Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 44


__ADS_3

Arriel membuka matanya ketika mencium aroma masakan. Saat membuka matanya, tak ada suaminya di sebelahnya. Arriel merasa jika sang suami pasti sedang memasak. Kemarin, mereka sempat ke supermarket sebelum sampai rumah. Jadi pasti sang suami sedang memasak bahan-bahan kemarin.


Arriel menyibak selimutnya. Perlahan bangun dari posisi tidurnya. Menurunkan kaki ke atas karpet bulu yang berada di kamar dan segera berdiri.


Langkahnya, dia ayunkan keluar dari kamar. Tempat yang dituju adalah dapur. Dia ingin melihat Adriel memasak di sana.


Dari kejauhan Arriel melihat sang suami yang sedang bergerak ke sana ke mari. Mengambil bahan masakan dan kembali ke masakan yang berada di atas kompor. Gerakan yang begitu cepat itu membuat kagum.


Arriel mengayunkan langkahnya lebih dekat. Semakin dekat dia melihat sang suami, semakin dia terpesona.


Adriel yang berbalik dikagetkan dengan kehadiran sang istri. “Selamat pagi.” Dia menyapa istrinya dengan senyum di wajahnya. Tangannya meraih lada bubuk yang berada di meja.


“Pagi.” Arriel tersenyum. Melihat sang suami memakai apron jelas membuatnya merasa suaminya tampan sekali. Arriel merasa semakin jatuh cinta. “Apa yang kamu masak?” Sambil duduk menghadap ke arah Adriel, Arriel bertanya.

__ADS_1


“Masak scream bread, smoked beef, grilled sausage, sinny side up and salad.” Adriel menjelaskan pada sang istri.


“Sepertinya enak.” Arriel tersenyum. Membayangkan saja perutnya sudah berdendang.


Adriel hanya memuji saja. Dia tentu saja akan membuat makanan enak untuk sang istri.


Selang beberapa saat akhirnya makanan pun jadi. Adriel membawanya ke meja makan. Hal itu membuat Arriel tak sabar untuk memakannya. Dia segera beralih ke meja makan. Duduk bersama dengan sang suami.


“Silakan dimakan makanan ala chef Adriel.” Adriel meletakkan makanan di atas meja makan.


“Enak sekali.” Arriel tak sabar memuji makanan sang suami.


“Terima kasih.” Adriel senang ketika sang istri menyukai masakannya.

__ADS_1


Arriel begitu lahap memakan masakan sang suami. Sampai-sampai tak menyisakan celah untuk bicara sama sekali. Dia hanya fokus pada makanannya. Adriel yang melihat hal itu membiarkan sang istri. Menikmati makanannya.


“Wah ... jika seperti ini enaknya masakkanmu. Aku malu sekali.” Tepat saat makanan habis, Arriel mulai bicara.


“Kenapa harus malu?” Adriel tersenyum.


“Iya, karena masakkanmu enak sekali.” Arriel merasa tidak sebanding. Jika pun dirinya memasak. Pastinya tidak akan seenak Adriel.


“Bukankah kamu mau belajar. Jadi aku akan mengajarimu. Masalah rasa, pelan-pelan pasti akan enak.” Adriel memberikan semangat pada sang istri.


Arriel merasa usaha adalah cara terbaik. Masalah hasil, itu nanti urusan belakangan. “Baiklah, aku akan belajar. Nanti saat libur, kita memasak.” Dia sudah membuat rencana untuk memasak bersama.


“Baiklah.” Adriel senang ketika sang istri mau belajar memasak. Tentu saja dia akan menemani belajar.

__ADS_1


“Oh ... ya, nanti siang kita bertemu di restoran langsung saja. Setelah menjemput Lolo aku akan ke sana.” Rencananya Arriel akan menjemput anaknya yang sekolah. Kemudian mengajaknya makan siang bersama. Baru setelah itu, dia memulangkan anaknya tersebut.


“Baiklah, aku akan langsung ke restoran.” Adriel setuju dengan ide sang istri.


__ADS_2