Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 65


__ADS_3

Seminggu paska pesta pernikahan Mauren dan David, mereka sudah kembali beraktivitas kembali. Mauren pun juga sudah mulai bekerja lagi.


“Jadi Adriel adik David?” Mauren begitu terkejut mendapati cerita dari Arriel tentang Adriel.


“Iya, dan ternyata kita jadi ipar.” Arriel tersenyum. Tidak menyangka dia bisa menjadi ipar dengan Mauren. Selain jadi sahabat, teman kerja, dan kini jadi ipar. Sama-sama menantu Pak Dewa.


“Wah ... kita memang diciptakan untuk selalu bersama.” Mauren tertawa.


Arriel tersenyum. Membenarkan ucapan temannya itu.


“Tapi, bagaimana sekarang mamamu? Apa yang dilakukan setelah tahu menantunya adalah anak orang kaya?” Mauren lebih penasaran sekali dengan apa yang terjadi pada ibu temannya itu.


“Entah, sudah seminggu aku tidak menemuinya. Aku masih kesal dengannya. Dia sudah benar-benar keterlaluan sekali.” Arriel merasa jika memang sudah tidak bisa dimaafkan apa yang dilakukan mamanya.


“Sebenarnya aku kasihan, tetapi kalau mengingat apa yang dilakukan mamamu, aku juga tidak bisa terima jika suamiku diperlakukan itu.” Mauren bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Arriel. “Aku dukung apa pun keputusanmu.” Dia memilih mendukung apa yang dilakukan oleh temannya itu.


Arriel mengangguk. Untuk saat ini, inilah yang dirasakannya. Belum bisa memaafkan mamanya.

__ADS_1


...****************...


Suara bel terdengar. Adriel yang sedang masak untuk makan malam memundurkan tubuhnya untuk melihat apakah sang istri membuka pintu atau tidak. Sayangnya, sepertinya istrinya di dalam kamar. Jadi tidak mendengarnya. Mau tak mau Adriel mematikan kompor dan segera membuka pintu. Melihat siapa gerangan yang berada di belakang pintu.


Saat membuka pintu, Adriel dikejutkan dengan kehadiran Mama Anggun. Mertuanya itu datang ke apartemennya.


“Mama, ayo silakan masuk.” Adriel melebarkan pintu dan mempersilakan Mama Anggun untuk masuk.


Mama Anggun mengangguk. Mengayunkan langkahnya ke ruang tamu. Tepat di ruang tamu, dia mendudukkan tubuhnya di sofa.


Adriel mengayunkan langkahnya ke kamar. Dia ingin memberitahu sang istri tentang kehadiran sang mama. Saat membuka pintu, ternyata sang istri sedang merapikan tempat tidur.


“Lihat, tempat tidur ini sudah menanti kita.” Arriel yang melihat sang suami, langsung begitu semringah.


Adriel tersenyum melihat aksi sang istri. “Iya,


nanti kita akan gunakan kasur itu, tapi sekarang kamu harus keluar dulu.” Adriel menghampiri sang istri dan meraih tangannya. Dengan lembut, dia menarik tangan istri.

__ADS_1


Arriel dengan senang hati ketika sang suami menariknya. “Apa masakannya sudah matang?” tanyanya menebak alasan suaminya menariknya.


“Bukan.” Adriel menggeleng. Dia terus menarik tangan sang istri.


“Lalu apa?” tanya Arriel penasaran.


Adriel tidak menjawab, tetapi menghentikan langkahnya agar istrinya tahu apa yang membuatnya menarik tangan tadi.


“Kenapa berhenti?” Arriel menatap heran pada suaminya.


Adriel hanya diam dan mengarahkan pandangannya ke mama mertuanya. Arriel yang penasaran dengan pandangan sang suami, segera mengalihkan pandangan. Alangkah terkejutnya ketika melihat mamanya di sofa ruang tamu. Ternyata suaminya menariknya karena ingin memberitahu jika mamanya datang.


Melihat mamanya, Arriel benar-benar muak sekali. Dia masih teringat bagaimana mamanya mempermalukan sang suami di depan umum.


Mama Anggun bersiap berdiri, tetapi dia segera menghentikan gerakannya karena tiba-tiba Arriel berbalik dan kembali ke kamarnya. Arriel tidak mau menemui mamanya itu.


Melihat sang istri memilih pergi, Adriel segera menyusul sang istri ke kamar. Meninggalkan mama mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2