
"Braak"tiba-tiba seseorang mendobrak pintu itu dengan keras
"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku" ucap pria paruh baya itu geram
"Berani sekali kau menyentuh istriku" ucap Arvin dengan tatapan membunuh
Pria paruh baya itu sedikit ngeri dengan tatapan Arvin
"Kenapa tidak berani" ucap Citra mendekat pada Lista dan menarik baju Lista hingga robek, pria paruh baya itu tersenyum
"Kau hanya pria cacat, apa yang bisa kau lakukan terhadap kami" ucap Pria paruh baya itu semakin mendekat pada Lista
"Sepertinya kau mau mati" ucap Arvin berdiri dari kursi rodanya
"Ka...kau bisa berdiri?" tanyanya terkejut, begitupun dengan Citra
"Apa kau pikir aku akan lumpuh selamanya tuan Doni Wijaya" ucap Arvin mendekat pada pria paruh baya itu
Pria itu tertawa terbahak melihat Arvin yang bisa berdiri
"Kurang ajar" ucap Doni geram
"Apa kau kecewa karena Bian tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Arvin menyeringai
"Bagaimana kau tau itu?" tanya Doni terkejut
"Karena aku bukan penghianat" ucap Bian tenang
"Kurang ajar. Arvin hari ini juga aku akan membunuhmu" ucap Doni lantang
"Maka lakukanlah" ucap Arvin tersenyum miring
"Tapi sebelum itu, aku akan membunuh istrimu itu" ucap Doni yang mengalihkan pandangannya pada Lista, namun Lista sudah tidak ada
Doni melihat arah Arvin, ternyata Lista sudah berada dalam pelukan Arvin
Saat Citra dan Doni lengah, Lista menggunakan kesempatan untuk berlari kepelukan Arvin
"Aaaaakkkh sial, kenapa kau diam. Seharusnya kau menjaga wanita itu dasar bodoh" teriak Doni pada Citra, membuat Citra geram dan mengepalkan tangannya
"Kenapa kau menyalahkan aku, salahkan putramu yang tak becus itu" ucap Citra geram
Arvin melepaskan pelukan Lista meminta Daniel untuk menjaga Lista
Dengan cepat Arvin menendang Doni dan menghajarnya hingga membuat kaki dan tangannya patah
"Apa kau pikir aku tidak tau. Kau dalang dari semua ini dan kau juga yang sudah membuatku lumpuh" ucap Arvin menginjak tangan Doni yang sudah patah
"Aakh, lepaskan aku. Lepaskan aku" teriak Doni, Arvin semakin menekan tangan Doni dengan kuat sehingga membuatnya berteriak kencang
Citra yang melihat kejadian itu, tiba-tiba gemetar dan memundurkan langkahnya
"Mau kemana nona, belum saatnya kau pergi" ucap Juan dan Reyhan yang menghadang Citra
"Ti.. Tidak lepaskan aku, aku tidak salah. Lista tolong aku" ucap Citra memohon
Kini Arvin beralih pada Citra, tatapan Arvin yang sudah siap untuk mencabik-cabik mangsanya
"Mas Arvin aku mohon, ampuni kak Citra" ucap Lista berlari memeluk Arvin
"Kau memohon untuknya, apa pantas Lista?" tanya Arvin geram
"Mas, bagaimanapun dia masih kekuargaku" ucap Lista memohon pada Arvin, Arvin menghela nafasnya
"Baik, aku ikuti permintaanmu" ucap Arvin pasrah
"Reyhan" ucap Arvin
"Itu salahmu karena membangunkan si raja iblis yang sudah lama tertidur" bisik Reyhan dan menyuntikkan sesuatu pada Citra membuat Citra berteriak kencang
"Kak, apa yang kamu lakukan" ucap Lista yang ingin berlari kearah Citra namun ditahan oleh Arvin
"Aku sudah menuruti keinginanmu untuk tidak menyakiti Citra, tapi aku tidak bisa untuk tidak menghukumnya" ucap Arvin lembut
__ADS_1
"Kalian semua brengsek. Lista asal kamu tau, Arvin yang sudah membunuh mama" ucap Citra, Lista menatap Arvin
"Benarkah, lalu bagaimana denganmu yang membunuh tuan Haidar" ucap Arya di samping Citra
Bagaikan tersambar petir Lista terkejut bukan main saat mendengar perkataan Arya
"Ja...Jadi papa meninggal karena di bunuh" ucap Lista menutup mulutnya tak percaya
"Bawa dia ke tempat Arya" ucap Arvin pada anak buahnya
Melihat Arvin dan yang lain lengah,Doni mengeluarkan pistolnya dan ingin menembak Lista
"Kau takkan semudah itu keluar dari sini" ucap Doni, namun Lista melihatnya lebih dulu
"Tidak mas Arvin" teriak Lista melindungi Arvin
"Door... door" suara tembakan Doni, Arvin membelalakkan matanya
Lista memejamkan matanya dan tak merasakan hal apapun, Lista membuka matanya dan ternyata seseorang menghadang peluru itu
"Kak Darren" teriak Lista menutup mulutnya
"Darren" ucap Arvin menangkap tubuh Darren yang perlahan mulai jatuh
"Darren" ucap ketiga sahabatnya dan menghampiri Darren
"Maaf aku terlambat datang" ucap Darren menahan sakit
"Mas bawa kak Darren kerumah sakit dulu" ucap Lista menangis, entah melihat Darren yang terluka Lista merasakan hal aneh pada dirinya
Arvin mengepalkan tangannya berdiri dan berjalan pelan menuju Doni
"Awalnya aku tidak ingin membunuhmu, tapi melihat kau menyakiti sahabatku maka aku sendiri yang akan mengantarkanmu bertemu dengan ajalmu" ucap Arvin mengarahkan pistol pada kepala Doni
"Dor" saat Arvin akan menekan pelatuknya, tiba-tiba seseorang menembak Doni lebih dulu
"Re... Reki kau berani membunuh papamu?" tanya Doni tak percaya
"Bukankah aku sudah bilang jangan menyakiti Lista" ucap Reki
Lista langsung lemas melihat darah yang berserakan di gudang itu
"nyonya" ucap Bian menahan tubuh Lista
Reyhan dan Juan membawa Darren kerumah sakit, sedang Arya dan Bian membawa Citra juga Reki ke markas milik Arya
"Apa yang mereka berikan padaku?" tanya Citra dengan suara lemas
"Kau tenang saja, obat itu tidak bahaya. Hanya saja kau akan merasakan sakit setiap saat" ucap Arya menyeriangai
"Kamu brengsek" ucap Citra dengan suara lemah
"Aku memang brengsek, tapi aku tak sejahat dirimu" ucap Arya
"Tapi kau tenang saja. Sebentar lagi kau akan berkumpul dengan mama dan suamimu" ucap Arya
Sedangkan Reki kembali pingsan karena obat dari Reyhan
.
.
Sedangkan di rumah sakit....
Tubuh Lista masih gemetar, Arvin yang sudah mengganti bajunya memmeluk Lista
"Mas, kenapa aku merasa sakit saat melihat kak Darren terluka" ucap Lista memeluk Arvin
"Apa kaun menyukainya?" tanya Arvin sedikit kesal, Lista menggelengkan kepalanya
"Aku seperti merasa sangat dekat dengan kak Darren" ucap Lista, Arvin memeluk Lista dengan erat
"Tapi bagaimana mas Arvin tau kalau aku diculik?" tanya Lista
__ADS_1
**Flashback On
Di perusahaan
Arvin yang saat itu sedang berada di ruang rapat, tiba-tiba memiliki firasat tak enak
Tiba-tiba ponsel Arvin berdenting, dia segera membuka ponselnya
"Berhenti" ucap Arvin dengan wajah penuh amarah
"Daniel" ucap Arvin, Daniel yang mengerti segera mendorong kursi roda Arvin keluar dari ruang rapatnya
"Daniel segera pergi ke lokasi, aku sudah mengirim alarm sinyal pada Arya dan yang lain" ucap Darren
**Flashback Off
"Aku memasang alat pelacak di kalung yang papa berikan padamu" ucap Darren
"Terimakasih mas, kalau kamu tidak datang entah apa yang akan terjadi padaku" ucap Lista memeluk Arvin erat
Sedang Juan masih menunggu di depan kaca ruang operasi dengan perasaan khawatir
"Mas bagaimana dengan Reki?" tanya Lista
"Dia sengaja berteman denganmu. Dia tau kelamahanku adalah kamu. Tapi seiring berjalannya waktu, Reki memiliki perasaan padamu, jadi dia tidak ingin menyakitimu" ucap Arvin menjelaskan
"Bagaiamana kau tau tenang semua itu?" tanya Lista
"Bian menipu Doni. Doni membayar Bian untuk menghianati ku, tapi Bian mampu membuat Doni percaya bahwa Bian menghianati ku" ucap Arvin
Tak berapa lama, pintu ruang operasi terbuka
"Kak bagaimana dengan kak Darren?" tanya Lista
"Pelurunya sudah din keluarkan,dan dia sudah melewati masa kritisnya" ucap Reyhan, Lista merasa lega memdengar keadaan Darren
"Lista, Arvin" panggil mami Elin terlihat khawatir
"Mami" ucap Lista memeluk mertuanya itu
"Sayang kamu gak papa?" tanya Elin dan Ramon
"Lista baik-baik saja, tapi kak Darren terluka" ucap Lista menatap ruang operasi
"Bagaiamana dengan Darren?" tanya Ramon
"Dia sudah melewati masa kritisnya" jawab Arvin
"Syukurlah" ucap Elin dan Ramon
"Apa kita bisa melihat Darren?" tanya Juan
"Tunggu sebentar lagi. Aku akan memindahkan keruang perawatan" ucap Reyhan menepuk bahu Juan
.
Sementara di tempat lain...
Citra merasa ingin muntah saat dia berada di ruang bawah tanah
"Tempat apa ini, aku tidak mau" ucap Lista, namun tak bisa memberontak
"Sekarang disinilah tempatmu berada" ucap Arya mendorong tubuh Citra
"Citra" ucap Ratna pelan
"Mama" ucap Citra. Ratna terlihat sangat kurus dan kulitnya hitam, sedangkan Evan terlihat pucat dengan rambut gondrong
"Sepertinya kau memang pantas di tempat ini. Karena kekuargamu ada disini" ucap Arya menatap sinis ketiga orang itu dan pergi dari ruang bawah tanah
Ratna merangkak menghampiri Citra. Ratna tidak bisa berjalan karena kakinya sudah di buat patah oleh Arya
Citra tidak bisa memberontak . Dia hanya bisa berteriak dan menangis menahan sakit di tubuhnya
__ADS_1
**Bersambung**