
“Aku akan ambil tas lebih dulu.” Arriel segera berdiri. Mengayunkan langkahnya ke kamar.
Di ruang tamu Adriel menunggu Arriel. Jika begini, dia merasa sama dengan Neta. Jika perusahaan sampai tahu, pasti akan kena juga. Apalagi perusahaan semakin ketat.
“Aku harus bersabar, paling tidak, biarkan majalah rilis dulu.” Adriel tidak mau sampai berlarut-larut. Hingga membuatnya terjebak dalam pekerjaan dan cinta. Jika majalah cepat rilis. Cepar juga dirinya mendekati Arriel.
Saat Arriel keluar, Adriel dan Arriel segera pergi ke mal. Mereka berniat menikmati makan siang yang tertunda.
Mal yang tidak jauh dari apartemen Arriel membuat perjalanan begitu cepat. Sesampainya di restoran, mereka memilih salah restoran.
Di restoran Adriel dan Arriel menikmati makannya. Mereka menikmati makan dalam keheningan dan fokus pada makanan yang mereka makan.
“Maaf, kamu harus melihatku menangis.” Arriel memecah keheningan di saat makan.
“Tidak apa-apa. Menangislah. Siapa tahu itu akan melegakan.” Adriel tersenyum.
“Tetap saja aku malu, karena aku tidak pernah menunjukkan kesedihanku pada pria. ” Arriel tidak pernah menunjukkan kesedihannya itu pada laki-laki. Termasuk pada Dathan-mantan suaminya saja tidak.
__ADS_1
Adriel merasa berbangga hati. Di saat Arriel tidak mau menunjukkan kesedihannya pada orang lain, dia menunjukkan padanya.
“Kalau begitu, jangan tunjukan pada siapa pun selain aku.” Adriel menatap lekat wajah Arriel yang duduk di sofa tepat di depannya.
Pandangan Arriel yang sempat menunduk karena menyembunyikan wajahnya, segera menegak ketika mendengar ucapan Adriel. Membuat pandangan mereka saling beradu. Senyum tipis Adriel benar-benar mengalihkan dunianya.
“Aku hanya akan menangis di depanmu.” Pandangan itu menuntunnya berjanji. Seolah Arriel percaya, hanya di depan Adriel dia bisa menangis.
Adriel senang mendengar janji Arriel. Paling tidak, wanita di depannya akan meluapkan kesedihannya padanya.
“Sekarang Lolo sudah dekat denganmu. Jadi jangan sedih lagi. Kamu bisa jadi ibu yang baik ke depan untuknya.” Adriel tersenyum. Dia berusaha untuk menenangkan Arriel.
“Bagaimana jika setelah ini kita pergi menonton film mungkin.” Adriel memberikan ide. Dia berpikir, mungkin jika melakukan kegiatan lain, Arriel bisa jauh lebih baik.
Arriel merasa ide Adriel cukup menarik. Lagi pula dia bisa menggunakan waktu untuk lebih dekat dengan Adriel. Ada banyak hal yang dia ingin tahu tentang Adriel. Sebelum menjatuhkan pilihan pada Adriel.
...****************...
__ADS_1
Adriel dan Arriel sampai di bioskop. Mereka menonton film bersama. Kebetulan ada film baru yang belum mereka lihat. Sambil menunggu pintu teater terbuka, mereka menunggu di kafe yang berada di bioskop.
“Apa kamu pernah menjalin hubungan setelah bercerai?” Adriel melempar pertanyaan untuk mengisi keheningan.
Arriel tersenyum. “Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun setelah bercerai. Aku terlalu fokus bekerja.” Selama ini memang tidak terpikir olehnya sama sekali menjalin hubungan dengan orang lain.
“Kamu sendiri, apa sekarang tidak punya pacar?”
“Jika aku punya pacar, apa aku seberani ini mengajakmu pergi.” Adriel menatap lekat Adriel yang duduk tepat di depannya. Tangannya sambil mengaduk-aduk minuman dingin miliknya. Senyum manisnya pun menghiasi wajahnya.
Mendapati jawaban Adriel, jelas Arriel merasa jika memang Adriel tidak memiliki kekasih. Jadi jalannya mendekati Adriel tak akan ada halangan.
“Sebelumnya, apa kamu pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?” Arriel masih penasaran. Karena kemarin dia belum mendapatkan jawaban dari Neta.
“Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang.”
“Siapa?” Arriel memandang Adriel dengan tatapan yang begitu ingin tahu.
__ADS_1
“Neta.” Satu nama disebut Adriel.
Arriel membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika ternyata Adriel pernah menjalin hubungan dengan istri dari mantan suaminya.