
Sepanjang makan Arriel memerhatikan sang mama. Dia masih terus memikirkan apa yang membuat sang mama mengundangnya untuk makan siang. Namun, Arriel tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan sang mama.
Tepat saat mereka baru selesai makan, seseorang datang diantar oleh pramusaji. Arriel yang mengalihkan pandangan melihat siapa yang datang. Dia hapal betul jika itu adalah pengacaranya. Namun, Arriel merasa tidak sama sekali mengundangnya.
Arriel segera mengalihkan pandangan pada sang mama. Dia yakin sekali jika sang mama yang mengundang pengacara untuk datang.
“Selamat siang, Maaf saya terlambat.” Pengacara menyapa semua yang ada di ruangan.
“Tidak, Pak. Bapak tidak terlambat. Silakan duduk.” Mama Anggun menyapa dengan sopan.
Arriel memerhatikan sang mama. Dia yakin memang sang mama yang mengundang pengacara. Namun, Arriel tidak tahu untuk apa pengacara diundang.
Adriel sendiri tidak tahu siapa gerangan pria itu, tetapi dari raut wajah Mama Anggun, dia jelas kenal.
“Kenalkan ini pengacara Arriel.” Mama Anggun memperkenalkan pengacara pada Adriel.
“Perkenalkan, saya Wisnu.” Pengacara mengulurkan tangan pada Adriel.
“Adriel.” Adriel yang menerima uluran tangan, memperkenalkan dirinya juga.
Pengacara menyalami Arriel setelah menyalami Adriel. Kemudian duduk di kursi yang berada di samping Mama Anggun.
__ADS_1
“Ini, Bu, saya sudah siapkan berkasnya.” Pengacara membuka tas dan mengeluarkan berkas yang dibawanya.
“Berkas apa?” Arriel langsung menyambar ucapan pengacara.
“Berkas perjanjian pranikah.” Mama Anggun yang menjawab.
Arriel membulatkan matanya ketika mendengar berkas apa yang disiapkan pengacara. Ternyata sang mama menyiapkan berkas perjanjian pra nikah. Arriel tahu betul jika perjanjian itu dibuat dengan berdasarkan beberapa alasan. Namun, Arriel merasa tidak perlu dengan hal itu.
“Jadi kalian bisa mengajukan syarat-syarat yang diinginkan kedua mempelai. Perjanjian ini juga sekaligus untuk memisahkan harta sebelum menikah agar tidak tercampur.” Mama Anggun tersenyum. Inilah alasannya mau membuat surat perjanjian pra nikah untuk Arriel. Mama Anggun ingin menyelamatkan aset yang dimilik Arriel sebelum menikah.
Arriel benar-benar tercengang mendengar ucapan dari mamanya. Mamanya benar-benar keterlaluan. Karena melakukan hal itu tanpa ada izin dari dirinya.
“Ma, kenapa Mama seenaknya saja membuat perjanjian ini. Aku tidak memerlukan perjanjian seperti ini.” Arriel benar-benar kesal sekali dengan sang mama. Dia tidak mau Adriel terluka dan merasa direndahkan dengan ini semua.
“Ma, bagi aku tidak masalah. Aku tidak keberatan jika apa yang aku miliki dipakai berdua.” Arriel merasa mamanya tidak sama sekali menghargai Adriel. Walaupun mungkin menghasilkannya lebih banyak dari Adriel, tetapi dia tidak mau memperlakukan Adriel seperti ini.
“Mama tidak mau tahu. Mama akan mengizinkan kalian menikah jika kalian mau membuat surut perjajian. Menyerahkan memberitahu data harta yang kalian miliki. Setelah itu kalian bisa mulai dari awal untuk harta bersama.” Mama Anggun masih dengan pendiriannya.
Arriel tidak menyangka jika sang mama akan mengancam seperti itu. Padahal pernikahan tinggal di depan mata. Jika mamanya membuat ulah, jelas itu membuat kacau pernikahan.
“Saya setuju.” Suara Adriel terdengar.
__ADS_1
Arriel seketika menoleh saat mendengar suara Adriel. Dia merasa bingung kenapa Adriel setuju dengan hal ini. Padahal dirinya akan menolaknya.
“Sayang, jangan ikuti apa kata Mama. Aku tidak mau ada perjanjian-perjanjian sebelum menikah.” Arriel mencoba meyakinkan calon suaminya.
“Sayang, Mama kamu ada benarnya. Ini untuk membuat kita tanpa beban apa pun. Kita bisa mulai dari nol di dalam pernikahan kita. Tanpa ada harta kamu dan harta aku. Jadi kelak hanya ada harta kita. Kita bisa kelola berdua.” Adriel mencoba meyakinkan Arriel. Dia tahu jika Arriel pasti memikirkan perasaannya. Padahal dia tidak masalah. Adriel tahu bagaimana kekhawatiran dari Mama Anggun, mengingat jika dilihat dari pendapatan, pendapatan Arriel jauh lebih besar dibanding dirinya.
“Lihatlah, Adriel setuju.” Mama Anggun senang ketika akhirnya Adriel setuju. Dengan begitu, anaknya tidak akan dimanfaatkan oleh Adriel. Jaman sudah berubah, sekarang bukan lagi wanita matrealistis, tetapi laki-laki matrealistis. Jadi dia ingin menyelamatkan anaknya.
Arriel mendengus kesal. Namun, dia merasa jika yang dikatakan oleh Adriel ada benarnya juga. Jika penghasilan sebelum menikah dipisah, mereka bisa mulai dari awal. Mereka bisa menggabungkan pendapatan dari awal lagi. Tidak mencapur pendapatan sebelum nikah.
“Baiklah, aku setuju.” Arriel akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Adriel.
“Baiklah, semua sudah setuju.” Mama Anggun puas sekali. Jika sudah begini, dia jauh lebih tenang. “Baiklah, Pak. Silakan dilanjutkan.” Mama Anggun meminta pengacara melanjutkan kembali.
Pengacara pun menjelaskan bagaimana perjanjian pra pernikahan itu. Dia meminta Adriel dan Arriel menulis harta mereka sekarang, mulai harta bergerak dan tidak bergerak. Semua harus jelas dan tidak ada yang disembunyikan. Setelah itu pengacara meminta keduanya untuk menandatangani berkas. Arriel dan Adriel pun akhirnya menandatangani berkas dan sepakat dengan perjanjian ini.
...****************...
“Kenapa kamu harus setuju dengan perjanjian itu?” Arriel masih sedih karena dia tidak mau melukai Adriel. Dia yang sampai di depan toko perhiasan miliknya, memilih tidak segera turun.
“Bukankah tadi aku sudah jelaskan. Jika kita akan mulai dari nol. Kita bisa menabung bersama untuk mimpi kita berdua.” Adriel meraih tangan Arriel. Menggenggamnya erat. “Kita mulai dari bawah. Kita mulai bersama untuk kebahagiaan kita.” Dia mencoba meyakinkan Arriel. Senyum manisnya menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Arriel mengangguk. Yang dibilang Adriel memang benar. Jika Adriel sudah tidak mempermasalahkan. Harunya, semua bisa berjalan dengan baik.
Kini Arriel yakin jika Adriel memang pantas untuk menjadi suaminya. Arriel berharap kehidupan pernikahannya dengan Adriel akan bahagia.