
Arriel mengajak Adriel dan Bu Kania untuk makan bersama. Menikmati waktu bersama. Sejak tadi Loveta begitu menempel pada Adriel. Lovet menanyakan Liam yang tidak diajak oleh Adriel. Tentu saja itu membuat Adriel gemas. Gadis kecil itu begitu suka ketika ada Liam. Adriel akan berjanji nanti, dia akan mengajak Liam bertemu dengan Loveta.
Di meja makan, Mama Anggun memilih diam. Ketika Adriel sibuk mengobrol dengan Loveta, Arriel sibuk mengobrol dengan Bu Kania. Padahal Arriel terus mengajak mamanya bicara, tetapi justru sang mama tidak mau. Memilih diam saja.
“Jadi kamu bekerja di majalah di mana?” Mama Anggun justru memilih untuk mengajak bicara Adriel.
Arriel yang sedang menikmati makan sambil mengobrol dengan Bu Kania, mengalihkan pandangannya. Dia memerhatikan sang mama yang sedang mengajak mengobrol Adriel. Tak mau sampai sang mama menanyakan hal aneh.
“Bekerja di majalah Syailen Bisnis.” Adriel tersenyum menjawab pertanyaan calon mertuanya itu.
“Sudah berapa lama bekerja?”
“Sudah empat tahun ini.” Adriel kembali menjawab. Kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Menikmati kembali makanannya.
Arriel bernapas lega. Sang mama menanyakan hal-hal yang wajar saja. Tidak aneh-aneh. Dia pun melanjutkan makannya.
__ADS_1
“Sudah dapat apa saja selama empat tahun kerja?”
Pendapati pertanyaan itu seketika Adriel tersedak. Dia pun segera mengambil minum untuk melegakan tenggorokannya.
Arriel yang mendengar sang mama bertanya akan hal itu menatap sinis. “Ma ….” Dia memanggil sang mama. Menghentikan aksi sang mama.
“Mama hanya bertanya. Jadi Mama memastikan jika kamu bisa menikah dengan orang yang bisa menjamin kamu. Memberikan tempat tinggal yang layak.” Mama Anggun beralasan pada anaknya.
Arriel tahu jika niat sang mama bukanlah itu. Namun, dia tidak bisa membuktikannya. Tentu saja itu membuatnya sedikit kesal.
“Bagus kalau kamu tahu.” Mama Anggun tersenyum.
“Saya punya apartemen walaupun bukan apartemen mewah. Mobil untuk mobilitas juga ada. Serta sedikit tabungan.” Adriel menjelaskan apa yang didapatkannya selama ini selama bekerja.
Mama Anggun mencibirkan bibirnya. Merasa itu tidaklah cukup untuk Arriel. Arriel punya segalanya lebih lagi.
__ADS_1
Arriel melihat jelas mamanya sudah mulai keterlaluan. Jadi dia memutuskan untuk menghentikan aksi sang mama itu.
“Sebaiknya kita makan dulu. Sedari tadi kita mengobrol.” Arriel mengakhiri obrolan tersebut.
Mereka semua pun langsung segera melanjutkan makan. Menghentikan mengobrol. Setelah obrolan tadi, tidak ada lagi obrolan lagi. Mereka sibuk menikmati makanan.
Setelah selesai makan, Arriel mengajak Adriel dan Bu Kania di ruang kelurga. Mengobrol bersama di sana. Saat di sana, setiap Mama Anggun mulai bertanya sedikit melenceng, Arriel segera mengalihkan. Tidak menghentikan sang mama bertanya macam-macam.
Arriel justru asyik berbicara perihal lain. Perihal sekolah Loveta. Bu Kania pun selalu semangat ketika membahas anak. Apalagi ada anak-anak panti yang begitu pintar-pintar.
Puas mengobrol akhirnya Adriel berpamita. Arriel mengatakan akan menghubungi Adriel nanti jika dirinya sampai di apartemen. Lamaran kini selesai semua rencana sudah tersusun rapi, tinggal melakukannya saja. Arriel memang tidak mau berlama-lama dan berbelit-belit. Lagi pula dia juga bukan anak muda lagi yang harus menunggu berbulan-bulan untuk rencana pernikahan. Jika sudah ada calon pengantin, gaun pengantin, tempat pernikahan. Apalagi yang mau dicari.
Arriel, Mama Anggun, dan Loveta pun mengantarkan tamu mereka sampai ke pintu depan. Melepaskan tamu untuk pulang.
“Jadi dia anak panti asuhan.” Mama Anggun menyindir Arriel ketika mobil Adriel perlahan pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1