Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 9


__ADS_3

Di tempat lain....


"Lepaskan aku, apa yang akan kalian lakukan padaku?" tanya Evan memberontak


"Ada apa ini, kenapa ribut sekali" ucap seorang pria dengan penampilan yang acak acakan seperti preman


"Bos, tuan muda ingin anda yang mengintrogasinya" ucap pria berbadan kekar itu


Sekali melihat Evan, pria yang di juluki bos itu sudah tau siapa yang di seret oleh anak buahnya


"Bawa dia keruang bawah tanah" ucapnya


"Dasar Arvin sialan, apa tidak bisa dia membiarkanku istirahat sebentar" ucapnya menggerutu kesal


Lalu pria itu menuju ruang bawah tanah dengan membawa senjata andalannya


"Wah... wah... wah, kau sangat sial sekali tuan muda Irawan" ucap pria itu yang melihat Evan sudah terikat di kursi


"Kau, bagaimana bisa tau margaku?" tanya Evan


"Menyelidiki latar belakangmu itu bukanlah hal yang sulit" ucapnya dengan memainkan pisau lipatnya itu


"Aku bisa memberikan apa yang kau mau, asal kau melepaskan aku" ucap Evan


"Apa kau sedang bernegosiasi denganku?" tanya pria itu tersenyum sinis


"Bagaimana kalau nyawamu?" sambung pria itu menatap Evan


"Kau" ucap Evan terhenti saat pria itu sudah mendekat pada Evan


"Apa yang bisa kau berikan padaku, kau sudah tidak memiliki apapun. Keluargamu sudah membuangmu" ucap pria itu berbisik di telinga Evan


"K...kau tau semua tentangku?" tanya Evan membulatkan matanya


"Katakan, kenapa kau membunuh tuan Haidar?" tanya pria itu menempelkan pisau lipat pada lehernya


"Aku...aku tidak melakukannya" ucapnya mengelak panik


Lalu pria itu sedikit menggores leher Evan dengan menghadapkan Evan pada cermin berukuran besar


"Lihatlah dirimu, jika jawabanmu tidak bisa membuatku puas, aku akan membuat lehermu terpisah dengan anggota tubuhmu" ucapnya, dengan leher yang sudah mengeluarkan darah


"Aku tidak suka tuan Dhitama yang selalu merendahkan aku" ucap Evan, namun pria itu semakin dalam menggores leher Evan


"Aku akan mengatakannya aku akan mengatakannya"


.


.


.


Di kediaman Dhitama...


"Plaak" sebuah tamparan melesat pada pipi Citra


"Kau" ucap Citra menatap Lista


"Kenapa kau selalu menghina suamiku. Seperti apa dia, dia tetaplah suamiku" ucap Lista.


Lista kembali masuk keruang tamu karena ponselnya tertinggal di meja


"Lista kau kurang ajar, berani kau menampar putriku" ucap Ratna yang ingin menampar Lista namun di tahan oleh Daniel yang juga ikut masuk


"Jika anda berani menyentuh nyonya muda, saya jamin anda tidak akan pernah melihat tangan anda lagi" ucap Daniel menatap tajam Ratna, membuat Ratna bergidik ngeri melihat tatapan Daniel


Semua langsung meninggalkan kediaman Dhitama


"Untuk sementara kita akan tinggal di rumah mami" ucap Arvin, namun Lista hanya diam tak menjawab perkataan Arvin

__ADS_1


.


Saat sampai di rumah mami, Lista berjalan dengan lemah dan langsung menuju kamarnya


"Vin, apa terjadi sesuatu di kediaman Dhitama?" tanya Elin


"Seperti biasa mi, mereka akan mencari masalah dengan Lista" jawab Arvin


"Mi, Arvin keatas dulu" ucap Arvin dan menuju lift yang untuk menuju lantai atas


Saat Arvin sampai kamarnya, dia melihat Lista berdiri di depan jendela kamarnya sambil terus meneteskan air matanya


"Lista, ini ada beberapa berkas yang papamu titipkan padaku" ucap Arvin memberikan berkas itu


Lista melihat kearah Arvin dan menghapus air matanya. Lista berjalan menuju meja dan mengambil berkas yang di tinggalkan papanya itu


Lista kembali menangis saat melihat berkas di tangnya tersebut


Lista jatuh terduduk di hadapan Arvin, tanpa sadar Lista menempelkan kepalanya pada paha Arvin


Arvin sangat prihatin melihat keadaan Lista, dia mencoba menenangkan Lista dan membelai rambut Lista dengan lembut


"Kenapa papa tidak memberikan langsung padaku?" tanya Lista dengan air mata yang mengucur deras


"Dia tidak berani, dia takut kau akan menolaknya" ucap Arvin


"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang" ucap Lista menangis


"Menangislah sepuasnya, tapi aku harap besok tidak ada kata menangis lagi" ucap Arvin sedikit tegas


Arvin membiarkan Lista menangis hingga dirinya lelah dan tertidur


.


.


Keesokan paginya, Lista terbangun sudah berada di atas tempat tidur. Lista melihat sekelilingnya yang sudah tidak ada Arvin disana


"Maaf mi Lista terlambat bangun" ucap Lista merasa tak enak


"Tidak apa apa sayang. Ayo sarapan" ucap Elin lembut


"Apa kau mau kuliah?" tanya Arvin datar


"Iya mas" jawab Lista


"Baiklah, Bian sudah menunggumu di depan" ucap Arvin masih dingin


Sedangkan Elin dan Ramon hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap putranya itu


Setelah sarapan, Lista mencium tangan mami dan papi untuk berpamitan


Lista mendorong kursi roda Arvin keluar menuju asisten Daniel yang sudah berada di luar


"Mas, aku pergi kuliah dulu" ucap Lista, entah mengapa hari ini Lista terlihat berbeda, dia mencium tangan Arvin


Arvin yang mendapat perlakuan itu, merasakan hal aneh pada dirinya


"Iya" jawab Arvin masih saja dingin


"silahkan nyonya" ucap Bian membukakan pintu Lista


"Nyonya, apa anda sudah merasa lebih baik?" tanya Bian


"Aku harus mencoba mengikhlaskan papa, agar papa tenang disana" ucap Lista tersenyum, Bian pun ikut tersenyum


.


Setelah sampai di kampus....

__ADS_1


Seperti biasa, ketiga sahabat Lista akan menunggu Lista di taman


"Lista" panggil Risa


"Hai" sapa Lista


"Sekarang kau duduk" ucap Viona mendorong Lista


"A... ada apa?" tanya Lista bingung


"Katakan apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Viona, Lista menggelengkan kepalanya


"Huft" Viona menarik nafasnya kesal


"Vi, yang tenang" ucap Cantika


"Aku udah lama mencoba menunggu kamu untuk jujur, tapi kamu gak ada cerita sama kita" ucap Viona kesal


"Hah, jujur apa?" tanya Lista dengan entengnya


"Apa hubungan kamu dengan pak Darren dan sahabat kak Reyhan yang duduk di kursi roda itu?" tanya Viona pada intinya


Lista membelalakkan matanya saat pertanyaan itu keluar dari mulut Viona


Sebelum menjawab pertanyaan Viona, Lista menghela nafasnya panjang


"Sebenarnya aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Darren" jawab Lista


"Tapi aku sudah menikah dengan sahabat pak Darren yang juga sahabat kak Reyhan" ucap Lista


"Tunggu, jadi maksud kamu, pria yang di kursi roda itu adalah suami kamu" ucap Viona sedikit kencang


"Hussst, jangan berisik" ucap Lista menutup mulut Viona


"Kenapa kamu gak ngasih tau kita?" tanya Cantika sedikit pelan


"Aku sengaja tidak memberi tau kalian, karena pernikahan ini hanya pernikahan kontrak saja" ucap Lista


"Apa?" ucap ketiganya berteriak


"Iiih, jangan berisik" ucap Lista lagi


"Lista, kamu keterlaluan. Selama ini kamu anggap kita apa?" tanya Risa yang sedikit kesal


"Ma... maaf" ucap Lista menunduk


"Hah, sudahlah. Kita sudah mengerti kondisi kamu. Kita tau mungkin kamu punya alasan pribadi, kenapa kamu tidak mengatakannya pada kami" ucap Cantika mencoba memahami Lista


"Terimakasih" ucap Lista memeluk ketiga sahabatnya


"Tapi, lain kali tidak ada rahasia lagi diantara kita ya" ucap Cantika, Lista mengangguk pasti


"Lista, aku pikir kamu tidak akan masuk hari ini" ucap Reki yang baru datang


"Hemh, aku akan suntuk jika dirumah terus" ucap Lista


"Ya sudah ayo kita masuk kelas" ajak Risa


"Hei aku baru datang kenapa kalian sudah mau pergi?" tanya Reki


"Suruh siapa tidak sekelas dengan kami" ucap Lista membuat Reki mendengus kesal


Saat Reki ingin menuju kelasnya, tiba-tiba saja ponsel Reki berdering


"Halo?" ucap Reki


"Apa?"


**Bersambung**

__ADS_1


Entah apa yang dikatakan orang dibalik telpon Reki, ikuti terus ya


__ADS_2