
"Jonathan?" ucap Ethan yang mengenal pria itu
"Tuan muda" ucapnya memberi hormat
"Kau mengenalnya?" tanya Darren
"Dia asisten Daddy" jawab Ethan mengerutkan keningnya
"Kenapa kau disini?" tanya Ethan menatap Jonathan
" Maafkan saya tuan, saya hanya menuruti perintah tuan Robert" jawab Jonathan
"Daddy?" tanya Ethan mengerutkan keningnya
"Kembalilah" ucap Ethan
"Tapi tuan..." ucapan Jonathan terhenti ketika Ethan memotong ucapannya
"Katakan pada Daddy, aku yang akan mengawasi putri bibi disini" ucap Ethan menatap Jonathan
"Baik tuan muda" ucap Jonathan membungkukkan badannya dan pergi
"Kenapa paman meminta Jonathan mengawasi Lista?" tanya Darren
"Aku juga tidak tau, aku harus memastikannya sendiri" ucap Ethan yang meraih ponselnya dan menghubungi Robert
Entah apa yang dikatakan Ethan dan Robert, terlihat Ethan mengepalkan tangannya kuat
"Ethan apa kata paman?" tanya Darren
"Tidak apa-apa, dia memang mengirim Jonathan untuk membantuku. Tapi aku sudah mengatakannya pada Daddy" jawab Ethan sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku miliknya
Setelah itu, Arvin, Daniel dan Juan kembali ke rumah utama
"Daniel, apa kau merasa ada yang aneh?" tanya Bian
"Iya, kenapa bisa asisten tuan Robert bisa berada disini, bukankah disini sudah ada Ethan" ucap Daniel
"Daniel terus awasi Ethan dan Jonathan" ucap Arvin yang juga merasa ada hal yang janggal
Baru saja Arvin sampai di rumah utama, tiba-tiba ponsel Arvin berdering
"Ada apa?" tanya Arvin yang mengangkat telphonya
"Tuan, Reki berhasil kabur" ucap Lexi membuat Arvin membelalakkan matanya
"Bagaimana bisa, aku akan kesana sekarang" ucap Arvin mematikan telphonya
"Daniel kita ke markas sekarang" ucap Arvin
"Baik tuan" ucap Daniel kembali masuk ke mobilnya
"Bian kau jaga nyonya muda" ucap Arvin masuk ke mobilnya lagi
"Baik tuan muda" ucap Bian mengangguk
"Tuan ada apa?" tanya Daniel sambil mengemudikan mobilnya
"Reki berhasil kabur" jawab Arvin
"Bagaiamana mungkin tuan, Reki dikurung di ruang bawah tanah" ucap Daniel terkejut
"Itu yang membuat aku bingung, bagaimana bisa Reki kabur. Pasti ada penghianat di markas" ucap Arvin masih tenang
Saat sampai disana, Arvin segera ke ruang bawah tanah dan menemui Lexi
"Kenapa dengan mereka?" tanya Arvin melihat beberpa anak buah Arya tergeletak
"Saya juga tidak tau, saya menemukan mereka tergeletak dan tak bernyawa" ucap Lexi
"Apa kau sudah melihat rekaman di ruang bawah tanah?" tanya Arvin
"Sudah, tapi rekaman itu tidak berfungsi dan semua alat perekam mati" ucap Lexi
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Arvin menatap Lexi
"Saya mencurigai Dion" jawab Lexi
__ADS_1
"Dion?" tanya Arvin mengerutkan keningnya
"Benar, saat kekacauan terjadi, saya tidak melihat Dion sama sekali" jawab Lexi
"Apa kau yakin jika Dion?" tanya Arvin, namun Lexi sedikit bingung
"Aku rasa bukan Dion, karena aku menemukan Dion tergeletak di luar markas" ucap Darren, membuat Arvin dan Lexi semakin bingung
"Dimana sekarang Dion?" tanya Arvin
"Reyhan membawanya di dalam untuk diperiksa" ucap Darren
"Lexi minta anak buahmu untuk membereskan mereka, aku akan melihat keadaan Dion" ucap Arvin
"Baik tuan" jawab Lexi
Saat Arvin menuju tempat Dion, dia merasa ada seseorang yang sedang mengawasi mereka
"Sepertinya, dimarkas ini sudah tidak aman" ucap Darren pelan
"Kau merasakannya?" tanya Arvin, Darren mengangguk
" Rey, bagaimana keadaan Dion?" tanya Arvin
"Dia sudah tak bernyawa, tapi aku menemukan ini di tubuhnya" ucap Reyhan yang menemukan sebuah benda kecil di tubuh Dion
"Sialan, mereka sengaja membunuh Dion,agar kita tidak tau siapa dalang dari balik ini semua" ucap Darren mengepalkan tangannya
"Darren, Ethan dimana?" tanya Juan
"Dia kembali ke apartemen" jawab Darren
"Ada hal yang ingin aku bicarakan pada kalian" ucap Darren
"Apa?" tanya Arvin
"Kita pindah tempat" ucap Darren, ketiga sahabat Darren mengangguk mengerti
Entah apa yang Darren katakan pada ketiga sahabatnya itu
Di sisi lain, Lexi dan anak buahnya yang sedang membereskan mayat anak buahnya itu, merasa ada yang aneh dengan tempat tidur Reki
Lexi langsung membawa bungkusan itu ke tempat Reyhan
"Tuan muda, maaf mengganggu" ucap Lexi
"Ada apa?" tanya Juan
"Saya menemukan ini di tempat Reki" ucap Lexi memberikan bungkusan itu pada Reyhan
Reyhan membuka bungkusan itu, dan menciumnya
"Ini racun" ucap Reyhan
"Racun?" tanya Darren
"Benar, racun ini sangat mematikan, dan tidak akan ada yang selamat jika terkena racun ini" ucap Reyhan
"Iya, sepertinya Reki sengaja menunggu saat kita lengah untuk kabur" ucap Reyhan
"Jadi, Reki ada hubungannya dengan masalah beberapa terakhir ini" ucap Juan
"Apa Reki berhubungan dengan keluarga Louis?" tebak Reyhan
"Bisa iya bisa tidak" jawab Arvin
"Sialan" umpat Juan
"Tuan kami dapat informasi Reki menuju arah bandara" ucap Lexi
"Kita ke bandara, tapi sebagian ke pelabuhan dan stasiun" ucap Arvin
"Kenapa ke pelabuhan dan stasiun?" tanya Reyhan
"Karena bandara bisa saja untuk menjebak kita" jawab Juan yang tau maksud Arvin
"Kita pergi sekarang" ucap Darren dan bersiap pergi menuju bandara diikuti dengan yang lain
__ADS_1
Sementara itu disisi Lista...
Lista yang terbangun merasa bingung, karena tak mendapati Arvin di sampingnya
"Mas Arvin kemana?" tanya Lista melihat sekelilingnya dan menghubungi Arvin, namun ponsel Arvin tak bisa dihubungi
"Ini masih jam tiga pagi, tapi mas Arvin kemana?" ucap Lista lagi yang turun mencari suaminya
"Nyonya muda" panggil Bian pelan
"Bian, apa kau melihat mas Arvin?" tanya Lista
"Daniel tadi menjemput tuan muda, tiba-tiba ada masalah di perusahaan" jawab Bian berbohong
"Tengah malam?" tanya Lista terkejut
"Tuan muda memang seperti itu, dulu sebelum menikah dengan anda, tuan muda dan Daniel tidak pernah pulang ke rumah" jawab Bian mencoba membuat Lista percaya pada ucapannya
"Nyonya terbangun, apa nyonya menginginkan sesuatu?" tanya Bian, Lista menggeleng
"Lista kenapa kau diluar?" tanya Ramon yang keluar dari kamarnya
"Tuan" sapa Bian menundukkan badanya
"Lista sedang mencari mas Arvin, karena mas Arvin tidak ada di kamar" jawab Lista
Ramon menatap Bian, Bian menganggukkan kepala sekan mengerti arti tatapan Ramon
"Kamu tidak perlu khawatir, Arvin bukan anak kecil. Sebentar lagi Arvin pasti pulang" ucap Ramon menenangkan menantunya itu
"Kembalilah ke kamar, disini dingin. Ingat sekarang kau tidak sendiri" ucap Ramon melihat arah perut Lista
Lista mengelus perutnya dan mengangguk pelan. Lista berjalan menuju arah kamarnya
.
.
Keesokan paginya, Lista membuka matanya namun masih tak mendapati Arvin disampingnya. Lista berlari kekamar mandi, karena merasa mual
"Mas Arvin apa belum kembali" ucap Lista mencoba menghubungi Arvin kembali
"Kenapa mas Arvin tidak bisa dihubungi" ucap Lista merasa khawatir
Lista turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Setelah selesai mandi, Lista turun menuju meja makan. Lista mendapati kedua mertuanya dan Lula sedang menunggu dirinya
"Mami papi, maaf Lista kesiangan" ucap Lista merasa bersalah
"Tidak apa-apa sayang. Kamu sarapan dulu" ucap Elin lembut
"Iya mi" ucap Lista mengambil roti dan di beri susu seperti biasa
"Kak Arvin mana kak?" tanya Lula
"Kak Arvin sedang ada di perusahaan, semalam Daniel menjemputnya" ucap Ramon menatapn Elin, Lula menganggukkan kepalanya
Ramon berdiri dan menuju dapur, entah apa yang dilakukan papi mertuanya didapur
"Lista minumlah" ucap Ramon membawa susu ibu hamil untuk Lista
"Terimakasih pi" ucap Lista memaksakan senyumannya
Elin dan Ramon tau, saat ini Lista pasti khawatir tentang suaminya. Bukan hanya Lista, Ramon dan Elin saja tidak bisa menghubungi putranya itu
Saat Lista tengah memakan roti dan hatinya diliputi rasa kekhawatiran, Lista mendengar Bian memanggil nama Daniel
Lista beranjak dari duduknya dan segera berlari keluar
"Lista, hati-hati jangan lari" ucap Elin dan Ramon berdiri dikuti Lula yang keluar menyusul Lista
"Daniel, dimana mas Arvin?" tanya Lista
Daniel mematap Bian lalu menatap kedua mertuanya dengan wajah yang sulit diartikan
"Tu...tuan muda kecelakaan" ucap Daniel menatap Bian
__ADS_1
"Lista"....
**Bersambung**