
Arriel berjalan ke acara pernikahan. Tampak Loveta dan Liam yang berjalan di depannya. Arriel melihat tamu undangan yang begitu banyak. Arriel jelas melihat jika sang mama mengundang banyak temannya. Namun, Arriel tidak masalah. Mungkin itu membuat sang mama senang.
Arriel terus mengayunkan langkahnya. Tampak Adriel berdiri di sana menunggunya. Jantung Arriel semakin berdegup kencang ketika Adriel menunggunya di sana. Walaupun bukan pertama kali, tetapi tetap sensasinya sama.
Adriel tersenyum ketika melihat wanita yang dicintainya itu. Gaun pernikahan jauh lebih indah ketika dipakai. Pas sekali di tubuh Arriel. Sama dengan yang dirasakan Arriel, Adriel juga merasakan debaran jantungnya yang begitu kencang.
Langkah Arriel perlahan sampai ke depan Adriel. Dengan segera Adriel mengulurkan tangannya. Membawa Arriel duduk di depan penghulu.
Jantung seolah memompa lebih cepat. Tangan mulai berkeringat dingin. Keduanya gugup ketika akan memulai acara pernikahannya.
Penghulu segera memulai acara pernikahannya. Dengan lantang Adriel mengucap ikrarnya. Berjanji pada Tuhan dan disaksikan pada saksi dan tamu undangan. Berjanji jika dia akan menjaga Arriel dan melindungi wanita yang dicintainya itu. Sebuah janji yang seumur hidup akan Adriel penuhi.
Kini Adriel dan Arriel resmi menjadi sepasang suami istri. Kebahagiaan bercampur kelegaan terasa di hati keduanya. Senyum keduanya pun menghiasi wajah mereka ketika mereka berdua. Mengganti ketegangan yang tadi menyerang mereka.
__ADS_1
Acara pernikahan berlanjut. Adriel menyematkan cincin yang dibuat khusus oleh Arriel. Cincin yang selalu menjadi impian Arriel. Tampak cincin begitu indah di jari Arriel.
Bergantian Arriel menyematkan cincin di jari Adriel. Cincin yang memang diukur sesuai jari Adriel itu pas sekali di jarinya.
Keluarga turut bahagia. Walaupun Mama Anggun tidak suka dengan Adriel, tetap saja dia senang anaknya sudah menikah kembali. Sebagai ibu, dia berharap anaknya bahagia.
“Mama turut bahagia kamu sudah menikah.” Mama Anggun memberikan pelukannya.
“Terima kasih, Ma.” Arriel bersyukur sang mama tidak bertingkah. Jadi tentu saja itu membuatnya tenang. Karena pernikahannya lancar.
“Baik, Ma.” Adriel mengangguk.
Bu Kania ikut juga mengucapkan selamat. Dia memeluk Arriel dan meluapkan rasa bahagia. Pelukan tulus dari seorang ibu.
__ADS_1
“Ibu harap kalian bisa bahagia.” Tak banyak yang bisa diungkapkannya. Melihat anaknya menikah tentu saja adalah hal membahagiakan.
“Iya, Bu.” Arriel mengangguk.
Bu Kania beralih pada Adriel. Kemudian memeluknya. “Ibu berharap kamu jadi suami yang baik. Apa yang terjadi jangan pernah jadi contoh.” Bu Kania jelas hafal betul kisah orang tua Adriel. Jadi dia ingin Adriel menjadi anak yang jauh lebih dari orang tuanya.
“Tentu saja, Bu.” Adriel jelas akan menjadikan masa lalu kedua orang tuanya menjadi pelajaran.
Tak hanya para orang tua. Dathan, Neta, dan Mauren juga memberikan ucapan selamat. Mereka turut bahagia melihat kebahagiaan pasangan penganti itu.
Acara berlanjut. Karena acara memang hanya dalam satu waktu mereka tanpa menjeda sama sekali acara pernikahan.
Langit sore yang cantik begitu indah sekali ketika mengiringi pengantin yang berdansa bersama. Para tamu undangan pun disajikan dengan pemandangan keromantisan keduanya.
__ADS_1
“Apa kamu bahagia?” Adriel menatap wanita yang kini jadi istrinya itu. Tubuhnya masih bergerak mengikuti irama musik yang disajikan.
“Aku bahagia.” Arriel tersenyum. Mungkin sebenarnya kata bahagia itu tidak bisa mewakilkan hatinya. Karena perasaannya jauh lebih dari kata bahagia.