Suami Terpilih

Suami Terpilih
BaB 35


__ADS_3

Acara berlanjut. Mereka semua melepas balon ke udara. Loveta dan anak-anak panti begitu senang sekali menunggu momen ini. Karena tentu saja menjadi keseruan tersendiri. Di depan pelaminan yang terbuka, mereka bersiap melepaskan balon ke udara.


Loveta begitu senangnya ketika hendak melepaskan balon ke udara. Tak sabar menunggu momen itu.


“Kak Liam, nanti balon akan terbang ke mana?” Loveta bertanya sambil menatap Liam.


“Balonnya akan terpencar dan terbang bebas ke mana arah angin membawa.” Liam dengan sabar menjawab pertanyaan Loveta.


“Lolo tidak mau balonnya sendirian. Kasihan. Nanti dia sedih.” Loveta menekuk bibirnya. Dia sudah hampir mau menangis membayangkan balonnya akan terbang sendiri nantinya.


Liam tersenyum. Tanpa mengatakan apa-apa, dia meraih balon milik Loveta. Mengingatnya bersama dengan balon miliknya.


“Sudah, nanti jika balonnya terbang, dia tidak akan sendiri.” Liam tersenyum pada Loveta. Menenangkan gadis kecil di depannya.


“Ye … nanti balon Lolo tidak sendiri.” Loveta begitu girang sekali.


Liam hanya tersenyum melihat tawa Loveta. Senyum Loveta memang selalu membuatnya ikut tersenyum.


“Tiga … dua … satu.” Pembawa acara menghitung mundur. Memulai untuk melepaskan balon yang orang-orang sudah pegang.


Semua orang termasuk dengan pengantin melepaskan balon ke udara. Momen itu terekam jelas oleh fotografer. Yang kelak jadi kenangan untuk mereka semua. Anak-anak yang melihat balon ke udara pun begitu senang sekali. Balon berwarna putih itu menghiasi langit begitu indahnya.

__ADS_1


“Wah … balonnya terbang tinggi sekali.” Loveta melihat ke udara. Terkagum-kagum ketika banyaknya balon di langit yang terbang. “Hati-hati balon. Jangan jauh-jauh dari balon Kak Liam.”


“Balonnya sudah diikat, dia tidak akan pernah jauh. Ke mana pun balonnya pergi, mereka akan bersama.”


...****************...


Acara berlanjut. Beberapa tamu undangan yang datang ke pesta belum sempat memberikan ucapan selamat. Mereka pun memberikan ucapan selamat pada Adriel dan Arriel.


Seorang pria paruh baya menghampiri Adriel dan Arriel. Tepat di depan pengantin, dia mengulurkan tangannya. “Selamat atas pernikahan kalian.”


Arriel ingat betul jika itu adalah pria yang datang ke rumahnya. Pria yang anaknya ingin dijodohkan dengan dirinya.


“Terima kasih, Pak Dewa.” Arriel mengulurkan tangan pada Pak Dewa.


Arriel segera mengalihkan pandangannya. Dia tidak menyangka jika Adriel juga mengenal teman mamanya itu. “Kamu kenal Pak Dewa, Sayang?” tanya Arriel.


Adriel tersenyum. “Kenal, Beliau donatur tetap di panti asuhan kami.” Dia menjelaskan pada sang istri. Dengan segera dia mengulurkan tangannya. “Terima kasih, Pak Dewa sudah datang.” Dia tersenyum pada pria paruh baya itu.


Pak Dewa segera menerima uluran tangan Adriel. “Aku mendoakan semoga pernikahan kalian langgeng. Sampai nanti maut memisahkan.”


“Tentu saja. Setiap pernikahan selalu ada selipan doa baik di dalamnya.” Adriel masih memasang wajah senyumnya. “Apa Pak Dewa sendiri?” Adriel pun melemparkan pertanyaan itu pada Pak Dewa.

__ADS_1


“Aku tadi bersama David, tapi entah ke mana anak itu.” Pak Dewa mengedarkan pandangannya.


“Mungkin dia sedang mencari wanita yang bisa digoda.” Adriel sedikit meledek. Dia kenal David anak dari Pak Dewa adalah seorang Casanova. Gosipnya menghiasi majalah-majalah dan juga televisi. Wanita incarannya adalah artis, jadi dia kena getahnya ketika hubungannya terkuak ke publik.


“Dia tidak berubah-berubah. Padahal usianya sudah tiga puluh lima.” Pak Dewa menggerutu tentang anaknya.


“Mungkin dia akan berubah nanti jika wanita yang diharapkannya tidak mau bersamanya.” Adriel memberikan komentarnya.


“Kamu benar.” Pak Dewa hanya tersenyum. Membenarkan jika terkadang, tidak diharapkan memang membuat sakit.


“Kalau begitu kami permisi dulu. Kami harus menyapa tamu undangan yang lain.” Dengan sopan Adriel berpamitan.


Pak Dewa menganggukkan kepalanya. Mempersilakan Adriel dan Arriel untuk segera pergi. Dia segera menemu Bu Kania dan juga temannya. Menyapa mereka. Ini adalah kebetulan. Saat dirinya diundang oleh temannya, ternyata yang menikah adalah salah satu anak panti asuhan di mana dirinya sering mendonasi.


Adriel dan Arriel segera pergi. Mereka menyapa tamu-tamu undangan yang lain. Dengan ramah dia menyapa satu per satu tamu undangan.


“Sepertinya kamu kenal baik dengan Pak Dewa?” Arriel menoleh ke suaminya. Merasa heran jika suamiya mengenal begitu dalam anak Pak Dewa.


“Dia selalu datang ke panti. Bercerita tentang anaknya. Jadi aku tahu.” Adriel menjelaskan.


“Oh … pantas.” Arriel menganggukkan kepalanya. Terkadang memang orang tua suka mengeluhkan anak-anaknya. Seperti halnya mamanya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan menyapa tamu undangan. Beberapa tamu baru datang. Jadi Adriel dan Arriel belum usai menyapa tamu undangan.


__ADS_2