
Hari adalah pernikahan Mauren. Arriel menjadi pendamping pengantin. Bersama sang suami Arriel mengikuti semua rangkaian acara. Arriel merasa senang ketika teman akhirnya menikah. Terlepas apa alasan menikah. Arriel yakin, temannya tahu mana yang baik dan buruk.
Saat menyelesaikan acara pernikahan Mauren, Arriel segera bergabung dengan mamanya. Dia ingin memastikan jika mamanya baik-baik saja.
“Ma, sudah makan?” Tamu undangan sudah mulai makan. Jadi dia memastikan mamanya makan.
“Mama tidak selera makan.” Mama Anggun menjawab ketus.
Arriel hanya menatap aneh. Memikirkan kenapa gerangan mamanya itu. Mengurus sang mama jauh lebih sulit dibanding mengurus anaknya. Arriel benar-benar kewalahan.
“Lihatlah Mauren. Menikah dengan pria kaya. Anak pengusaha. Kelak dia akan menjadi pewaris bisnis tekstil sang papa.” Mama Anggun menatap Mauren yang sedang sibuk menyalami tamu.
Akhirnya Arriel tahu apa alasan sang mama tidak nafsu makan. Ternyata karena tidak terima dengan kenyataan jika Mauren mendapatkan pria yang lebih kaya.
“Itu rezeki Mauren. Lagi pula, jika orang kaya menikah dengan orang kaya, kasihan sekali mereka yang hidup pas-pasan. Pasti mereka tidak bisa bermimpi menikah dengan orang kayak. Membayangkan jadi cinderela yang dinikahi pangeran kerajaan.” Arriel tidak ambil pusing. Dia justru menggoda sang mama.
Mama Anggun hanya menatap malas pada sang anak. Anaknya benar-benar tidsk bisa diajak bicara.
“Mama mau memberikan ucapan dulu pada Pak Dewa.” Mama Anggun memilih menghindar dari anaknya. Dia tidak bisa marah di tempat umum seperti ini. Jadi menghindari perdebatan dengan sang anak lebih baik.
Arriel yang melihat sang mama pergi hanya bisa tertawa. Dia merasa lucu sekali. Karena mamanya memilih menghindar darinya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Adriel yang menghampirinya.
“Tidak apa-apa.” Arriel menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
Adriel tidak menanyakan lagi. Mungkin yang terjadi bukan masalah penting. Dia pun segera mengajak sang istri untuk menikmati makanan yang sudah disediakan.
Mama Anggun memilih mencari Pak Dewa. Ingin memberikan ucapan selamat secara langsung. Sambil mengobrol singkat. Saat mencari Pak Dewa, ternyata dia bersama dengan teman-temannya. Dia pun bergabung.
“Anggun.” Pak Dewa yang melihat Mama Anggun menyapanya.
“Pak Dewa, selamat atas pernikahan anak Anda.” Mama Anggun mengulurkan tangan.
“Terima kasih.” Pak Dewa menerima uluran tangan.
“Ngun, padahal dulu kalian hampir berbesanan. Sekarang malah anak-anak kalian mendapatkan jodoh masing-masing.” Seorang teman menggoda Mama Anggun. Mereka tahu jika teman mereka ikut berencana menikahkan anak-anak mereka.
“Iya, anak-anak jaman sekarang punya pilihan sendiri.” Pak Dewa menambahkan.
“Iya, benar. Anak-anak punya pilihan sendiri.” Mama Anggun menimpali.
Arriel malas sebenarnya mengenalkan anak menantunya. Namun mau bagaimana lagi. Karena teman-temannya mendukung ingin berkenalan secara langsung. Rasanya Mama Anggun minder. Karena hanya anak menantunya yang seorang karyawan sendiri. Dia rahu pasti menantu teman-temannya sukses-sukses.
“Sebentar.” Mama Anggun mengedarkan pandangan. Mencari anak dan menantunya. Namun, saat mencari ternyata hanya ada Adriel saja. Entah ke mana perginya sang anak. “Adriel.” Mama Anggun memanggil menantunya.
Untung Adriel saat menoleh. Jadi dia taju ketika dipanggil. Mama Anggun melambaikan tangan. Memanggil menantunya. Karena merasa dirinya yang dipanggil, Adriel segera menghampiri sang mertua.
“Iya, Ma.” Adriel yang datang langsung bertanya.
“Ini teman-teman mama mau kenalan.” Mama Anggun memberitahu menantunya.
__ADS_1
Adriel segera mengalihkan pandangan pada teman-teman sang mama. Dia segera mengulurkan tangan. Berkenalan dengan teman-teman sang mama mertua.
“Wah ... Arriel memang tidak salah pilih. Memang yang lebih muda, lebih menggoda.” Salah satu teman Mama Anggun memberikan komentarnya.
“Iya, anak-anak muda sekarang pandai memilih. Maunya yang segar, sukses, dan tampan.” Salah satu teman ikut menimpali.
“Kamu punya usaha apa?” Salah satu teman pun bertanya.
Mama Anggun yang begitu kesal dengan Adriel langsung terpancing. “Dia hanya karyawan biasa.” Dia pun langsung menjelaskan.
Teman-teman Mama Anggun begitu terkejut. Dipikir Arriel menikah dengan pengusaha juga.
“Oh ... karyawan biasa. Di mana?” Salah satu teman bertanya kembali.
“Di perusahaan majalah.” Arriel menjawab.
“Oh ....” Teman Mama Anggun menganggukkan kepalanya.
“Wah ... padahal Arriel seorang pengusaha, tapi ....” Seorang teman Mama Anggun mengomentari. Namun, menggantung ucapannya.
“Begitulah pria-pria muda jaman sekarang. Mencari yang sudah pasti untuk sekadar menumpang hidup.” Mama Anggun kembali memberikan sindiran.
Adriel hanya diam saja ketika sang mertua merendahkannya. Dia cukup terkejut sebenarnya. Namun, malas jika menanggapi. Karena pasti akan membuat keributan di acara orang.
“Siapa yang bilang Adriel hanya menumpang hidup?”
__ADS_1
Tiba-tiba suara terdengar. Semua mengalihkan pandangan pada pemilik suara itu.