
“Ayo masuk.” Arriel mempersilakan tamunya untuk masuk. “Bi, tolong bawakan barang-barang ini.” Arriel mengalihkan pandangan pada asisten rumah tangga. Meminta untuk membawakan barang-barang yang dibawa Adriel. Dia pun menerima bingkisan yang dibawa oleh Bu Kania. Kemudian mempersilakan Bu Kania masuk.
Mama Anggun hanya memerhatikan tamunya saja. Dia merasa ada yang aneh. Tamu yang datang benar-benar tak sesuai perkiraannya. Apalagi setelah membawa barang-barang dan makanan yang dibawa calon suami Arriel. Semua tampak sederhana dan tak terkesan mewah. Melihat wajah Adriel yang tampak begitu muda, dia yakin jika usainya berada di bawah sang anak. Artinya anaknya akan menikah dengan berondong.
Mereka semua duduk di ruang tamu. Loveta masih asyik bersama Adriel. Menempel bak prangko pada calon papanya itu.
“Maaf kami belum memperkenalkan diri.” Adriel tadi hanya baru bersalaman dengan mama Arriel. Belum sempat berkenalan.
“Kenalkan, saya Adriel.” Adriel mengulurkan kembali tangannya pada Mama Anggun.
Mama Anggun masih bingung dengan situasi ini. Apalagi melihat Adriel yang tampak biasa. Bukan seperti seorang pengusaha.
“Ma.” Arriel menyenggol sang mama. Meminta sang mama untuk segera menerima uluran tangan Adriel.
Mama Anggun menoleh pada Arriel. Tampak
putrinya memberikan kode padanya untuk menerima uluran tangan. Dengan segera, dia pun menerima uluran tangan Adriel.
“Anggun-mama Arriel.” Mama Anggun memperkenalkan diri.
“Kenalkan ini Ibu Kania. Ibu saya.” Adriel memperkenalkan wanita yang duduk di sampingnya.
Bu Kania pun segera memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. “Kania.”
Mama Anggun melihat wanita di depannya dengan tatapan Aneh. Namun, segera dia menerima uluran tangan Bu Kania. “Anggun.” Dia memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Bu, ini Arriel.” Adriel memperkenalkan Adriel calon istrinya itu.
“Arriel.” Arriel begitu bersemangat berkenalan. Dia mengulurkan tangan pada Bu Kania.
Mama Anggun melihat aneh pada putrinya. Tampak sang putri begitu antusias dengan kedatangan tamunya. Apalagi caranya berkenalan, menunjukkan jika dia sungguh-sungguh dalam hal ini.
“Ternyata kamu lebih cantik dibanding di majalah.” Bu Kania sudah melihat majalah yang berisi dengan foto Arriel. Adriel juga menunjukkan yang mana Arriel.
“Terima kasih.” Arriel tersipu malu.
Mama Anggun benar-benar tidak mengerti kenapa anaknya benar-benar aneh. Dia begitu sangat semangat. Padahal baginya mereka tidak cocok untuk anaknya.
“Kami permisi dulu, mau ambil makanan dan minuman.” Mama Anggun menarik tubuh sang anak. Dia harus bicara terlebih dahulu dengan anaknya.
Baru Arriel ingin membantah ucapan sang mama, tiba-tiba sang mama sudah menariknya. Terpaksa dia pun ikut sang mama untuk keluar.
Mama Anggun membawa Arriel ke dapur. Jauh dari tamunya itu. Tak mau obrolannya didengar oleh tamunya.
“Ma, ada apa menarikku?” Arriel melayangkan protesnya.
“Riel, itu pria yang akan melamarmu?” Mama Anggun memastikan terlebih.
“Iya, memang ada masalah?” tanya Arriel polos.
“Dia bukan pengusaha?” Mama Anggun memastikan lagi.
__ADS_1
“Bukan.” Arriel menggeleng.
“Bukan anak pengusaha?” Mama Anggun bertanya lagi.
“Bukan.” Arriel kembali menggeleng.
“Lalu, kerja apa?” Mama Anggun merasa bingung kerja apa pria yang akan menikah dengan anaknya itu.
“Dia manager majalah.” Arriel menjawab dengan tenang.
“Riel, kamu akan menikah dengan pria yang hanya seorang manager saja?” Mama Anggun tidak habis pikir. Kenapa anaknya mau dengan seseorang yang mungkin pendapatannya jauh dibanding dirinya.
“Maksud Mama apa?” Arriel menatap sang mama lekat. Dia mulai sedikit terpancing emosi.
“Riel, kamu ini seorang pengusaha, dibanding seorang manager, pendapatan kamu lebih besar. Jika kamu menikah dengan pria seperti itu. Kamu hanya akan dimanfaatkan saja.” Mama Anggun mencoba menjelaskan.
Akhirnya Arriel tahu arah pembicaraan mamanya. “Ini pilihanku. Jadi tolong hargai, Ma.” Arriel malas berdebat dengan sang mama. Dia pun segera berbalik. Kembali ke Adriel di ruang tamu.
Baru saja Arriel berbalik, Sang mama sudah memutar tubuh Arriel. “Sadar, Riel. Pria itu tidak cocok denganmu!” Dia menaikkan suaranya satu oktaf ketika amarahnya mulai merasuki.
Arriel menatap jengah pada sang mama. Bisa-bisanya sang mama menilai orang hanya dengan pekerjaannya. “Waktu aku menikah dengan Dathan yang pengusaha, Mama minta aku untuk tetap bisa mandiri. Padahal jelas mungkin aku bisa hidup dengan apa yang dimiliki Dathan. Sekarang setelah aku mandiri, mama meminta aku untuk tidak menikah dengan pria yang mungkin pendapatannya di bawah aku. Aku bingung dengan standar yang Mama berikan.” Arriel benar-benar kesal dengan sang mama. “Ini pilihanku. Jadi aku harap Mama menghargai.” Arriel tak mau berlama-lama. Apalagi membuat tamunya menunggu. Dia segera kembali ke ruang tamu. Bergabung dengan Adriel.
Mama Anggun benar-benar heran. Melihat anaknya yang dibutakan cinta. Tidak realistis sama sekali. Dulu dia memang meminta Arriel tetap bekerja karena Arriel sedang melesat kariernya. Sayang jika ditinggalkan dan hanya jadi istri yang meminta uang dari suaminya. Dan lagi, Mama Anggun berpikir tidak mau hidup dari sang menantu. Memilih agar anaknya menghidupnya.
Sekarang memang sudah tak banyak yang diharapkannya. Arriel sudah menyiapkan dana di masa tua untuknya, dan tak perlu khawatir lagi dengan memaksakan Arriel bekerja. Namun, pikirannya melayang, memikirkan jika Arriel menikah dengan pria yang pendapatannya di bawahnya. Jelas sang anak akan rugi. Karena bisa-bisa dia akan dimanfaatkan. Hal itu membuatnya tidak rela.
__ADS_1