
Hari ini Arriel dan Adriel sudah di rumah sakit. Nanti jam empat sore akan dilaksanakan operasi. Arriel sudah diminta puasa.
Dathan datang mengantarkan Loveta untuk bertemu mamanya sebelum mamanya melahirkan. Dathan ingin anaknya memberikan semangat pada mamanya yang akan berjuang di ruang operasi.
“Mama harus kuat. Nanti jika adik bayi sudah keluar. Kabari Lolo.” Loveta begitu antusias sekali. Tak sabar menunggu adiknya lahir.
“Iya, Mama akan minta papa mengabari nanti.” Arriel tersenyum. Dia begitu senang anaknya datang. Dukungan dari anaknya adalah hal paling berharga baginya. Jadi tentu saja itu membuatnya bersemangat.
“Terima kasih sudah mengantarkan Lolo ke sini, Than.” Arriel menatap Dathan. Dia bersyukur Dathan mau meluangkan waktu.
“Sama-sama. Maaf Neta tidak bisa ke sini juga.” Dathan sekalian menyampaikan permintaan maaf. Dengan dua anak memang terkadang repot mau pergi. Dan lagi di rumah sakit dilarang membawa anak-anak.
“Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu di rumah.” Arriel tak masalah. Dathan mau mengantarkan Loveta saja, dia sudah bersyukur.
“Mama, Lolo akan berdoa agar Mama dan adik bayi selamat.” Loveta menatap sang mama. Dia memeluk erat mamanya.
Arriel berkaca-kaca. Dia terharu sekali. Karena tidak menyangka jika anaknya begitu sayang padanya dan adiknya.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang.” Arriel mengeratkan pelukan. Dia merasa beruntung memiliki anak seperti Loveta.
Kedekatan ibu dan anak itu memang begitu erat sekarang. Apalagi sekarang mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu.
Arriel merasa beruntung diberikan kesempatan kedua dekat dengan anaknya. Jadi paling tidak, dia merasa bisa memberikan kasih sayang pada Loveta.
Setelah puas bersama mamanya, Loveta berpamitan. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Karena tidak baik untuknya.
Adriel berjanji akan mengabari Dathan jika nanti anak mereka lahir. Adriel juga pastinya ingin anak tirinya mendengar kabar bahagia.
Setelah kepergian Dathan dan Loveta Mama Anggun datang. Dia menemani anaknya untuk melahirkan.
Semua juga datang. Ada Pak Dewa, David, dan Mauren. Mereka menemani Arriel yang akan berjuang di ruang operasi.
Perawat membawa Arriel ke ruang operasi. Adriel dengan setia menemani istrinya di ruang operasi. Dokter mengizinkan Adriel untuk menemani sang istri.
Adriel melihat jelas alat-alat operasi. Hal itu membuat dia begitu takut. Tidak bisa dibayangkan olehnya perut istrinya akan disayat. Jelas itu pasti akan menyakitkan sekali. Namun, Adriel berusaha kuat. Karena memang dia tidak mau sampai membuat panik istrinya.
__ADS_1
“Kita akan bertemu dengan anak kita.” Adriel memberikan semangat pada istrinya itu.
“Iya.” Arriel mengangguk.
Dokter mulai memberikan anestesi pada Arriel. Kemudian memulai operasi saat anestesi mulai bekerja. Adriel terus menguatkan istrinya. Sesekali dia melihat ke arah dokter. Adriel begitu takut sekali. Apalagi ketika dokter mengangkat pisau ke atas.
“Oe ... oe ....”
Suara anak Arriel dan Adriel memecah ketegangan di ruang operasi. Adriel dan Arriel begitu bahagia sekali. Akhirnya anak mereka lahir.
“Anak kalian laki-laki.” Dr. Lyra memberitahu.
Adriel mendaratkan kecupan di dahi Arriel. Dia begitu bahagia sekali. Akhirnya anak mereka hadir juga. Kebahagiaan mereka semakin bertambah ketika bayi yang dilahirkan adalah laki-laki.
“Anak kita laki-laki.” Adriel begitu senang ketika memberitahu istrinya.
Arriel menangis. Akhirnya anaknya lahir dan operasinya berjalan dengan baik.
__ADS_1
Perawat meletakkan anak Arriel di dada ibunya. Arriel memeluk anaknya erat. Dilihatnya anaknya yang lahir sempurna tanpa kekurangan suatu apa pun.
Adriel tak henti-hentinya mengucap syukur karena anaknya sudah lahir. Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.