
Adriel menatap sang istri. Dia sendiri tidak masalah, jadi tentu saja dia akan memaafkan.
“Adriel memaafkan, Ma.” Adriel mengakhiri perselisihan ini dengan memberikan maaf.
Mama Anggun semakin terisak ketika mendapati Adriel semudah itu memaafkan. Padahal jelas yang dilakukannya sudah menyakitkan dan menginjak harga dirinya.
“Mama lihat, bagaimana mudahnya Adriel memaafkan. Aku sebagai orang yang tidak disakiti secara langsung saja tidak bisa semudah itu maafkan.” Arriel meneteskan air matanya. Sebagai istri memang dia akan digaris depan membela suaminya. “Orang yang aku nikahi adalah orang yang tepat. Jangan melihatnya hanya dari harta.” Dia masih terisak.
“Maafkan Mama, Riel. Kini Mama tahu jika Adriel adalah orang yang baik.” Mama Anggun segera menghampiri sang anak. Meminta maaf dari dekat.
Arriel langsung memeluk sang mama. Seperti yang dikatakan suaminya. Tidak ada yang salah jika memaafkan mamanya. Lagi pula, mamanya sudah tampak menyesal.
“Tolong jangan diulangi lagi, Ma. Jangan menyakiti orang lagi.” Mamanya bukan kali ini saja menyakiti. Karena itu dia berharap ini jadi kejadian terakhir.
“Iya, Mama akan berjanji jika ini akan menjadi yang terakhir.” Mama Anggun berjanji dengan sepenuh hati. Setelah ini, dia tidak akan melakukan lagi.
__ADS_1
Adriel tersenyum ketika melihat ibu dan anak saling memaafkan. Dia berharap ke depan kehidupan mereka akan baik-baik saja. Tidak ada lagi yang menyakiti dan disakiti.
...****************...
Mama Anggun menekan bel. Untuk sesaat dia menunggu pintu dibuka. Hari ini Mama Anggun berniat untuk meminta maaf langsung pada Pak Dewa. Dia ingin hubungan dengan besannya itu membaik.
Saat pintu terbuka, tampak asisten rumah menyapa. Mama Anggun pun menyampaikan niatnya untuk menunggu lebih dulu. Asisten rumah tangga akan memanggilkan Pak Dewa lebih dulu.
Pak Dewa keluar. Dia cukup terkejut ketika melihat Mama Anggun datang. Namun, tentu saja dia tahu apa yang membuat Mama Anggun datang. Dengan segera dia duduk.
“Ada apa Nyonya Anggun ke sini?” Pak Dewa menatap dengan tatapan sinis pada Mama Anggun.
“Harusnya Anda meminta maaf anak dan menantu Anda. Bukan pada saya.” Pak Dewa menyampaikan rasa kesalnya itu.
“Saya sudah datang pada Adriel dan Arriel, Pak. Saya sudah meminta maaf.”
__ADS_1
“Apa Adriel dan Arriel memaafkan Anda?” Pak Dewa langsung menyambar ketika Mama Anggun menjelaskan.
“Sudah, Pak. Adriel dan Arriel sudah memaafkan.” Mama Anggun menceritakan bagaimana Adriel dan Arriel yang sudah dengan lapang memaafkan.
Pak Dewa tahu jika anaknya adalah anak yang baik. Jadi tentu saja akan memaafkan dengan sangat mudah.
“Jika Adriel saja yang direndahkan sudah memaafkan, tentu saja saya tidak punya alasan untuk tidak memaafkan.” Pak Dewa merasa memang seharunya dirinya memaafkan. “Tapi, apa Nyonya Anggun meminta maaf karena Adriel adalah anak saya?” Pak Dewa menatap tajam pada Mama Anggun.
“Tentu saja tidak karena itu, Pak. Saya memang meminta maaf karena menyesali apa yang sudah saya lakukan.” Mama Anggun memang meminta maaf tulus karena menyadari kesalahannya.
“Tapi, apa Nyonya sudah tahu jika sekali pun Adriel anak saya, dia tidak menggunakan fasilitas dari saya. Jadi sekali pun dia anak saya, dia hanya akan jadi karyawan biasa. Status anak saya tidak mengubah keadaan Adriel sekarang. Jadi apa Anda yakin akan tetap meminta maaf. Padahal anak Anda jelas tidak akan mendapatkan suami kaya yang punya banyak hal.” Pak dewa menggoyahkan pendirian Mama Anggun. Karena menduga Mama Anggun meminta maaf karena menantunya adalah anaknya.
“Saya sudah tidak peduli apa yang dimiliki Adriel. Yang membuat saya menyadari ini semua adalah bagaimana sikap Adriel yang luar biasa. Jadi sekali pun Adriel tidak memiliki apa pun. Saya akan tetap meminta maaf.” Mama Anggun memang tulus meminta maaf. Tidak memikirkan apa yang dimiliki Adriel. “Satu hal yang harusnya saya syukuri. Adriel bisa berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Jadi saya yakin anak saya akan baik-baik saja bersama dia.” Tak ada kekhawatiran lagi di dalam hati Mama Anggun. Dia yakin anaknya akan aman dengan Adriel.
Pak Dewa merasa ini jadi pertimbangan untuk memaafkan Nyonya Anggun. Apalagi bukan karna harta lagi Nyonya Anggun menerima Adriel sebagai menantunya.
__ADS_1
“Saya memaafkan Nyonya Anggun. Saya harap ini jadi pelajaran untuk Anda agar lebih menghargai orang lain lagi.”
“Tentu saja, Pak. Ini akan jadi pelajaran berharga untuk saya. Terima kasih sudah mau memaafkan saya.” Mama Anggun bersyukur Pak Dewa mau memaafkan. Kini bebannya sudah berkurang. Semua orang yang disakitinya sudah memaafkannya. Kelak Mama Anggun tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.