalanan, Arvin melihat mobil yang mengikutinya, Arvin menginjak pedal gas mobilnya, namun mobil itu mampu mengejar Arvin
"Daniel seseorang mengikutiku, kau harus berhati-hati" ucap Arvin
"Tuan kirimkan lokasi anda, saya akan membantu anda" ucap Daniel panik
"Tidak perlu, kau lakukan saja apa yang aku katakan" ucap Arvin, belum sempat Arvin mematikan ponselnya, Daniel mendengar suara benturan dasyat dari seberang telponnya
Sebuah mobil malaju dari arah berlawanan dan memang berniat untuk menabrak mobil Arvin
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Daniel, namun tak ada sahutan dari Arvin
Daniel melacak posisi Arvin dan menemukan bahwa Arvin sudah dekat dengan pelabuhan
**Flashback Off
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Ramon
"Aku rasa mereka anak buah Reki" ucap Arvin
"Bagaimana mungkin Reki memiliki anak buah?" tanya Ramon
"Bisa saja om, Reki orang yang licik, dan Darren yakin pasti ada yang membantunya" ucap Darren pada Ramon
"Aku setuju, kalau begitu orang yang berada di belakang Reki adalah... " ucap Juan terhenti
"Keluarga Louis" ucap Arvin yakin
"Kalau begitu, Reki pasti pergi ke Amerika" ucap Juan
"Aku rasa dia masih di negara ini" ucap Arvin
Setelah itu, pintu kamar Arvin terbuka dan nampaklah Reyhan disana
"Rey bagaiamana keadaan Lista?" tanya Arvin cepat
"Bisakah aku melihat Lista?" tanya Arvin
"Baiklah, aku akan membawakan kursi roda untukmu" ucap Reyhan yang pergi dari kamar Arvin
Beberapa saat kemudian Reyhan kembali dengan membawa kursi roda untuk Arvin
Perlahan Arvin menuruni ranjang dan duduk di kursi roda itu
"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Reyhan menyindir Arvin
"Diamlah" ucap Arvin dingin
"Rey, jangan membuat si raja iblis mengamuk di rumah sakit" bisik Darren yang membuat Juan terkekeh
Saat sampai disana, Reyhan membawa Arvin masuk ke kamar rawat Lista
"Arvin, kamu disini sayang" ucap Elin menghampiri putranya
"Kak Lista seperti ini gara-gara dia memikirkan kak Arvin" gerutu Lula kesal
"Sayang maafkan aku, aku membuatmu khawatir" ucap Arvin menggenggam tangan Lista
"Mas Arvin" panggil Lista
"Sayang kamu sudah bangun" ucap Arvin mencium tangan Lista lembut
"Mas kenapa kamu disini, dan bagaimana kandungan ku?" tanya Lista memegang perutnya
"Tidak apa-apa sayang, kandungan kamu baik-baik saja" jawab Arvin lembut
__ADS_1
"Lista, hari ini kamu pulang dan istirahat dirumah ya?" ucap Elin lembut
"Iya mi" ucap Lista menuruti keinginan mami mertuanya
Sementara itu di taman rumah sakit...
"Lula, kau teman masa kecil Arvin, aku pernah mendengar dari tante Elin kau menyukai Arvin" ucap Reyhan, Lula menatap Reyhan
"Kalau iya kenapa?" tanya Lula enteng
"Apa kau akan merebutnya dari Lista?" tanya Viona penuh selidik
"Apa kakak pikir hanya kak Arvin pria di dunia ini, kalau kak Arvin masih berpacaran mungkin aku akan merebutnya, tapi mereka sudah menikah. Aku akan jadi orang paling bodoh karena merebut kak Arvin dari kak Lista" ucap Lula membuat Viona menatap Lula
"Jadi kau merelakan Arvin?" tanya Reyhan
"Tentu saja. Jika aku merebut kak Arvin dari kak Lista, belum tentu aku akan sebahagia kak Lista, yang selalu dimanja oleh kak Arvin. Yang penting sekarang kak Arvin bahagia dengan wanita pilihannya dan aku juga masih dekat dengan keluarga mereka itu sudah cukup" ucap Lula panjang lebar membuat Lista bertepuk tangan
"Kenapa kakak tepuk tangan, aku bukan burung yang sedang berkicau" ucap Lula membuat Viona memeluk Lula
"Sungguh aku salut padamu gadis kecil" ucap Viona
"Bagaimana kalau kau jadi adikku saja?" tanya Reyhan
"Aku tidak suka punya kakak seorang dokter yang suka menggoda gadis kecil" ucap Lula membuat Reyhan mendengus kesal
.
.
Di tempat lain..
"Aku sudah membantumu terbebas dari cengkraman mereka. Sekarang giliranmu yang membantuku" ucap pria itu pada Reki
"Siapa kau, dan kenapa kau membantuku?" tanya Reki
"Baiklah panggil saja aku Nathan" ucapnya menatap Reki
"Apa kau juga memiliki dendam pada Arvin, atau Arya?" tanya Reki
"Tuanku tidak menginginkan keduanya, hanya saja tuanku menginginkan nyonya muda Prasetya" ucap Nathan
"Kau menginginkan Lista, tidak aku tidak akan membantumu" ucap Reki cepat membuat Nathan tertawa
"Kau masih melindungi Lista, apa dia pernah menatapmu, apa dia pernah sekali saja melihat keadaanmu yang sekarang?" tanya Nathan, Reki terdiam
"Lalu apa dia mencintaimu, walau kau sudah membunuh papamu di hadapannya?" tanya Nathan lagi, yang membuat Reki mengingat kejadian itu
"Ingat, dia tidak mencintaimu, walau kau berjuang seperti apapun, dia tidak akan mencintaimu" ucap Nathan lagi membuat Reki memejamkan matanya
"Apa yang ingin aku lakukan?" tanya Reki mengepalkan tangannya dan menatap Nathan
"Aku akan mengatakannya tapi tidak sekarang" ucap pria itu tersenyum licik
"Ambil ini" ucap Nathan melemparkan kredit card pada Reki
"Apa maksudmu ini?" tanya Reki
"Kau pergilah beli keperluanmu, apa kau ingin tidur di jalanan dan menjadi glandangan?" tanya Nathan, Reki mengambil kredit card dan pergi dari tempat itu
Lalu pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"Saya sudah melaksanakan perintah anda tuan" ucap Nathan tersenyum sinis, entah apa yang di katakan orang di balik telpon itu, membuat Nathan tersenyum smirk
**Bersambung**
__ADS_1
Terimakasih kak sudah mampir di karyaku
Bantu vote, like dan komentar ya kak, biar tambah semangat nulisnya