Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 60


__ADS_3

Semua membulatkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Pak Dewa. Yang orang tahu adalah anak Pak Dewa hanya satu yaitu David. Namun, apa yang dikatakan Pak Dewa adalah hal yang membuat semua bingung.


Arriel tak kalah terkejut. Selama ini dia tidak pernah tahu jika Adriel masih memiliki papa, dan papanya itu adalah Pak Dewa. Selama ini interaksi Adriel dengan Pak Dewa pun tidak pernah terlihat sama sekali dekat. Tidak selayaknya ayah dan anak.


“Anak yang Anda bilang hanya seorang karyawan ini, memiliki dua puluh persen saham konveksi terbesar. Memiliki rumah mewah yang bisa ditempati. Jika hanya uang, saya rasa dia itu adalah hal kecil.” Pak Dewa menampar keras Mama Anggun dengan penjelasannya. Dia tidak terima anaknya diperlukan seperti itu. Dia merasa sebagai orang tua dia harus membelanya.


Adriel hanya mengembuskan napasnya. Sekuat dirinya menutup rapat semuanya, tetapi ternyata justru runtuh juga. Papanya yang berusaha menutupi semua, justru dia sendiri yang mengungkapkan semuanya.


Arriel menatap sang suami. Dia masih benar-benar tidak percaya jika Adriel adalah putra pengusaha konveksi terkenal itu. Tidak pernah sedikit pun Adriel bercerita.


Mama Anggun semakin dibuat terkejut ketika mendapati jika Adriel adalah anak dari Pak Dewa. Dirinya seolah ditampar balik dengan kenyataan itu.

__ADS_1


“Dengar, Nyonya Anggun. Jika Anda bilang menyesal. Mungkin kalimat itu juga akan saya ucapkan. Saya menyesal karena ternyata anak saya memiliki mertua seperti Anda yang hanya menganggap rendah menantunya. Merendahkan menantunya di tempat umum tanpa menjaga perasaan anaknya sendiri. Harusnya Anda menerima siapa pun pria yang dipilih putri Anda. Jika pun pilihannya tidak sesuai, kita sebagai orang tua tinggal mengawasi saja.” Pak Dewa menatap kesal pada Mama Anggun.


Mama Anggun sudah tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa terdiam saja. Yang dihinanya adalah anak orang kaya. Jadi tentu saja dia malu sendiri. Kini semua berbalik. Adriel jauh lebih kaya dibanding anak. Tentu saja itu membuatnya malu dengan apa yang dilakukannya selama ini.


“Jangan merusak pesta David. Sebaiknya akhiri berdebatan ini.” Adriel dengan tenang menatap Pak Dewa dan Mama Anggun. Dia memang tidak mempermasalahkan ucapan Mama Anggun, tetapi jika sudah merusak ketenangan. Tentu saja dia harus melakukan sesuatu. “Tanpa mengurangi rasa hormat, bisakah Mama pergi dari pesta ini. Aku rasa pasti Mama sudah tidak nyaman di pesta. Jadi alangkah baiknya jika Mama pulang.” Sekali pun Adriel diperlakukan buruk, tetap saja berlaku baik.


Mama Anggun sudah terlanjur malu dengan apa yang dilakukannya. Mendengar Adriel memintanya pergi, membuatnya akhirnya memutuskan pergi. Dia tidak mau memperpanjang masalah.


“Ini bukan salahmu.” Pak Dewa menepuk bahu anaknya.


Adriel melirik ke istrinya. Sang istri yang masih begitu terkejut dengan yang terjadi. Hal itu membuat Adriel memikirkan untuk pulang.

__ADS_1


“Sebenarnya ada yang banyak saya bicarakan, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Saya ingin pamit pulang lebih dulu. Silakan Pak Dewa lanjutkan kembali pestanya.” Adriel dengan sikap formalnya bicara pada papanya.


Arriel hanya bisa menatap heran. Jika benar Adriel anak Pak Dewa, kenapa suaminya itu bersikap formal? Pertanyaan di kepala Arriel begitu banyak. Hingga hanya Adriel yang bisa menjawabnya.


“Baiklah, datanglah kapan saja untuk bicara. Jaga istrimu dengan baik.” Pak Dewa tersenyum pada Arriel.


Saat mendapatkan senyum Pak Dewa, Arriel membalas senyuman itu.


“Ayo, Sayang.” Adriel mengajak Arriel untuk pulang.


Arriel mengangguk. Dia merasa memang seharunya dia pulang. Karena memang banyak hal yang harus ditanyakan pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2