Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 24


__ADS_3

Di sebuah mall, sepasang kekasih itu terlihat senang saat berada di toko perhiasan, namun tiba-tiba wajah wanita murung saat kekasihnya menyematkan cincin di jari manisnya


"Apa kamu sudah benar-benar ingin menikah dengan ku?" tanya sang perempuan sedikit ragu


"Kenapa, apa kau ragu padaku?" tanya sang pria menatap mata kekasihnya itu


"Bu...bukan begitu, aku tau kau serius. Hanya saja, apakah ini tidak terlalu cepat?" ucapnya menunduk


"Viona, kita udah lama bersama. Sudah 2 tahun Vi, apa itu masih belum cukup?" tanya Reyhan menatap Viona semakin dalam.Ya gadis itu adalah Viona


"Aku hanya takut, kita belum siap menikah" ucap Viona, Reyhan mengerutkan keningnya


"Lihat mataku, apa aku pernah berbohong padamu?" tanya Reyhan, Viona menggelengkan kepalanya


"Apa aku pernah bilang tidak saat kau ingin sesuatu atau saat kau ingin pergi?" tanya Reyhan lagi, lagi-lagi Viona menggelengkan kepalanya


"Lalu apa yang membuatmu tidak yakin bahwa kita belum siap menikah?" tanya Reyhan tegas


Viona sedikit takut dengan Reyhan yang begitu tegas seperti sekarang ini. Tiba-tiba Viona memeluk Reyhan sambil menangis


"Maafkan aku kak, aku hanya takut jika nanti akun melakukan kesalahan kau akan marah dan meninggalkan aku" ucap Viona memeluk Reyhan erat


"Aku tidak akan meninggalkanmu, kesalahan apapun aku bisa maafkan asal itu bukan pengkhianatan" ucap Reyhan memeluk Viona dan mencium pucuk kepala Viona


"Ekhem... ekhem" salah satu karyawan itu berdehem mencoba menyadarkan mereka bahwa itu bukan tempat pribadi melainkan tempat umum


Reyhan dan Viona segera melepaskan peluaknnya dan melihat sekelilingnya. Untung saja tidak begitu ramai


"Maaf mbak, kita ambil cincin yang tadi dia coba" ucap Reyhan sedikit tak enak, karyawan itu mengangguk mengerti


"Kak, maafkan aku atas keraguanku tadi. Dan terimakasih kamu sudah sabar bersamaku selama ini" ucap Viona merangkul lengan Reyhan


"Sama-sama sayang" ucap Reyhan lembut


.


.


Di kediaman Arvin


Lista berjalan kearah taman belakang, dan melihat sang mertua sedang berada disana menanam bunga


"Mami, papi" panggil Lista


"Ada apa sayang, kemarilah kita menanam bunga bersama" ucap Elin dengan tangan yang penuh tanah dan pupuk


"Tapi Lista tidak pernah menanam bunga sebelumnya" ucap Lista


"Tidak apa, kemarilah mami dan papi akan mengajarimu" ucap Ramon sambil menggali tanah


"Baiklah" ucap Lista juga turun menghampiri sanga mami


"Mi ini bunga apa, dia sangat bagus?" tanya Lista yang melihat bunga yang begitu indah


"Itu namanya bunga Anyelir, ini cocok untuk taman seperti ini" ucap Elin


"Kau pergi ke sana dan gantung ini" ucap Elin meminta Lista untuk meletakkan bunga yang sudah Elin siapkan


Cukup lama mereka berkebun hingga menjelang sore sampai mereka tidak mengetahui kedatangan Arvin


"Bi, kemana semua orang?" tanya Arvin bingung

__ADS_1


"Ada di taman belakang tuan" jawab bi Ina


Arvin langsung beejalan menuju taman dan melihat taman belakang sudah berubah total


Arvin tersenyum melihat wajah Lista yang cemong penuh dengan tanah


"Mi, tamannya berubah jadi indah" ucap Lista


"Tugas kamu setiap pagi adalah menyirami bunga ini, seperti mami ajarkan tadi" ucap Elin


"Siap mi" ucap Lista dengan bergaya hormat pada mertuanya itu, membuat mertuanya geleng kepala


"Sudah sana mandi, lihat wajahmu penuh dengan tanah" ucap Elin lembut


"Iya mi" ucap Lista


Saat Lista melewati pintu belakang, tiba-tiba ada yang menarik tangan Lista dan mencium bibirnya


Lista terkejut saat Arvin tiba-tiba mencium bibirnya


"Eeemm.... emmm... emmm" Lista memukul dada bidang Arvin


"Mas Arvin, kau selalu saja mengagetkan aku" ucap Lista kesal


"Aku merindukanmu" ucap Arvin


"Mas aku kotor. Lihat bajumu juga kotor" ucap Lista menunjuk kemeja Arvin yang kotor


"Benar, kau sangat kotor. Jadi kau harus membersihkannya" ucap Arvin menggendong tubuh Lista dan masuk ke kamarnya


Lista menutup wajahnya malu, karena dia melewati bi Ina, bi Ani dan Bian


Bian hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum


"Bucin itu apa Bian?" tanya bi Ani tak mengerti


"Bucin itu singkatan budak cinta. Anak jaman now" ucap bi Ina cekikikan


"Apa lagi itu budak cinta, aku tidak tau" ucap bi Ani melanjutkan pekerjaannya, yang membuat bi Ina menepuk keningnya pelan


Arvin langsug membawa Lista ke kamar mandi


"Mas, kenapa kamu membawaku ke kamar mandi juga?" tanya Lista


"Tentu saja untuk mandi sayang" ucap Arvin


"Kalau begitu kau dulu yang mandi, aku akan keluar" ucap Lista turun dari gendongan Arvin


Arvin menarik tangan Lista dan memeluk pinggang ramping Lista


"Hari ini kita akan mandi bersama" bisik Arvin membuat Lista sedikit geli


"Ta...tapi.... " Belum selesai Lista bicara, tiba-tiba Arvin menyalakan shower dan membasahi tubuh keduanya


"Tidak ada kata tapi" ucap Arvin mencium bibir Lista dengan lembut


"Mas, aku tidak bisa melakukannya disini" ucap Lista


"Kita harus mencoba tempat yang baru sayang" ucap Arvin dengan suara pelan dan tentu saja dengan gairahnya yang sudah memuncak


.

__ADS_1


.


Di lain tempat...


"Jika kau mau balas dendam, aku akan membantumu" ucap Arya tersenyum


"Kau ingin membantuku balas dendam pada Arvin?" tanya Reki


"Untuk apa pada Arvin, tentu saja pada wanita sialan itu" ucap Arya


"Tidak aku tidak percaya dengan ucapanmu" ucap Reki masih tak percaya


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi kau yang jelas lebih tau siapa dia" ucap Arya meninggalkan Reki sendiri disana


"Dia tidak mungkin menipuku. Dia sangat mencintaiku" ucap Reki pelan sambil menggelengkan kepalanya


Masih di markas Arya..


"Bos, sepertinya dia sudah mati" ucap anak buah Arya


"Ayo kesana" ucap Arya yang menuju ruang bawah tanah tempat Citra dan Ratna


"Ma, bangun ma. Kenapa mama tinggalin aku sendirian" ucap Citra hanya bisa menangis sambil melihat mamanya yang sudah tak bernyawa


"Oh sudah mati. Baguslah, jadi aku tidak perlu mengotori tanganku" ucap Arya tenang


"Kau bajingan, kau sangat kejam" ucap Citra


"Kau bilang aku kejam, lalu bagaiamana dengan dirimu" ucap Arya tertawa


"Ryo, bawa dia ke pembakaran sampah, dan bakar dia" ucap Arya


"Tidak, kau harus memakamkan mamaku secara layak" ucap Citra


"Apa dia pantas?" tanya Arya sinis, dan meninggalkan Citra, sedang Ryo di bantu temannya untuk membawa Ratna ke pembakaran sampah


"Tidaaak mama, mama" ucap Citra berteriak histeris tanpa bisa bergerak


.


.


Di negara lain...


"Ingat kau harus tetap mengawasi dia" ucap pria yang sudah lanjut usia itu


"Baik tuan Charles. Tapi tuan saya rasa ada seseorang yang juga sedang mengawasi dia" ucap bawahannya sopan


"Aku tau, kau juga harus menyelidiki siapa orang itu. Jika musuh kau harus berhati-hati" ucap Charles terlihat sangat berwibawa


"Dad, aku akan segera pergi ke perusahaan" ucap pria tampan itu sopan


"Robert, apa kau ingat yang Daddy katakan padamu?" ucap Charles


"Daddy tenang saja, aku sudah bicara pada Ethan untuk pergi ke negara Indonesia" jawab putranya itu


"Baik, aku percayakan semua padamu" ucap Charles


"Daddy jangan khawatir, aku pasti akan berjuang demi keluarga ini" ucap Robert memeluk ayahnya yang sudah tua itu


Robert memeluk ayahnya dengan sangat erat dan mengepalkan tangannya kuat

__ADS_1


**Bersambung**


__ADS_2