
Adriel terus menikmati tautan bibir. Mengakses setiap sudut mulut Arriel. Tak membiarkan setiap sisi terlewatkan.
Perlahan Adriel melepaskan tautan bibirnya ketika sudah cukup lama dia mencium Arriel. Tak mau sampai tergoda terlalu jauh. Baginya ciuman ini sudah cukup.
“Aku ingin menikmati lebih lama, tetapi tidak akan jadi spesial jika nanti aku merasakannya sekarang.” Adriel mengusap bibir Arriel yang basah.
“Kamu menunggu sampai kita menikah?” Arriel memastikan pada calon suaminya itu.
“Iya, apa kamu sudah tidak sabar?” Adriel menyeringai.
“Bukan begitu.” Arriel mencubit perut Adriel. Kesal ketika calon suaminya menggodanya seperti itu. “Aku hanya tidak menyangka jika kamu akan sabar menunggu.” Arriel hanya merasa Adriel salah satu pria yang baik. Mungkin dalam situasi seperti ini, dia bisa memanfaatkannya. Tidak ada orang, di kamar mereka hanya berdua, dan mereka sudah membuka jalan dengan ciuman panas. Jadi tentu saja itu sudah sangat memudahkannya untuk melanjutkan pada inti semuanya.
__ADS_1
Adriel membelai lembut wajah Arriel. “Tinggal selangkah lagi, kenapa aku tidak mau bersabar. Ketika bersabar, nanti sensasinya akan berbeda.” Dia tersenyum manis. “Lagi pula, aku ingin menghargaimu.”
“Apa kamu tahu. Aku pikir orang akan memanfaatkan aku, karena aku pernah menikah dan sudah pernah berhubungan suami-istri.” Arriel tak menyangka jika Adriel tidak bersikap seperti itu.
Adriel tersenyum. “Aku punya ibu, walaupun Bu Kania bukan ibuku. Punya adik-adik perempuan di panti begitu banyak. Lalu, jika aku ingin orang menghargai mereka semua, kenapa aku tidak berusaha menghargai wanita dulu. Jika aku tidak bisa menghargai wanita, lalu siapa yang kelak menghargai mereka. Aku tahu jika aku pun salah sudah menciummu lebih dulu. Namun, untuk yang satu itu, aku akan sabar menunggu sampai kita menikah” Dia menatap Arriel. Berusaha untuk meyakinkan Arriel. Walaupun sekuat tenaga dia menahan diri.
Arriel merasa begitu bahagia mendapatkan pria seperti Adriel. Dia yakin jika ternyata Adriel adalah pria yang tepat untuknya.
“Ayo, jangan berlama-lama di kamar.” Adriel pun menjauhkan tubuhnya dari Arriel. Jika berlama-lama di kamar, yang ada dia akan tergoda juga.
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Mereka berdua mencatat beberapa nama orang yang akan diundangnya. Catatan itu dikumpulkan agar nanti bisa dicetak di dalam undangan langsung.
__ADS_1
...****************...
“Tolong letakkan di sini.” Arriel meminta kurir untuk meletakkan undangan yang dikirim dari percetakan di ruangannya. Dia memang meminta pihak percetakan mengirim undangan ke kantornya saja. Mengingat dia banyak menghabiskan waktu di tempat kerja.
Kurir meletakkan undangan yang dibawanya di tempat yang diminta oleh Arriel. Kemudian setelah itu pergi.
Arriel mengambil satu undangan yang diberikan padanya. Mengecek undangan yang sudah tertera nama tamu undangan. Desain undangan sudah pas sekali dengan yang diinginkannya. Jadi tidak ada masalah lagi.
“Undangannya bagus sekali. Kamu memang selalu sempurna menyiapkan sesuatu.” Mauren memuji Arriel. Dia tahu temannya itu begitu hebat dalam hal ini.
Arriel tersenyum. “Nanti tolong bantu sebarkan.” Dia butuh bantuan orang untuk mengirim undangan.
__ADS_1
“Aku karyawan kita untuk mengirimkan undangan.” Mauren tentu saja akan membantu Arriel. Dia adalah orang yang paling senang ketika melihat temannya menikah.
“Aku akan membawa undangan untuk mamaku. Pasti dia ingin mengirim teman-temannya.” Arriel, mengambil beberapa undangan kosong. Nanti, dia akan berikan pada mamanya. Dia yakin sang mama akan menggunakannya.