Suami Lumpuh Pilihan Papa

Suami Lumpuh Pilihan Papa
BAB 25


__ADS_3

Dua hari setelah itu, Lista bersiap untuk pergi ke perusahaan Arvin. Lista yang saat itu satu mobil dengan Arvin tiba-tiba Lista meminta Daniel untuk berhenti di sebuah toko roti


"Sayang, biar nanti Daniel yang akan membelikannya untukmu, aku masih ada rapat pagi ini" ucap Arvin, yang melihat toko roti itu lumayan ramai


"Kamu pergi saja ke kantor, aku akan menyusul. Lagipun, jaraknya tidak jauh" ucap Lista merangkul dan mencium pipi Arvin


"Baiklah, aku ikuti kemauan nyonya Prasetya" ucap Arvin mencubit hidung istrinya itu


Setelah menurunkan Lista, Daniel melajukan mobilnya menuju perusahaan


Saat Lista sedang mengantri, tiba-tiba seorang wanita menabrak Lista dan berdiri di depan Lista


"Kamu jalan gak pakai mata?" tanya wanita itu membentak Lista


"Mbak, seharusnya yang marah itu saya. kok malah situ yang nyolot" ucap Lista geram


"Lagian mbak datang belakang minta di depan. Tuh antri di belakang" ucap Lista yang menunjuk antrian lumayan panjang di belakang Lista


"Kamu tidak tau siapa saya?" tanya wanita itu


"Kita gak perduli kamu siapa, cepat sana antri di belakang" ucap seorang wanita di belakang Lista


"Antri sana, jangan seenaknya" ucap beberapa orang yang sudah mengantri


"Awas saja kamu ya" ucap wanita itu dan pergi dari toko roti itu, membuat Lista bingung


Setalah cukup lama mengantri, Lista segera menuju perusahaan Arvin dengan berjalan kaki


Saat sampai disana, Lista dihentikan recepsionis di perusahaan Arvin


"Selamat pagi nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan


"Pagi, saya ingin bertemu dengan Tuan Arvin" ucap Lista tersenyum


"Tuan muda sedang rapat, anda bisa menunggunya diruang tunggu" ucapnya membawa Lista duduk di ruang tunggu dan tak lupa dia memberikan minuman pada Lista


"Terimakasih" ucap Lista sopan


Baru saja Lista menunggu, tiba-tiba seorang wanita duduk di samping Lista


"Kau lagi, kenapa aku sial sekali bisa bertemu denganmu dua kali" ucapnya ketus, Lista tak menghiraukan ucapan wanita itu


"Maaf nona, tuan Arvin sudah selesai rapat" ucap Recepsionis tadi dan segera saja wanita itu keluar dan meminta Recepsionis itu membawanya menemui presdir mereka


Lista hanya diam, dia tak ingin berebut dengan wanita aneh seperti dia


Sambil memainkan ponselnya, Lista menunggu Daniel turun untuk menjemputnya


"Lista, sedang apa kau disana?" tanya Darren menghampiri Lista


"Aku sedang menunggu mas Arvin, tapi mas Arvin sedang rapat" jawab Lista


"Ya sudah, ayo aku bawa kamu keruangan Arvin" ucap Darren dan menuntun tangan Lista


"Maaf tuan, tuan muda sedang ada tamu" ucap Recepsionis itu


"Aku sudah buat janji" jawab Darren tanpa menatap staf Arvin tersebut


"Kenapa kak Darren disini, apa kak Darren sudah sehat?" tanya Lista saat mereka sudah memasuki lift khusus presdir


"Kak Darren sudah sangat sehat dan aku ada pekerjaan dengan Arvin" jawab Darren Lista memganggukkan kepalanya

__ADS_1


Saat pintu lift terbuka, Lista dan Darren melihat keberadaan Daniel yang sedang memainkan ponselnya


"Nyonya, baru saja saya akan menjemput anda" ucap Daniel dengan sopan


"Kau lama" ucap Darren menarik tangan Lista menuju ruangan Arvin


Tanpa mengetuk pintu, Darren langsung masuk keruangan Arvin yang saat itu juga ada seorang wanita


"Kenapa kau disini juga?" tanya wanita itu tak senang melihat kedatangan Lista


Arvin melihat ke arah pintu dan melihat wanita yang sudah dia tunggu dari tadi


Arvin mengerutkan keningnya saat wanita di ruangannya berbicara ketus pada istrinya


"Silahkan masuk" ucap Arvin datar


Lista dan Darren langsung duduk di sofa bersebelahan membuat Arvin sedikit kesal


"Untuk apa kau kemari?" bisik wanita itu


"Bukan urusanmu" jawab Lista ketus


"Nona Lista meja anda ada disebelah sana" ucap Arvin menunjuk meja yang sudah Erika siapkan


"Terimakasih tuan muda" ucap Lista sopan


"Kenapa dia bisa satu ruangan dengan anda?" tanya wanita itu


"Saya rasa itu bukan urusan anda" jawab Arvin dingin


"Proposal ini akan saya pelajari dulu, nanti asisten dan sekertaris saya yang akan menghubungi anda" ucap Arvin


"Baik tuan muda, saya harap anda sendiri yang mengabari saya" ucapnya sedikit centil,Arvin tak menghiraukan ucapan wanita itu


Wanita yang bernama Windy itu menatap sinis pada Lista, namun Lista tak menggubrisnya


"Maaf tuan muda, ini berkas yang anda minta" ucap Erika membawa beberapa tumpukan berkas


"Lista, kau pelajari ini" ucap Arvin tegas


"Sebanyak ini?" tanya Lista menatap Arvin, Arvin mengangguk


Tanpa berkata-kata lagi, Lista kembali ke meja kerjanya dan mempelajari berkas yang diberikan Arvin itu


"Darren, bagaimana keadaanmu?" tanya Arvin


"Seperti yang kau lihat" jawab Darren


"Vin, ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu" ucap Darren lagi


"Lista kau pelajari semua, jika tidak ada yang kau mengerti panggil Erika. Darren ikut aku" ucap Arvin membawa Darren keruangan Daniel


Entah apa yang mereka bicarakan, Arvin dan Darren cukup lama berada di ruangan Daniel


Sementara itu...


"Ternyata dia asisten tuan muda Arvin. Bisa aku ajak menjadi teman dan aku manfaatkan dia supaya aku bisa dekat dengan tuan muda" ucapnya tersenyum licik


.


.

__ADS_1


Di tempat lain....


Viona dan Cantika sedang berada di butik untuk memilih gaun pernikahan


"Cantika, kenapa Risa tidak di ajak?" tanya Viona


"Dia tidak mau. Dia lagi ada dinner sama Daniel" jawab Cantika


"Cantika, kita kok lama ya gak dengar kabar Reki?" tanya Viona


"Iya. Coba kamu tanya Lista, Lista kan cukup dekat dengan Reki" ucap Cantika


"Kau meminta Lista menghubungi siapa?" tanya Juan


"Reki" jawab Viona dan Cantika


"Untuk apa, Lista tidak akan menghubunginya" ucap Juan


"Kenapa?" tanya Viona bingung


"Karena selama ini dia membohongi kalian. Dia punya maksud lain berteman dengan kalian" ucap Reyhan, awalnya Cantika dan Viona tak percaya


"Tidak mungkin kak, Reki orang yang baik" ucap Viona


"Baik hanya untuk sebuah kebohongan" jawab Reyhan


Setelah Juan dan Reyhan mengatakan yang sebenarnya, Viona dan Cantika baru percaya


"Jadi saat penculikan itu, Lista sudah mengetahuinya?" tanya Viona


"Dia melihat jelas" jawab Reyhan


"Lalu bagaimana dengan Citra?" tanya Cantika


"Dia sudah mendapatkan hukumannya" jawab Reyhan yang tak mengatakan yang sebenarnya


"Sudah daripada kalian menanyakan masalah tak penting ini, lebih baik cepat tentukan gaunnya" ucap Reyhan segera mengalihkan topik


Cantika membantu Viona memilih gaun dan mencobanya, hingga senja datang, mereka baru keluar butik


.


.


Malam harinya...


Arvin dan Lista yang baru sampai rumah, Elin langsung menghentikan mereka dan meminta mereka duduk diruang keluarga


"Mi, ada apa?" tanya Arvin melonggarkan dasinya


"Apa kalian tidak merasa bersalah pada mami dan papi?" tanya Elin menatap putranya tajam


"Bersalah apa mi?" tanya Arvin, sedangkan Lista masih bingung


"Mami tanya, apa kalian benar-benar saling mencintai, atau semua ini hanya sandiwara?" tanya Elin, dengan suara yang sedikit meninggi


Lista dan Arvin saling pandang, lalu Lista menunduk tak bisa menjawab


"Kenapa mami bertanya seprti itu, tentu saja kami saling mencintai" ucap Arvin tenang


"Lalu ini apa, apa kalian mau membodohi mami dan papi?" tanya Elin melemparkan selembar kertas, Arvin membelalakkan matanya, saat melihat selembar kertas itu dian hadapannya

__ADS_1


"Dari mana mami mendapatkan ini?"


**Bersambung**


__ADS_2