
“Maaf tadi aku membuatmu menunggu.” Arriel duduk di sofa yang berhadapan dengan Adriel. Sejujurnya, tadi dia tidak enak sama sekali ketika meninggalkan Adriel di depan pintu, tetapi dia malu ketika penampilannya bak singa di depan pria yang sudah mulai menyusup masuk ke hatinya itu.
“Tidak apa-apa. Padahal aku ingin melihatmu lebih lama dengan tampilan bangun tidur.” Adriel tersenyum.
Arriel tertunduk. Dia justru semakin malu ketika Adriel menggodanya. Jelas-jelas penampilannya tadi mengerikan.
“Kamu tetap cantik saat bangun tidur. Lain kali biarkan aku memandangmu lebih lama dengan wajah bangun tidurmu.” Senyum Arriel semakin lebar. Dia memang mengatakan apa adanya. Melihat Arriel tadi dan sekarang, baginya tidak ada bedanya. Karena sama saja. Sama-sama cantiknya.
Pipi Arriel menghangat. Jelas ini membuat pipinya pasti terlihat merah. Kulit putihnya, tidak akan bisa membohongi warna merah yang menyembur di pipinya.
“Mau minum apa?” Arriel yang merasa malu memilih mengalihkan pembicaraan. Dia ingin ke dapur sekaligus. Menghindar agar Adriel tidak berlama-lama melihat rona merah pipinya.
“Apa saja.”
__ADS_1
Mendapati jawaban Adriel, Arriel segera bergegas ke dapur. Membuatkan secangkir kopi untuk Adriel.
Kenapa jantungku berdegup kencang seperti
ini?
Arriel memegangi dadanya sebelah kiri. Dia merasa jika bertemu Adriel membuat kerja jantungnya tidak baik. Sejenak Arriel mengingat senyum Adriel. Seketika membuat hatinya berbunga-bunga. Pria itu membuatnya kembali merasakan debaran cinta yang lama padam. Arriel sudah bak remaja yang jatuh cinta.
Arriel segera membuat minuman untuk Adriel. Dua cangkir kopi. Satu untuk Adriel dan satu untuknya. Dengan segera dia membawanya ke ruang tamu. Memberikan pada Adriel.
“Terima kasih.” Adriel meraih cangkir berisi kopi yang dibuat Arriel.
“Aku hanya memberikan sedikit gula tadi. Aku tidak tahu seleramu. Jika kurang manis, aku bisa menambahkan.” Arriel memerhatikan Adriel yang sedang minum.
__ADS_1
Adriel meletakkan cangkir berisi kopi miliknya. “Manisnya sudah pas. Jika pun kurang manis, aku cukup melihatmu.” Senyum tipis tertarik di surut bibirnya. Wajah manis Arriel memang membuat Adriel merasa hidupnya lebih manis.
Wanita mana yang tidak suka dirayu. Begitu juga Arriel. Dia merasa suka dirayu juga. Namun, tentu saja itu membuatnya sedikit salah tingkah. Mengingat dia selalu menghindar pria-pria yang berusaha merayunya.
“Apa kamu hobi merayu wanita?” tanya Arriel menyindir.
Adriel bukan tipe pria yang suka merayu. Namun, entah kenapa secara naluri dia berani merayu. Seperti ada magnet yang menariknya masuk lebih dalam pada kehidupan Arriel.
“Aku mengatakan yang sebenarnya. Memang kamu manis. Lalu kenapa aku harus berbohong. Aku juga bukan orang yang suka merayu wanita.” Adriel tetap berusaha menutupi dirinya yang berusaha merayu.
Adriel memang membuat Arriel melayang. Sungguh ini adalah hal yang baru dalam hidupnya. Setelah sekian lama, akhirnya dirinya merasakan jatuh cinta juga.
“Sebaiknya kita mulai saja wawancaranya.” Arriel berusaha kembali mengalihkan pembicaraan. Karena dirinya yang memancing pembicaraan, dirinya juga yang salah tingkah.
__ADS_1
“Apa kamu ingin wawancaranya segera berakhir dan aku datang melamarmu?” Adriel tersenyum menyeringai. Sejak melihat Arriel yang salah tingkah, itu justru membuatnya semakin membuat candu untuk menggodanya.
Arriel bukan bermaksud itu. Namun, jika Adriel ingin segera melamarnya. Tentu saja dia akan mau. Perasaannya sudah mulai terisi oleh Adriel. Jadi tentu saja dia menyambut baik kedatangan Adriel dalam hidupnya.