
"Aaaaakkkhh"...
Teriakan Lista membuat Ramon dan Elin bergegas ke kamar Lista, begitupun dengan ketiga bibi itu
"Lista, ada apa?" tanya Ramon membuka pintu kamar Lista, namun mereka tak mendapati Lista di kamarnya
Elin melihat pintu balkon Lista terbuka dan segera melihat keluar
"Lista, papi Lista di bawa pergi pi" ucap Elin, Ramon segera bergegas turun dan mengejar mobil yang membawa Lista
Elin yang merasa khawatir segera menghubungi putranya
"Mami ada apa?" tanya Arvin
"Arvin Lista Vin" ucap Elin menangis
"Ada apa dengan Lista mi?" tanya Arvin mengerutkan keningnya
"Lista, di culik Vin" ucap Elin yang tak dapat menahan tangisnya
"Apa, bagaimana bisa mi?" tanya Arvin, Elin pun menceritakan yang sebenarnya
"Mami tenang saja, Arvin akan segera mencari Lista" ucap Arvin mencoba menenangkan Elin walau sebenarnya dia juga sangat khawatir dengan keadaan istri dan calon anaknya itu
"Daniel, putar balik" ucap Arvin cemas
"Baik tuan muda" ucap Daniel, Arvin meraih ponselnya dan menghubungi seseorang
"Darren, lacak keberadaan Lista, dia di culik" ucap Arvin
"Apa bagaimana bisa Lista di culik Vin, bukankah dia berada di rumah utama?" tanya Darren terkejut
"Maafkan aku, aku akan menjelaskannya padamu, kau lacak dulu keberadaan Lista" ucap Arvin merasa bersalah pada Darren
"Baiklah" ucap Darren mematikan telphonnya
"Tuan, sepertinya tembakan itu untuk mengelabui kita" ucap Daniel
"Hubungi Bian untuk berhenti mengejar mereka dan bantu cari Lista" ucap Arvin dengan suara pelan
"Baik tuan" ucap Daniel
"Sayang aku harap kamu akan baik-baik saja" ucap Arvin yang sebenarnya sangat khawatir, namun dia mencoba untuk tetap tenang
Tiba-tiba ponsel Arvin berdering, Arvin segera mengangkat ponselnya itu
"Arvin, papi sedang mengikuti orang yang menculik Lista, papi sudah mengirim sinyal ke kamu, kamu cepat kemari" ucap Ramon cepat
"Baik pi" ucap Arvin mematikan ponselnya dan segera ke mengecek ponselnya
"Daniel ikuti ini" ucap Arvin menunjukkan ponselnya
Di sisi Darren...
"Sialan kau Arvin, kenapa kau tak bisa menjaga adikku" ucap Darren menggebrak meja
"Darren, kau tenang dulu. Kau pergilah ke tempat ini , nanti aku dan Lexi akan menyusul" ucap Juan yang menemukan posisi Lista saat ini
"Dan hubungi Ethan juga untuk segera menyusul ku" ucap Darren, Juan mengangguk
"Darren, kau jangan terburu menyalahkan Arvin, kita dengarkan penjelasan Arvin dulu" ucap Reyhan menenangkan Darren, Darren mengangguk dan segera menuju mobil
Kembali pada Arvin..
"Tuan, itu mobil tuan besar" ucap Daniel yang sudah mendekati mobil Ramon
"Iya, cepat kita salip papi dan kejar mobil hitam itu" ucap Arvin yang mulai merasa cemas
__ADS_1
Daniel menancap gas dan melaju lebih cepat hingga dapat melihat mobil hitam yang menculik Lista
Saat Arvin sudah mendekati mobil hitam itu, tiba-tiba dua mobil menghadang mobil Arvin membuat Daniel mengerem mendadak
"Sial, apa mereka sengaja" ucap Daniel geram
Beberpa pria keluar dari kedua mobil itu dengan membawa senjata dan menghantam kaca mobil Arvin
Arvin dan Daniel pun langsung turun untuk melawan meraka
"Daniel, Berhati-hatilah" ucap Arvin berbisik
"Apa mau kalian?" tanya Arvin dingin
"Kami nyawa kalian" ucap pria itu langsung menyerang Arvin dan Daniel
Ramon yang baru datang langsung membantu Arvin dan Daniel
Saat Arvin melawan para pria itu, Arvin melihat mobil Darren yang berusaha mengejar mobil hitam yang membawa Lista itu
Belum sampai 10 menit beberpa pria itu sudah terkapar karna ulah Arvin, Daniel dan Ramon
"Dasar sampah tak berguna" ucap Arvin menginjak kaki salah satu pria itu
"Kreeek" Arvin mematahkan kaki pria itu hingga pria itu berteriak histeris
Tak Lama setelah itu datang lagi 3 mobil yang sama dengan pria yang membawa senjata
"Ternyata masih ada yang berani melawan" ucap Daniel tersenyum sinis
Pria itu langsung menyerang Arvin, Daniel dan Ramon
Namun semua pria itu bukanlah tandingan mereka
"Pergilah, biar mereka menjadi urusan papi" ucap Ramon
"Tuan bagaimana ini, kita kehilangan nyonya" ucap Daniel
"Aku akan bertanya pada Darren" ucap Daniel meraih ponselnya
"Darren, bagaimana kau dapat mengejar mobil itu?" tanya Arvin panik
"Arvin mereka menuju bandara, aku akan memgejar mereka" ucap Darren mematikan ponselnya
"Daniel, kebandara" ucap Arvin dengan nafas yang memburu
Daniel kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju bandara
Saat sampai di bandara, Arvin segera mencari keberadaan pria yang membawa istrinya itu. Daniel dan Arvin berpencar mencari keberadaan Lista
Arvin melihat pesawat yang bersiap untuk lepas landas, Arvin yakin istrinya pasti berada di dalam pesawat itu
"Tuan saya tidak menemukan keberadaan nyonya" ucap Daniel dengan nafas ngos-ngosan
"Daniel cepat hentikan pesawat itu, aku yakin Lista ada di pesawat itu" ucap Arvin yang mencoba menerobos
Namun terlambat pesawat itu akhirnya lepas landas, Arvin yang saat itu ingin mengejarnya di hentikan oleh petugas bandara
"Tuan muda" panggil Bian
"Bian, apa kau menemukan Lista?" tanya Arvin
"Maafkan saya tuan" ucap Bian menggeleng
"Sial" umpat Arvin lantang
"Daniel cepat pesan tiket pesawat" ucap Arvin
__ADS_1
"Kau pesan tiket mau kemana?" tanya Reyhan
"Tentu saja untuk mencari istriku" ucap Arvin emosi
"Vin, aku sudah mencari tau, di sini tidak ada penumpang bernama Calista" ucap Reyhan
"Mungkin istrimu masih berada di sekitar sini" ucap Reyhan mencoba menenangakn Arvin
"Tadi Darren bilang, kalau dia berada di bandara" ucap Arvin penuh amarah
"Kita pulang dulu, tunggu kabar dari Darren" ucap Reyhan, Arvin memejamkan matanya mencoba untuk tenang, dia harus memikirkan cara untuk menemukan istrinya itu
.
.
Di tempat lain....
Lista membuka matanya dan melihat sekelilingnya yang terasa asing baginya
"Nona sudah bangun?" tanya seorang pria itu sopan
"Siapa kamu, dan dimana aku?" tanya Lista menatap pria itu
"Sekarang anda berada di negara Amerika" ucapnya
"Apa, kenapa kau membawaku kemari?" tanya Lista terkejut
"Lepaskan aku" ucap Lista lagi berteriak
"Nona, jika anda tidak bisa diam, saya akan membunuh anak yang ada dalam kandungan anda" ancamnya membuat Lista diam dan ketakutan sambil memegang perutnya
"Aku mohon jangan, tolong jangan lakukan apapun pada kandungan ku" ucap Lista menangis
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan, jika uang aku akan memberikannya pada kalian" ucap Lista memohon
"Tapi sayangnya kami tidak menginginkan uang anda nona" ucap pria itu lagi
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Lista emosi
"Tuan hanya meminta saya untuk membawa anda ke negara ini" ucap pria itu
"Siapa tuanmu, aku ingin bertemu dengan tuanmu" ucap Lista berdiri menatap pria itu
"Maaf nona, belum saatnya anda bertemu dengan tuan saya" ucapnya dan pergi dari kamar Lista
"Mas Arvin tolong aku" ucap Lista pelan menangis
"Sayang kamu jangan khawatir mama akan selalu menjaga dan melindungi kamu" ucap Lista menggosok perutnya itu
"Maaf nona ini makan malam anda" ucap seorang wanita muda itu sopan, Lista hanya diam sambil sekilas melihat orang itu
"Kenapa mereka mengurung ku?" tanya Lista pelan sambil melihat luar jendela
"Maafkan saya nona, saya tidak tau masalah itu" ucapnya lembut
"Nona anda makan dulu, kasian anak dalam perut anda, dia juga butuh nutrisi" ucapnya lembut
"Aku merindukan suamiku, aku merindukan keluargaku" ucap Lista memejamkan matanya
"Nona, saya akan bantu anda nanti. Sekarang masih banyak pengawal di luar" ucap wanita itu
"Siapa yang mau kau bantu, ingat jangan sampai kau membuat tuan marah" ucap seorang pria yang baru masuk dengan tatapan tajam
"Kamu"......
**Bersambung**
__ADS_1