Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 63


__ADS_3

“Uang itu untuk program bayi tabung.” Arriel menjelaskan untuk apa uang tersebut.


Adriel terkejut. Padahal mereka sudah sepakat untuk menunggu hasilnya, tapi seolah istrinya tidak sabar untuk memiliki anak.


“Aku tahu kita harus menunggu. Aku hanya ingin bersiap saja. Jika ini gagal kita bisa langsung beralih cara lain.” Arriel sedikit menundukkan kepalanya. Merasa jika memang cara ini yang dilakukan.


“Kamu tahu apa gunanya menunggu hasil. Agar kita yakin dan percaya jika itu akan berhasil. Menaruh harapan jika itu berhasil. Jika kamu saja sudah memikirkan cara lain, artinya kamu sudah yakin gagal.”


“Bukan begitu maksud aku.” Arriel merasa tidak enak dengan ucapan Adriel. Namun, yang dikatakan Adriel ada benarnya. “Iya, aku tahu, aku salah. Aku hanya terlalu panik.” Arriel menundukkan kepalanya. Merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


Adriel mengerti perasaan istrinya. Dia pun membawanya ke dalam pelukannya. “Aku tahu jika selama ini kamu benar-benar menunggu. Jadi kamu begitu ingin sekali segera memiliki anak. Tapi, kita sedang berusaha. Kita coba satu per satu cara.” Dia mencoba memberitahu sang istri. Membelai lembut rambutnya.


“Maaf.” Satu kata yang bisa diberikan oleh Arriel.


Adriel mengangguk. Dia tahu kecemasan yang dirasakan oleh istrinya. Jadi dia merasa wajar saja.


“Kita tunggu saja. Percayalah akan ada hasil yang baik suatu saat.” Adriel meyakinkan sang istri.

__ADS_1


Arriel semakin mengeratkan pelukannya. “Aku berjanji akan selalu bilang apa pun padamu.”


Adriel mengangguk. Dia tidak mau menyalahkan sang istri terlalu berlebihan. Lagi pula sudah jelas jika sang istri melakukan itu karena memang ingin sekali buru-buru memiliki anak. Dia hanya berharap usahanya berhasil. Jadi tidak perlu sampai melakukan bayi tabung.


...****************...


Hari ini Adriel membawa Arriel ke rumah Pak Dewa. Dia ingin memperkenalkan papanya secara langsung. Sekalian mereka ingin meminta maaf sekali lagi karena sudah membuat berantakan acara kala itu.


Terutama Arriel. Karena waktu itu, dia belum sempat meminta maaf secara langsung.


Saat datang di rumah Pak Dewa, Arriel dibuat tercengang. Karena memang rumah tampak begitu besar sekali. Keluarganya memang tak sebanding sama sekali.


Mengingat Adriel memang tidak tinggal di sana, tentu saja dia tidak bisa sembarangan masuk.


“Kalian sudah datang.” Pak Dewa tersenyum ketika melihat anak dan menantunya. Kemarin Adriel sudah memberikan kabar. Jadi dia tahu jika anaknya akan datang.


“Iya, Pak.” Adriel mengangguk sambil menyalami Pak Dewa.

__ADS_1


Arriel yang berada di sebelah suaminya pun juga turut menyalami Pak Dewa.


“Kapan kamu memanggil aku papa?” Pak Dewa menatap anaknya. Anaknya tak pernah mau memanggilnya dengan sebutan ‘papa’ sama sekali. Tentu saja itu membuatnya heran.


“Saya belum terbiasa.” Adriel hanya tersenyum tipis.


Pak Dewa hanya bisa bersabar. Entah kapan dia akan menunggu anaknya mau memanggilnya dengan panggilan ‘papa’.


Mereka duduk dan menikmati teh yang sudah disediakan. Masih belum ada yang membuka obrolan. Hingga Arriel menatap sang suami, memberikan isyarat jika dia akan bicara.


“Pak Dewa—“


“Apa kamu tidak mau memanggil aku ‘papa’ juga?” Pak Dewa memotong ucapan Arriel.


Arriel terkesiap. Kemudian mengalihkan pandangan pada suaminya. Anggukan sang suami menandakan jika dia mengizinkan sang istri memanggil dengan panggilan ‘papa’.


“Papa.” Akhirnya Arriel pun memanggil seperti yang diminta.

__ADS_1


Pak Dewa tersenyum. Ketika anaknya tidak mau memanggil ‘papa’, paling tidak menantunya mau.


__ADS_2