
"Papi ijinkan, tapi jika nanti kau sudah punya anak sendiri kau harus mengusirnya dari rumah ini" ucap Ramon membuat Lista dan Arvin terkejut
"Pi, apa yang papi katakan, walaupun Arvin memiliki anak, Arvin akan tetap menjadikan dia anak pertama Arvin dan Lista" ucap Arvin tegas
"Pi, Lista mohon biarkan kami mengadopsi Rahsya" ucap Lista memohon, Ramon diam menatap Lista, lalu Ramon tertawa membuat Lista dan Arvin bingung, begitupun dengan Elin
"Papi hanya bercanda, barusan papi hanya ingin mencoba bagaimana nanti kamu jika memiliki anak sendiri. Dan ternyata kamu benar-benar menyayanginya" ucap Ramon
"Karena sekarang kalian memberikan dia kasih sayang, tapi saat kalian memiliki anak sendiri lalu kalian melupakan dia begitu saja. Dia akan terluka kembali. Dan papi tidak mau kalian melakukan hal itu" sambung Ramon
"Maksud papi?" tanya Arvin
"Papi akan selalu mendukung keputusan kamu, karena papi yakin kamu sudah memikirkan ini dengan matang" ucap Ramon
"Terimaksih pi" ucap Arvin dan Lista
"Sayang, kemarilah" ucap Ramon
Rahsya menatap Arvin dan Lista
"Pergilah" ucap Lista
"Siapa namamu?" tanya Ramon
"Rahsya" jawabnya
"Coba panggil kakek" ucap Ramon
"Ka...kek" ucapnya ragu
"Anak pintar" ucap Ramon
"Coba panggil nenek" ucap Elin senang
"Nen... nenek" ucapnya menatap Elin
"Ah cucuku" ucap Elin mencium pipi Rahsya gemas
"Rahsya sekarang kamu mandi dulu ya" ucap Lista
"Iya mami" jawabnya membuat Lista tersenyum, namun senyum Lista tiba-tiba memudar, membuat Arvin terkejut
"Sayang ada apa?" tanya Arvin
"Mas aku lupa, kita belum membeli baju untuk Rahsya" ucap Lista
"Astaga, aku lupa" ucap Arvin, dan segera meraih ponselnya
"Halo, tolong kirimkan aku beberapa baju anak laki-laki usia 6 tahun, sekarang" ucap Arvin
"Sayang kamu bawa dia mandi dulu saja, mungkin tidak sampai satu jam, bajunya akan datang" ucap Arvin
"Baiklah" ucap Lista membawa Rahsya ke kamar mandi
"Rahsya mandi dulu, nanti setelah mandi baru mami akan perkenalkan Rahsya dengan bibi dan paman di depan sana" ucap Lista
"Iya mi" ucapnya mulai tersenyum
.
.
Di tempat lain...
"Huft, lelah sakali rasanya" ucapnya sambil menjatuhkan dirinya di kasur empuk miliknya
"Tapi aneh, kenapa aku begitu bisa banyak bicara pada Lula. Padahal selama ini aku tidak suka bila dekat dengan seorang wanita" ucapnya, siapa lagi kalau bukan Arya
"Tapi kenapa setiap aku mengingat gadis gila itu, jantungku berdegup kencang" ucap Arya memegang dadanya
"Tidak bisa di biarkan, aku harus segera memeriksakan diriku, siapa tau setelah aku bertemu dengan Lula, aku punya sakit jantung" ucap Arya meraih ponselnya
.
Di sisi Lula
__ADS_1
"Kenapa setiap aku bertemu dengan pria itu, aku selalu saja tertimpa sial" ucap Lula
"Tapi sebenarnya bukan aku sih yang sial, tapi dia yang selalu menjadi korban" ucap Lula tertawa kecil
"Tapi dia ganteng juga sih, tapi sayang galak" ucap Lula menatap cermin di hadapannya
.
.
45 menit kemudian, pesanan Arvin sudah datang, Arvin segera memberikannya pada Lista
"Sayang, coba lihat kamu mau pakai yang mana?" tanya Lista
"Aku mau pakai yang warna merah" ucap Rahsya
"Baiklah, sekarang ayo pakai" ucap Lista merawat Rahsya dengan lembut dan penuh kasih sayang
Setelah itu, Lista membawa Rahsya turun dan makan bersama
"Sini sayang duduk di samping nenek dan kakek" ucap ElinElin, Lista terseyum melihat kedua mertuanya begitu menyayangi Rahsya
Lista mengambil piring Arvin dan mengisinya dengan nasi dan lauk kesukaan suaminya itu
"Ini mas" ucap Lista
"Terimkasih sayang" ucap Arvin
"Ayo di makan" ucap Elin
"Terimakasih nenek" ucap Rahsya tersenyum
"Sama-sama sayang" ucap Elin lembut
Rahsya makan dengan begitu lahap, Lista yang melihatnya pun tersenyum karena sepertinya Rahsya tudak canggung lagi kepada Elin dan Ramon
Rahsya menatap Lista dan Elin, lalu Rahsya mendekatkan wajahnya pada telinga Elin
"Nenek bolehkan Rahsya nambah?" ucapnya berbisik
"Boleh sayang" ucap Elin mengambilkan nasi untuk cucunya itu
"Terimakasih nenek" ucap Rahsya
"Rahsya hanya dua kali makan ayam goreng, ayah bilang ayah tidak punya uang untuk beli ayam goreng" jawab Rahsya
"Sudahlah, sekarang kamu makan yang banyak ya, biar cepat besar dan kuat" ucap Ramon
"Iya kek" ucapnya
Setelah makan, Lista membawa Rahsya menemui bibi
"Bi Ani" panggil Lista
"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Ani
"Tidak ada bi. Rahsya ini bi Ani dan yang disana bi Ina" ucap Lista
"Halo bibi, perkenalkan namaku Rahsya" ucap Rahsya sopan
"Tuan muda kecil ganteng sekali" ucap bi Ina
"Terimakasih bi" ucapnya
"Bibi mana?" tanya Lista
"Bibi sudah pulang kampung nyonya, anaknya sakit jadi dia berhenti kerja dan merawat anaknya" jawab bi Ina
"Kasihan sekali" ucap Lista
"Rahsya, dimana kamu?" panggil Arvin
"Dengar, daddy memanggilmu" ucap Lista, Rahsya segera berlari mencari keberadaan Arvin
"Ada apa daddy memanggilku?" tanya Rahsya
__ADS_1
"Lusa kamu sudah sekolah, daddy sudah mendaftarkan kamu" ucap Arvin
"Benarkah daddy, aku sudah sekolah?" tanya Rahsya
"Iya sayang" ucap Arvin lembut
"Yeay terimaksih daddy" ucapnya memeluk Arvin
"Sama-sama sayang" ucap Arvin
"Mas, kamu di panggil papi" ucap Lista
"Iya sayang" ucap Arvin
"Mami, daddy bilang aku lusa akan pergi sekolah" ucap Rahsya terlihat senang
"Benarkah, wah hebat sekali" ucap Lista memeluk Rahsya
"Ya sudah sekarang Rahsya tidur ya, besok mami akan bawa kamu jalan-jalan" ucap Lista
"Baik mami" ucap Rahsya mengikuti langkah Lista yang sedang meuntun tangannya menuju kamarnya
"Waah, mami tidak salah, apa ini kamar Rahsya?" tanyanya
"Iya sayang, memangnya kenapa?" tanya Lista
"Mami, apa nanti mami tidak akan menyesal?" tanya Rahsya
"Menyesal kenapa sayang?" tanya Lista
"Kenapa mami begitu sayang pada Rahsya, padahal Rahsya bukan anak kandung mami" ucap Rahsya menunduk
"Rahsya mulai sekarang dan seterusnya kamu anak mami dan daddy" ucap Lista menoel hidung Rahsya
"Dan mulai saat ini juga, kamu akan menjadi putra pertama Arvin Prasetya" ucap Arvin yang baru masuk bersama kedua orang tuanya
"Rahsya sekarang nama kamu Rahsya Prasetya, bagaimana apa kamu senang dengan nama barumu?" tanya Elin
"Tentu saja aku senang nek, sekarang aku sudah punya keluarga yang utuh" ucap Rahsya tersenyum sambil mengeluarkan air mata bahagia
"Sudah jangan nangis lagi, Rahsya sekarang tidur dan mimpi indah" ucap Lista mencium kening dan pipi Rahsya
"Selamat malam sayang" ucap Lista
"Selamat malam mami, selamat malam daddy dan selamat malam kakek nenek" ucap Rahsya
"Malam sayang" ucap mereka bersama
Lalu mereka keluar dari kamar Rahsya dan menutup pintu kamarnya
"Kenapa orang tuanya bisa setega itu meninggalkan Rahsya" ucap Elin
"Aku juga tidak tau mi, aku rasa dia sudah kehilangan akal sehatnya" ucap Arvin geram
"Sudah kalian istirahat saja, ini sudah malam" ucap Ramon
"Iya pi, papi dan mami juga istirahat ya" ucap Lista
"Iya sayang" ucap Elin lembut
"Pi, mungkin kita memang kehilangan cucu kita, namun sekarang kita sudah mempunyai cucu, ya walaupun bukan cucu kandung" ucap Elin
"Cucu kandung atau bukan, bagi papi sama saja. Yang penting keluarga kita akan selalu utuh dan bahagia" ucap Ramon memeluk istrinya
Disisi Lista...
"Mas aku tidak menyangka mama akan menerima kehadiran Rahsya di rumah ini" ucap Lista
"Tentu saja mereka akan sangat menerima Rahsya. Karena yang mereka inginkan dari dulu adalah seorang cucu" ucap Arvin lembut
"Iya, tapi Rahsya bukan cucu kandungnya. Tapi mami dan papi begitu sangat menyayangi Rahsya
"Sudahlah, ayo cepat tidur" ucap Arvin membaringakn istrinya dan menyelimutinya dan tidur
Tepat pukul dua belas malam, Lista mendengar teriakan Rahsya
__ADS_1
"Tidaak, Ayaaah"....
**Bersambung**