
Arriel dan Adriel selesai menonton film. Saat mereka keluar dari bioskop saat malam menyapa. Alhasil mereka memutuskan untuk makan malam sekalian. Arriel mengajak Adriel untuk ke restoran mahal yang biasa didatanginya. Saat masuk Adriel hanya bisa terperangah. Dekorasi yang mewah menunjukan seberapa berkelasnya restoran ini. Double L Steak salah satu restoran yang menyajikan steak yang sangat enak. Restoran tersebut terdapat beberapa cabangnya di kota-kota besar.
Letak restoran yang berada di dalam mal dan berada di lantai atas, tentu saja menyajikan pemandangan malam yang begitu indah.
Meja yang dipesan Arriel pun berada di pinggir kaca besar. Sehingga mereka berdua bisa menikmati makan malam dengan melihat pemandangan di luar.
Mereka memesan menu. Harga menu makanan terbilang mahal. Bagi Adriel yang hanya pegawai biasa, rasanya ini terlalu mahal jika makan berdua. Namun, karena Arriel sudah membawanya ke sini, tentu saja dia tidak bisa menolak.
“Kamu mau apa?” Arriel yang sedang membuka menu, mengalihkan pandangan pada Adriel.
“Kamu sering ke sini?” Sebelum bertanya, Adriel bertanya lebih dulu.
“Iya.” Arriel mengangguk.
__ADS_1
“Kalau begitu pilihlah makanan yang kamu suka.”
Arriel tersenyum. Kemudian dia memilih untuk memesan makanan yang biasa dipesannya. Adriel mengikuti saja apa yang dipesan oleh Arriel.
Sambil menunggu makanan, Adriel dan Arriel saling bercerita. Sambil sesekali melihat pemandangan di luar yang begitu indah. Malam ini cuaca ibu kita begitu cerah. Hingga membuat bintang terlihat begitu terang menghiasi langit malam.
“Jadi mamamu sekarang tinggal di sini?” Adriel memastikan ketika baru saja mendengar cerita dari Arriel yang mengatakan jika sang mama selama ini tinggal di Singapura.
“Iya, mungkin dia ingin lebih dekat dengan anak dan cucunya. Jadi dia memutuskan untuk ke tinggal di sini.” Sang mama memang sudah mengatakan pada Arriel, jika dia tidak akan kembali ke luar negeri. Mengingat anak dan cucunya di sini.
“Tidak juga. Justru aku malas.” Arriel menekuk sedikit bibirnya ketika mengingat sang mama.
“Kenapa?” Arriel begitu penasaran sekali.
__ADS_1
“Iya, karena mama selalu saja memintaku untuk menikah. Itu membuatku kesal.” Sudah beberapa kali dirinya disodorkan oleh mamanya.
“Kenapa tidak mau menikah?” Adriel menatap lekat wajah Arriel.
“Bukan tidak mau menikah, hanya saja aku belum bertemu dengan pria yang tepat.” Arriel memang merasa pria-pria yang disodorkan padanya bukanlah kriterianya. Jadi tentu saja itu membuatnya menolak pria-pria yang diberikan padanya.
“Aku mau pria dewasa. Yang selalu mengerti keadaan aku. Yang selalu menjadikan aku prioritas utamanya. Karena saat aku jadi prioritasnya, tidak ada ketakutan jika dia akan meninggalkan aku.” Sebuah ketakutan akan kehilangan tentu saja menjadi trauma tersendiri pada Arriel. Walaupun, pada kenyataannya dirinyalah yang meninggalkan.
Andai Dathan kala itu mengerti keadaan Arriel yang belum bisa memiliki anak dan tidak bisa fokus pada anak, mungkin jalan cerita hidup Arriel akan berbeda. Pada intinya, dari sudut pandang mana orang akan melihat. Jika dari sudut pandang Dathan, jelas Arriel adalah orang yang paling salah. Karena mengejar karier dan meninggalkan keluarganya. Jika dari sudut pandang Arriel, ada banyak beban yang berada di pundaknya, ada mimpi besar yang ingin diraihnya. Sehingga membuatnya memutuskan pilihan. Tergantung bijak menyikapi antara dua orang dengan pikiran yang berbeda.
Adriel yang mendengar penjelasan seperti itu hanya tersenyum. Tangannya meraih tangan Arriel yang berada di atas meja. “Kalau begitu jadilah prioritas utamaku.” Dia menatap lekat wajah Arriel. Meyakinkan Arriel jika dirinya layak untuk dipilih dari
sekian pria yang mencoba mendekatinya.
__ADS_1
Arriel tersipu malu. Adriel selalu bisa membuat hatinya berdebar tak menentu. Hingga tidak bisa dirinya memberikan penolakan.
“Biarkan aku mengenalmu lebih dalam dulu, sebelum memutuskan untuk menjadikamu suami terpilihku.” Arriel tentu tidak gegabah. Dia tahu yang harus dilakukannya.