
Arriel begitu kesal sekali. Baru saja mereka hendak berciuman, tetapi sudah ada yang mengganggu. Padahal ini akan jadi ciuman pertamanya bersama Adriel. Sejak kenal Adriel dan memutuskan untuk menikah, mereka memang belum pernah berciuman.
“Masuk.” Arriel dengan tenang meminta orang di balik pintu untuk masuk.
Tampak Mauren masuk ke ruangan Arriel. Membawa minuman di atas nampan. Dia segera meletakkan minuman di atas meja.
“Silakan diminum,” ucapnya.
“Terima kasih.” Adriel tersenyum.
Arriel hanya menatap kesal pada Mauren. Karena temannya itu sudah mengganggunya. Membuat kenikmatan di depan mata melayang.
Mauren hanya merasa aneh. Kenapa temannya itu menatapnya kesal. Padahal dia tidak merasa membuat kesalahan. Karena melihat temannya tampak kesal dia pun segera keluar dari ruangan Arriel.
“Apa mereka tadi sedang bermesraan?” Pertanyaan itu keluar dari mulutnya tanpa suara. “Kalau iya, mana aku tahu. Lagi pula ini kantor.” Mauren mengabaikan kenapa temannya itu kesal. Membesarkan hatinya. Jika dia tidak bersalah.
__ADS_1
Mauren segera kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaanya. Tampak tak peduli, padahal baru saja dia merusak kesenangan seseorang.
Di ruangan Arriel, Arriel tampak malu karena tidak jadi berciuman. Dibanding Arriel, Adriel jauh lebih tampak tenang.
“Sepertinya aku harus menyicip yang manis, yang lain dulu.” Adriel meraih cangkir berisi teh. Manis yang dimaksud adalah manisnya teh yang dibuatkan Mauren.
Arriel hanya tersipu malu. Sejujurnya, dia pun berharapkan ciuman itu. Namun, apa boleh dikata. Semua gagal gara-gara Mauren.
Untuk membuatnya sedikit lebih tenang, Arriel memilih untuk menyesap teh miliknya.
“Berapa harga cincin kita?” Adriel menatap Arriel sambil meletakkan gelas cangkir berisi teh miliknya.
“Aku akan membayarnya.” Arriel tersenyum.
Arriel menelan salivanya. Dia begitu terkejut. Cincin buatannya spesial. Terbuat dari beberapa hiasan diamond. Jadi tentu saja harganya mahal. Bukan Arriel mau merendahkan, tetapi dia tentu saja tidak enak jika meminta harga mahal untuk pernikahannya.
__ADS_1
“Jangan tanya harga. Yang penting itu untuk pernikahan kita.” Arriel memilih menghindar.
“Sekali pun pernikahan kita, aku bertanggung jawab akan hal itu. Jadi berikan bill-nya biar aku bayar.”
Arriel jelas tidak berani. Jika ditotal nominal harga cincinnya itu hampir lima ratus juta, ditambah cincin Adriel total sekitar enam ratus juta. Harga itu terlalu fantastic. Jadi Arriel jelas tidak akan memberikannya.
“Sekarang aku tanya, jika aku sudah menikah denganmu, uangmu bukannya jadi uangku juga?” Arriel melemparkan pertanyaan itu pada calon suaminya.
“Tentu saja.” Adriel mengangguk.
“Lalu kamu mau menggunakan uang aku untuk membayar yang sudah menjadi milik aku. Enak saja. Tidak bisa. Jika pun uang itu mau digunakan, biarkan aku gunakan untuk yang lain.” Arriel memilih mengalihkan pembicaraan. Berharap dengan cara itu, Adriel tidak jadi membayar uang cincin.
Adriel tersenyum. Arriel punya banyak cara untuk menghentikan aksinya membayar cincin. “Baiklah, kalau begitu.” Dia akhirnya mengalah juga.
“Ayo, kita harus segera makan siang, setelah itu memesan jas. Kalau jas nanti, kamu yang bayar.” Arriel tersenyum menyeringai. Dia tahu mana yang harus dibayar Adriel. Tentu saja yang menurutnya masih terjangkau oleh Adriel.
__ADS_1
“Baiklah.” Adriel mengangguk.
Mereka berdua segera memesan jas untuk pernikahan mereka. Sekaligus menikmati makan siang bersama. Setelah itu nanti Arriel dan Adriel akan ke apartemen. Melihat gaun dan cincin yang disimpan Arriel di apartemennya.