
Mengingat hari ini Loveta tidak jadi ke apartemen, Arriel dan Adriel memutuskan untuk pergi ke makam. Sebelum pernikahan, Adriel pernah membawa Arriel ke sana. Kali ini, dia mengajak sang istri lagi untuk ke makam. Jika kosong, Adriel memang selalu datang ke makam.
Makam tampak ramai pagi ini. Mungkin karena hari ini adalah hari libur. Jadi banyak yang datang ke makam. Sebelum ke makam, Adriel dan Arriel membeli bunga terlebih dahulu.
Adriel menggandeng tangan Arriel menyusuri pinggir makam. Melewati beberapa makam untuk mencapai makam ibunya. Tepat saat sampai di makam, mereka melihat makam bertabur bunga mawar. Mawar yang masih segar, menandakan jika bunga baru saja ditabur.
“Ada yang datang?” Arriel menatap suaminya. Penasaran karena ternyata ada yang datang sebelum mereka.
Ardriel memerhatikan makam. Tampak jelas jika baru saja ada yang datang. Dia sudah tahu siapa yang datang. “Iya, mungkin Bu Kania.” Adriel tersenyum ketika menjawab.
Arriel merasa jika bisa jadi Bu Kania yang datang. Mengingat jika Bu Kania adalah teman ibu Adriel.
Mereka berjongkok tepat di samping makam. Karena makam tampak bersih, tak banyak yang dilakukan oleh Adriel dan Arriel. Di samping pusara sang ibu, mereka bedua memanjatkan doa untuk ibu Adriel. Arriel menabur bunga lebih dulu dibanding suaminya. Kemudian baru disusul Adriel.
Selesai berkunjung ke makam, mereka langsung bergegas ke swalayan. Rencananya, Arriel dan Adriel akan memasak. Jadi mereka akan membeli sesuatu.
Adriel melajukan mobilnya ke swalayan. Arriel begitu bersemangat sekali. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan memasak.
“Masak apa kita?” Arriel menatap sang suami yang sedang menyetir.
“Kita masak yang simple saja. Spageti.” Adriel memberitahu sang istri
“Kita beli spageti instan lalu dimasak?” Arriel menebak.
__ADS_1
Adriel tersenyum. “Tentu tidak, kita buat spageti sendiri. Bukan beli instan.” Tentu saja dia tidak akan masak spageti instan. Sama saja itu hanya masak air dan tinggal masukkan saja.
Arriel hanya tersenyum polos. Dia pikir akan masak spageti instan seperti yang dilakukannya.
Mereka sampai di swalayan. Adriel segera mendorong troli untuk mencari bahan-bahannya. Arriel yang ikut serta, hanya melihat Adriel yang lihai memilih bahan masakan.
Saat semua bahan terbeli, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Melanjutkan kembali berbelanja.
Sesampainya di apartemen, Arriel bergegas merapikan bahan masakannya. Dia sudah tidak sabar untuk membuat masakan tersebut. Adriel pun tidak punya pilihan, selain cepat memulai.
“Apa yang harus aku lakukan?” Arriel menatap sang suami.
“Potong bawang bombay saja.” Adriel memberikan perintah pada sang istri.
Adriel tersenyum. “Kalau begitu aku saja.” Adriel mengambil alih. Dengan cekatan dia memotong bawang bombay.
“Bagaimana bisa kamu memotong secepat itu? Apa kamu tidak merasa perih.” Arriel merasa heran sekali.
“Tidak.” Adriel tersenyum. Dia terbiasa memasak. Jadi wajar saja jika dengan mudah dia memotongnya.
Arriel hanya pasrah. Ternyata yang biasa memasak dan tidak tampak beda ketika memotong bawang.
“Sudah kamu bagian potong tomat saja.” Adriel memberitahu sang istri.
__ADS_1
“Baiklah.” Arriel mengikuti saja. Lagi pula dari pada dia menangis saat memasak. Lebih naik memotong tomat.
Ketika bahan siap, akhirnya bumbu-bumbu ditumis. Daging cincang yang tadi dibeli juga ikut ditumis. Tak lupa saos untuk spageti dimasukkan. Tambahan garam dan penyedap rasa pun menjadi pelengkapnya. Beberapa bumbu tambahan juga diberikan. Tinggal menunggu saos matang, dan saos spageti jadi.
Adriel yang menunggu sang istri, memilih merebus spageti. Merebusnya dengan tingkat kematangan yang pas.
Semua sudah selesai. Tinggal menyajikan saja di atas piring. Arriel dengan semangat melakukannya. Meletakan spageti dan siraman saos di dalam piring.
Dua piring spageti terjadi cantik sekali. Membuat Arriel tak sabar memakannya.
Adriel membawa dua piring berisi spageti ke ruang makan. Kemudian menikmatinya bersama dengan istrinya.
“Selamat makan.” Arriel bersemangat memasukkan spageti ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan perlahan. “Enak sekali.” Arriel merasa masakannya enak. Beda sekali dengan spageti instan yang biasa dibuatnya.
Arriel hanya tertawa saja. Melihat sang istri senang tentu saja dia ikut senang.
“Besok kita masak apa?” Arriel jadi bersemangat sekali. Dia yakin jika nanti jika sering-sering masak, dia akan dapat memasak.
“Emm ... steak daging.” Adriel memberikan ide.
“Setuju.” Arriel begitu bersemangat.
Sesederhana itu bahagia bagi Arriel. Menghabiskan waktu bersama sang suami untuk memasak bersama. Tidak perlu pergi ke restoran mahal, atau menginap di hotel berbintang. Cukup memasak berdua, sudah merupakan kebahagiaan untuknya.
__ADS_1