
Arriel, Adriel, dan Loveta sampai di rumah sang mama Anggun. Mereka disambut hangat oleh Mama Anggun. Entah kenapa, sekali pun disambut hangat oleh mamanya, Arriel masih curiga saja. Dia masih merasa mamanya selalu punya niat buruk.
Mereka langsung makan malam. Mama Anggun sudah menyiapkan makanan kesukaan anak dan cucunya.
“Mama tidak tahu kesukaan kamu, Driel. Jadi Mama tidak memasakkan untukmu.” Mama Anggun di sela-sela makannya mengungkapkan itu pada Adriel.
Arriel benar-benar geram sekali. Entah mamanya sengaja atau tidak mengatakan hal itu. Seolah memang berniat menperlihatkan jika Adriel tidak penting.
“Adriel suka udang saus mentega. Besok-besok Mama ingat. Jadi lain kali jika ke sini, Mama bisa siapkan.” Arriel dengan ketus memberitahu sang mama.
Adriel tahu sang istri sedang terpancing. Dia pun menepuk paha sang istri. Meminta sang istri tidak melanjutkan perdebatan dengan mamanya.
Arriel melirik sang suami kesal. Terkadang Arriel heran, terbuat dari apa sebenarnya hati suaminya itu. Karena benar-benar tidak marah sama sekali. Dia tampak tenang sekali ketika mamanya selalu menyakitinya.
“Aku makan apa saja, Ma. Jadi tidak perlu repot menyiapkan masakan.” Adriel tersenyum. Walaupun sudah diperlakukan tidak baik, tetap saja Adriel berlaku baik. Baginya mertuanya tetap orang tua. Selagi beli melebihi batas, baginya tidak masalah. Dia akan tetap menghormati.
__ADS_1
“Baiklah.” Mama Anggun dengan tenangnya menjawab.
Mereka melanjutkan makan. Sebenarnya Arriel sudah tidak nafsu makan. Namun, sang suami menatapnya dan memberikan isyarat agar tetap mau makan. Jadi Arriel pun memaksakan untuk makan.
Makan malam yang sempat tegang akhirnya berakhir juga. Mereka berpindah ke ruang keluarga. Menikmati cemilan di sana. Loveta asyik sekali bercerita, tentu saja membuat sang nenek begitu senang sekali.
“Nenek-nenek. Nanti Lolo mau punya dua adik.” Loveta dengan polosnya menceritakan pada sang nenek.
Arriel yang mendengar cerita pun merasa anaknya tidak pas sekali bercerita hal itu. Namun, mau bagaimana lagi. Anaknya hanya anak kecil yang polos bercerita. Jadi wajar saja.
“Mama kapan punya dedek bayi?” Loveta menatap sang mama ketika mendengar ucapan neneknya.
Arriel benar-benar terkesiap ketika ditanya kapan punya anak. Dia sendiri sedang sangat berusaha. Namun, Tuhan belum memberikan izin untuk memiliki anak. Beberapa kali mencoba, ternyata gagal.
“Doakan saja Mama akan segera memiliki anak.” Arriel tersenyum menatap anaknya.
__ADS_1
“Siap, Mama. Lolo akan berdoa untuk agar mama segera punya dedek bayi.” Loveta tersenyum.
Arriel senang ketika anaknya paham. Tidak seperti mamanya.
“Kalian sudah periksa ke dokter?” Mama Anggun menatap anak dan menantunya itu.
“Kami sedang mencoba jadi tidak perlu ke dokter.” Arriel mengelak ucapan sang mama.
“Tapi, kalian harus ke dokter. Terutama kamu, Riel. Kamu sudah berusia tiga puluh lima tahun. Artinya kamu akan lebih sulit punya anak.” Mama Anggun merasa anaknya perlu melakukan pemeriksaan.
Arriel malas berdebat. Dia pun memilih mengangguk. Lebih baik mengiyakan saja. Dari pada urusannya panjang.
Mama Anggun bangun dari posisi duduknya. Dia berjalan ke laci untuk mengambil sesuatu. Kemudian kembali lagi ke ruang keluarga.
“Ini lihatlah.” Mama Anggun memberikan brosur pada Adriel dan Arriel. Meletakkan di atas meja.
__ADS_1