Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 56


__ADS_3

Mauren mengembuskan napasnya. “Iya.” Dia membenarkan ucapan David.


“Acara pernikahan akan dilakukan seminggu lagi. Jadi aku harap kalian datang nanti.” David menatap Adriel dan Arriel.


Adriel dan Arriel masih saling pandang. Mereka masih merasa aneh karena dua orang itu bisa menikah.


Adriel ingin bertanya banyak hal. Namun, dia harus berangkat kerja. Jadi tentu saja dia harus mengurungkan niat.


“Sayang, aku berangkat dulu.” Adriel mengalihkan pandangan pada sang istri.


“Iya.” Arriel mengangguk.


“Da ... Adriel.” David menggoda Adriel sambil melambaikan tangan.


Adriel hanya menatap malas pada pria di depannya itu. Dia akan bertanya nanti di saat yang tepat.


Setelah Adriel pergi, kini tinggal Arriel, Mauren, dan David. Arriel pun segera mengajak David untuk ke ruangannya bersama Mauren. Dia begitu penasaran sekali bagaimana bisa temannya itu menikah.


“Sebenarnya kenapa bisa kalian menikah. Apa kamu hamil?” Sambil mendudukkan tubuhnya di kursinya, Arriel melemparkan pertanyaan. Dia menatap temannya.


Mauren menatap dengan wajah yang begitu terkejut sekali. “Kamu kejam sekali menuduh aku seperti itu?” Mauren tidak terima temannya menuduh hal itu.

__ADS_1


“Lalu kenapa kalian menikah secepat itu?” Arriel masih terlalu penasaran. Mengingat jika Mauren tidak pernah bercerita apa-apa.


“Jodoh.” Satu kata yang diucapkan oleh David. Senyumnya menghiasi wajahnya ketika menjawab pertanyaan dari teman calon istrinya itu.


Arriel mengerutkan keningnya. Jawaban David benar-benar menggelitik sekali. Jelas itu tidak mungkin. Terakhir dia mendapatkan cerita dari Mauren, temannya itu tidak mau dengan David yang memiliki banyak skandal. Jadi jika dibilang karena jodoh, jelas Arriel tidak percaya.


“Riel, sudah ukur saja jari David. Dia harus segera ke kantor.” Mauren malas ketika David berlama-lama di toko.


Arriel merasa wajah Mauren tidak terlalu suka dengan kehadiran David. Tentu saja itu menbuatnya bertanya-tanya. Kenapa gerangan temannya itu. Karena tidak mau banyak bertanya, Arriel membantu mengukur jari Adriel. Sebenarnya banyak pegawainya, tetapi untuk temannya kali ini dia secara khusus mengukur jari mereka.


“Desainnya sudah dapat?” Arriel menatap Mauren.


Akhirnya pengukuran jari Mauren dan David selesai juga. David segera berpamitan. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya sekaligus rencana pernikahannya.


“Sampai bertemu, Sayang.” David dengan beraninya mencium Mauren di depan Arriel.


Mauren hanya bisa menahan diri untuk tidak marah. Dia benar-benar tak berkutik ketika David melakukan apa pun yang dia inginkan. Arriel yang melihat hal itu hanya menggeleng heran. Sepertinya setelah keluar dari kadang singa, dia masuk ke kandang buaya.


Kini di ruangan Arriel, tinggal dua wanita saja. David sudah pergi. Tentu saja itu dimanfaatkan Arriel untuk segera bertanya.


“Sebenarnya apa yang membuat kamu menikah dengan buaya itu?” Arriel menatap temannya penasaran.

__ADS_1


Mauren mengembuskan napasnya. “Aku malas membahasnya sekarang. Nanti jika aku siap, aku akan bercerita.” Pikiran Mauren sangat banyak. Jadi dia malas membahas itu dengan Arriel.


Arriel tidak bisa memaksa. Lagi pula pasti temannya akan bercerita. Lagi pula mungkin temannya butuh waktu. Dia hanya bisa mendukung saja.


Mauren hendak berdiri. Namun, seketika dia kembali duduk kembali. “Riel, ada yang lebih penting yang harus kamu tahu,” ucapnya.


“Apa?” Arriel menatap ingin tahu.


“Kemarin mamamu datang. Dia memeriksa keuangan toko.” Mauren sedikit menyesali apa yang dilakukan oleh mama Arriel. Mengingat kemarin dirinya dipaksa membuka keuangan toko.


Arriel tidak terlalu terkejut. Dia sudah bisa menebak jika mamanya akan melakukan itu semua.


“Dia bertanya untuk apa uangnya, tapi aku tidak menjawab. Aku minta dia bertanya sendiri.” Mauren memang membuka catatan keuangan toko. Namun, tidak dengan kegunaan uang itu yang sebenarnya dia ketahui.


Arriel merasa mamanya benar-benar gigih sekali melindungi asetnya. Sampai takut Adriel memanfaatkannya.


“Biarkan saja. Lakukan saja yang dia minta jika ke sini.” Arriel tidak mau ambil pusing. Lagi pula mamanya terus akan melakukannya. Dia akan mendesak temannya itu.


“Baiklah.” Mauren akhirnya berdiri. Dia segera keluar dari ruangannya.


Arriel berusaha untuk tetap tenang. Mamanya akan terus mengusiknya. Dia ingin melihat, sejauh apa mamanya akan lakukan. Apakah dia akan bertanya padanya tentang uang yang digunakannya itu atau dia akan diam saja.

__ADS_1


__ADS_2