
"Apa?" tanya Lista terkejut
"Dan Daniel juga berada di rumah sakit sekarang" ucap Risa
"Kenapa dengan Daniel?" tanya Lista menatap Risa
"Aku juga tidak tau, kemarin aku dapat kabar kalau Daniel dirawat" ucap Risa
"Kau tak bertanya pada Daniel?" tanya Cantika
"Dia bilang hanya kecelakaan kecil" jawab Risa
"Nanti aku akan coba tanyakan pada mas Arvin" ucap Lista
Entah apa saja yang mereka bicarakan, kadang mereka serius, tapi kadang meraka tertawa
Setelah mereka cukup lama mengobrol, ketiga sahabat Lista pamit untuk pulang, karena lumayan lama di rumah Lista
"Sayang, pergilah mandi" ucap Arvin lembut
"Mas, apa yang terjadi pada Daniel?" tanya Lista langsung pada intinya
"Dia tidak apa-apa, dia sedang mengerjakan tugas dariku" jawab Arvin tenang
"Mas jangan berbohong padaku" ucap Lista menatap mata Arvin dalam
Arvin menghela nafasnya dan duduk di samping Lista sambil menggenggam tangan Lista
"Aku bukan membohongimu, hanya saja aku tidak ingin kau cemas dengan masalah yang terjadi belakangan ini" ucap Arvin
"Masalah apapun aku tidak akan takut untuk menghadapinya, asalkan kamu ada di sisiku" ucap Lista
"Terimakasih, dan maafkan aku" ucap Arvin memeluk Lista
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi" tanya Lista menatap wajah Arvin
"Mungkin saja. Sudah kau jangan memikirkan masalah ini, cepat pergi istirahat. Aku akan keluar" ucap Arvin mencium bibir Lista lembut
"Baiklah, tapi kau harus hati-hati" ucap Lista memeluk suaminya itu
"Iya sayang" ucap Arvin lembut
Tak lama setelah itu, terdengar suara deruman mobil di depan rumah Arvin
"Selamat siang tuan, nyonya" sapa Bian
"Bian apa kau baik-baik saja?" tanya Lista saat mendengar suara Bian
"Saya baik-baik saja nyonya" ucap Bian sedikit menunduk
"Baguslah kau datang, aku akan keluar" ucap Arvin
"Baiklah tuan, saya akan menjaga nyonya" ucap Bian
"Sayang untuk sementara kau jangan keluar rumah ya" pinta Arvin, Lista mengangguk
Setelah itu, Arvin meninggalkan kediamannya dan melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang
Arvin meminta ketiga sahabatnya dan Ethan menemuinya di cafe tempat biasa mereka berkumpul
Baru saja Arvin sampai, ternyata disana Darren dan Ethan sudah datang
"Awal sekali kau datang, dimana Ethan?" tanya Arvin
"Aku disini" ucap Ethan di belakang Darren
"Yang lain belum datang?" tanya Arvin
"Belum, kita tunggu mereka di dalam" ucap Darren berjalan menuju ruangan VIP dan diikuti Arvin dan Ethan
"Bagaimana apa ada informasi?" tanya Arvin
"Aku belum dapat kabar, tapi Juan sepertinya sudah mendapatkan informasi" jawab Darren
"Maaf kami terlambat" ucap Juan dan Reyhan bersama
"Lambat" ucap Darren kesal, membuat Juan memukul lengan Darren
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Arvin langsung
"Mobil sedan hitam itu aku gagal menangkapnya" ucap Juan
" Tapi ada yang aneh dengan pemilik mobil itu, saat aku mencoba menyerangnya, dia tidak membalasku malah dia sengaja menghindariku" ucap Juan merasa aneh
"Apa kau ingat wajahnya?" tanya Ethan
"Tidak, dia menggunakan masker dan kaca mata hitam" jawab Juan
"Sial" umpat Arvin
"Aku ada rencana" ucap Ethan
"Katakan" ucap Darren
Entah rencana apa yang dikatakan Ethan pada mereka
.
.
Di tempat lain...
"Katakan siapa yang membayar kalian?" tanya seorang pria dengan memainkan sebuah pistol di tangannya
"Kami tidak tau" jawabnya
"Door" satu tembakan melesat melewati pipi salah satu pria pemotor itu
"Sepertinya tidak akan ada kesempatan kedua untuk kalian" ucapnya pada keempat pria pemotor itu
"Ma...maafkan kami, kami hanya orang biasa" ucapnya gugup
"Lalu katakan" ucapnya
" Kami tidak tau siapa dia, tapi kami mempunyai fotonya" ucapnya ketakutan sambil menunjukkan ponselnya
"Baik, aku ampuni kalian" ucapnya merampas ponselnya dan meninggalkan ke empat pria itu, dengan tangan dan kaki di rantai
Tak butuh waktu lama untuk pria itu sampai di tempat tujuan, dan langsung menuju tempat yang memang sudah di pesan
"Selamat siang para tuan muda, maafkan saya terlambat" ucap pria itu sedikit membungkuk
"Lexi, duduklah" ucap Arvin
"Terimakasih tuan muda" ucap Lexi sopan
"Aku sudah memintamu untuk menyelidiki tentang kejadian tadi pagi, apa kau mendapatkan informasi?" tanya Arvin
"Sudah tuan, mereka sudah mengaku" jawab Lexi
"Siapa yang membayar mereka?" tanya Darren
"Mereka tidak tau siapa dia, tapi dia menunjukkan ini padaku" ucap Lexi menunjukkan ponsel itu
Melihat foto diponsel itu, Arvin mengepalkan tangannya, wajah merah padam penuh amarah
"Vin, apa kau mengenalnya?" tanya Juan
"Tentu saja aku jelas tau siapa dia" ucap Arvin datar, namun sangat menakutkan membuat Lexi bergidik ngeri
Arvin kembali kerumah dengan perasaan masih penuh dengan amarah
Namun amarah Arvin mereda saat melihat wanitanya memeluk dirinya dengan manja
"Mas, kenapa kamu baru pulang?" tanya Lista
"Maafkan aku, aku terlalu sibuk" jawab Arvin mengecup bibir Lista
"Mas, kamu mandi trus kita makan malam ya" ucap Lista memeluk suaminya
"Baiklah, karena istriku memaksa" ucap Arvin mencubit pipi Lista lembut
"Kapan aku memaksa, aku hanya memintamu sekali" ucap Lista melepas pelukannya
"Iya, aku mandi dulu" ucap Arvin mencium kening Lista
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya,..
Seseorang mengetuk sebuah pintu apartemen milik Gina
"Si... siapa kalian?" tanya Gina terkejut saat membuka pintu, karena melihat seorang pria berjas serba hitam
"Maaf nona, tuan Arvin ingin bertemu dengan anda" ucapnya
"Tuan muda Arvin?" tanya Gina bingung
"Baiklah tunggu sebentar" ucap Gina masuk dan mengganti pakaiannya dan setelah itu dia keluar
"Mari silahkan nona" ucapnya sopan
"Wah senangnya bisa naik mobil tuan muda dan menikmati aroma tuan muda.Apa tuan muda ingin minta maaf dan memintaku kembali keperusahaan?" ucapnya dalam hati terlihat senang
Saat sampai di tempat tujuan, Gina merasa bingung kenapa dirinya dibawa ke tempat yang aneh dan bukan rumah Arvin
"Silahkan, tuan muda sudah menunggu" ucapnya membawa Gina melewati jalan yang penuh dengan senjata dan sangat mengerikan
"Kenapa tuan muda memintaku kemari?" tanya Gina, namun pria itu tak menjawab pertanyaan Gina
"Tuan muda ada didalam" ucapnya mempersilahkan masuk
Gina melangkahkan kakinya hingga dia bertemu dengan pria yang sedang menatapnya
Gina terkejut saat melihat keempat pria yang sudah babak belur du hadapannya itu
"Kenapa kau terkejut Gina, apa kau mengenal mereka?" tanya Arvin dengan tatapan tajam
"Tu...tuan muda, ke... kenapa anda meminta saya kemari?" tanya Gina terbata-bata
"Aku hanya ingin bertemu denganmu disini, sekalian aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Arvin mendekat pada Gina
"Tu...tuan muda ingin bertanya apa?" tanya Gina yang merasakan sesuatu hal akan terjadi
"Kau yang sudah meminta mereka untuk menyakiti istriku?" tanya Arvin berbisik
"Ti... tidak tuan, mereka bohong" ucap Gina panik
"Benarkah, kalau begitu akan membunuh kalian karena berbohong" ucap Arvin mengangkat pistolnya
"Jangan tuan, dia yang meminta kami untuk membunuh Lista. Saya akan mengembalikan uang kamu nona" ucap salah satu pria itu ketakutan
"Tidak mereka berbohong, saya tidak mengenal mereka" ucap Gina yang ingin kabur namun dihentikan oleh pengawal Arvin
"Aku bersumpah, siapa yang berani menyakiti istriku, aku tidak akan melepaskan dia" ucap Arvin dingin
"Tu... tuan, saya benar-benar tidak tau" ucap Gina memberontak
"Door" Arvin melepas satu pelurunya dan melewati atas kepala Gina
"Tuan maafkan saya, saya yang membayar mereka" ucap Gina mengaku dengan kaki yang gemetar
"Kenapa?" tanya Arvin dingin
"karena saya tidak suka dengan Lista. Dia begitu dekat dengan anda" ucap Gina menangis
"Selama ini saya mengagumi anda dan saya menginginkan anda" ucap Gina mendekat pada Arvin, namun Arvin segera menghindar
"Menjijikkan. Bawa dia ke tempat buaya peliharaan Arya dan biarkan dia merasakan daging segar manusia" ucap Arvin tersenyum sinis
"Tuan muda saya mohon ampuni saya" teriak Gina histeris, namun tak di hiraukan oleh Arvin
"Dan untuk kalian, patahkan semua tangannya dan buang mereka di hutan belakang markas" ucap Arvin dingin dan segera meninggalkan tempat itu
Baru saja Arvin keluar, ponselnya tiba-tiba berdering dan tertera nama Bian disana
"Ada apa Bian?" tanya Arvin
"Apa?"
**Bersambung**
__ADS_1