Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 43


__ADS_3

Arriel dan Adriel menikmati waktunya makan malam. Suasana romantis membuat mereka berdua bahagia sekali. Malam indah di bawah sinar bintang dan bulan menemani makan malam mereka berdua.


“Kamu bisa saja menyiapkan semua ini.” Arriel tersenyum.


“Untukmu tentu saja harus disiapkan spesial.” Adriel memang begitu mencintai Arriel. Untuk ungkapan cinta, tentu saja harus ada bukti nyata.


Arriel hanya dapat tersipu malu. Suaminya memang selalu punya cara untuk membuatnya bahagia.


Mereka kembali menikmati makan romantis yang ada. Saling bercerita dan membahas kehidupan ke depan mereka.


“Apa kamu tidak keberatan jika tinggal di apartemenku?” Arriel meminta Adriel untuk tinggal dengannya. Dia merasa belum nyaman jika harus pindah rumah.


“Tentu saja. Aku tidak masalah.” Adriel merasa di mana pun sang istri nyaman. Maka dia akan menurutinya.


Arriel merasa senang karena Adriel menurutinya. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


“Aku tidak bisa memasak. Jadi aku tidak akan bisa menjadi istri sempurna untukmu.” Arriel merasa malu sekali. Karena dia tidak


memiliki keahlian apa pun.

__ADS_1


“Aku tidak mempermasalahkan itu. Lagi pula aku bukan cari chef.” Adriel merasa tidak apa-apa jika Arriel tidak bisa masak. Lagi pula, dia bisa membeli makanan atau memasak sendiri. Selama ini dia tinggal sendiri. Dia sering memasak di apartemennya. Berbekal ilmu memasak yang didapatkan dari panti asuhan, itu sudah cukup untuk dirinya mandiri.


“Tapi, aku akan belajar. Jadi tenang saja.” Arriel tentu saja tidak akan tinggal diam. Dia tentu saja akan berusaha.


“Belajarlah, tapi jangan dipaksakan. Memasak itu seni. Asal hati senang, hasilnya akan nikmat.”


“Tenanglah, aku pasti senang. Karena aku mau mendapatkan pujian dari suamiku.”


Adriel tersenyum. “Sepertinya tugasku memuji akan bertambah setelah memujimu yang lihai memberikan kenik—“


“Shut ....” Arriel menempelkan jarinya di bibirnya. Dia malu ketika sang suami membahas hal itu.


Makan malam romantis diiringi obrolan tampak seru. Mereka berdua merencanakan apa saja yang kelak akan mereka lakukan ketika bersama. Menceritakan kegiatan apa yang biasanya mereka lakukan bersama. Paling tidak, kelak saat tinggal bersama, tidak ada yang terkejut dengan kebiasaan-kebiasaan aneh masing-masing.


Makan malam mereka berakhir indah.


Mereka segera melanjutkan kegiatan mereka. Tadi dari pantai, belum ada yang membersihkan diri. Jadi kini mereka harus membersihkan diri sebelum beristirahat.


“Kamu duluan saja yang mandi.” Arriel masih sibuk mengambil baju. Meminta sang suami untuk membersihkan tubuh lebih dulu.

__ADS_1


Adriel tak menjawab apa-apa. Dia langsung menghampiri sang istri. Mengangkat tubuh sang istri.


“Ach ....” Seketika Arriel berteriak. Dia begitu terkejut. Karena tadi dia sedang asyik mengambi baju. “Kenapa menggendongku? Aku memintamu mandi ‘kan.” Arriel melemparkan protesnya.


“Iya, tapi tidak sendiri.” Adriel mengabaikan protes sang istri. Dia segera membawa sang istri bersamanya.


Arriel hanya bisa pasrah. Tak perlu ditanya apa yang dilakukan. Ketika sepasang suami-istri bulan madu, tentu saja kegiatan mereka hanya merengkuh kenikmatan bersama.


...****************...


Sudah tiga hari Adriel dan Arriel menikmati waktu bulan madu mereka sangat menikmati waktu bersama. Sebenarnya mereka belum puas untuk berbulan madu, tetapi apa boleh buat karena merek harus kembali bekerja.


“Apa semua sudah dikemas?” Adriel memastikan pada sang istri.


“Tentu saja sudah, dan tidak ada yang tertinggal.” Arriel sudah memastikan kembali semuanya. Jadi dia yakin tidak akan ada yang tertinggal.


Adriel menghampiri sang istri. Merengkuh pinggang sang istri. “Aku berharap setelah bulan madu ini, akan ada hadiah untuk kita.” Adriel berharap akan ada janin yang berada di perut sang istri. Tangan Adriel membelai lembut perut sang istri. Menandakan di mana dia berharap hadiah itu hadir.


“Semoga.” Arriel berharap hal yang sama. Dia juga ingin segera memiliki anak. Pelengkap kebahagiaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2