
Mereka keluar dari toko baju dengan senang. Belanjaan cukup banyak sekali. Jadi tangan Arriel penuh. Namun, Arriel tak mau dibantu sang suami. Dia memilih membawanya sendiri. Suaminya sudah membayarkan, jadi tentu saja dia tidak akan menyuruhnya membawa.
Adriel hanya membawa satu paper bag saja. Sambil menggandeng Loveta yang berdiri di sebelahnya. Mereka berjalan ke lift untuk menuju ke tempat parkir.
Suara ponsel yang berdering, membuat Arriel menghentikan langkahnya. “Sayang, coba tolong ambil ponselku.” Dia menyodorkan tasnya pada Adriel.
Adriel melepaskan gandengan tangan dengan Loveta. Dengan segera, dia mengambil ponsel di tas Arriel. Kemudian melihat siapa yang menghubungi. Dari layar ponsel Adriel melihat nama kontak ‘Mama Anggun’.
“Mama.” Adriel menjelaskan pada istrinya.
“Angkatkan,” pinta Arriel.
Adriel segera mengangkat sambungan telepon dan menempelkan di telinga sang istri. Membiarkan sang istri bicara dengan mamanya sambil dipegangi.
“Ada apa, Ma?” tanya Arriel pada sang mama di seberang sana.
“Apa hari ini Loveta bersamamu?” Mama Anggun di seberang sana bertanya.
__ADS_1
Arriel mengalihkan pandangan pada anaknya yang berdiri di samping sang suami. “Iya, Loveta bersamaku.”
“Kalau begitu datanglah makan malam bersama di rumah.”
Untuk sesaat Arriel menimbang-nimbang, terakhir bertemu sang mama adalah gara-gara dirinya yang masih tetap tinggal di apartemen. Mamanya protes karena tidak berusaha mencari rumah. Seolah itu adalah sindiran yang diberikan sang mama pada Adriel karena tidak bisa memberikan rumah untuknya Arriel takut jika ke rumah mamanya lagi, yang keluar dari mulut sang mama akan menyakiti suaminya. Menginjak-injak harga diri suaminya. Tentu saja dia tidak siap. Tidak rela jika suaminya dijelek-jelekan.
“Kenapa?” Adriel melihat sang istri diam saja ketika bicara dengan sang mama. Dia yakin ada yang dipikirkan oleh Arriel. Dia pun sedikit menutup ponsel agar tidak terdengar oleh mertuanya.
“Mama mengajak makan malam.” Arriel menjelaskan niat sang mama.
“Kita akan datang.” Adriel meyakinkan sang istri untuk menerima tawaran sang mama.
“Tapi—“
Baru saja Arriel ingin melemparkan protes, tetapi ternyata Adriel menganggukkan kepala. Meyakinkan sang istri menerima tawaran sang mama untuk makan malam bersama. Saat suaminya tidak keberatan, tentu saja tidak ada alasan menolaknya. Arriel pun memilik menerima tawaran sang mama.
Adriel melepaskan tangannya kemudian membiarkan sang istri bicara. “Aku akan datang.” Sesuai dengan permintaan sang suami, dia setuju datang.
__ADS_1
“Baiklah, Mama tunggu.”
Akhirnya obrolan itu pun selesai. Adriel mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke² dalam tas milik sang istri.
“Apa kamu tidak apa-apa?” Arriel memastikan kembali pada sang suami.
“Tenanglah.” Adriel tersenyum. “Ayo.” Dia segera mengajak sang istri untuk segera menuju ke tempat parkir. Adriel kembali mengulurkan tangan pada Loveta. Mengajaknya berjalan bersama.
“Kita ke rumah nenek.” Adriel berjalan sambil
memberitahu anaknya.
“Ye ... kita ke rumah nenek.” Loveta tampak bersemangat sekali.
Arriel heran, kenapa suaminya itu begitu tenang sekali. Padahal jelas jika sang mama sering kali menyindirnya. Entah terbuat dari apa hati suaminya itu.
Mereka bertiga pergi ke rumah Mama Anggun, Arriel berharap jika sang mama tidak akan berulah dan membuat sakit hati sang suami.
__ADS_1