
Adriel dan Arriel melihat brosur yang diberikan sang mama. Rasa penasarannya membuat Arriel mengambilnya. Melihat apa isinya.
Arriel membaca jika itu adalah brosur untuk program kehamilan. Ada beberapa program yang diberikan.
“Kemarin teman Mama memberikan ini. Jadi kalian bisa mencobanya. Siapa tahu kalian mau mencobanya.” Mama Anggun menatap Arriel dan Adriel.
Arriel masih fokus membaca program itu. Tampak antusias sekali. Namun, dia sedikit terkejut ketika ternyata harga untuk program kehamilan itu cukup mahal. Bukan apa-apa. Dia takut sang suami tidak sanggup.
Sebenarnya bisa saja memakai uangnya, tetapi jelas jika memakai uangnya, suaminya tidak akan mau. Dan lagi, Arriel tahu pasti keuangan mereka. Jadi jelas uang yang mereka tidak cukup. Sekali pun memaksakan, justru mereka akan kesulitan.
“Kami akan coba secara alami saja.” Arriel meletakkan brosur di atas meja kembali.
“Cobalah dulu. Ini justru membantu kalian mendapatkan anak lebih cepat.” Mama Anggun mencoba meyakinkan anaknya.
__ADS_1
Adriel yang melihat reaksi sang istri pun segera mengambil brosur tersebut. Membaca dengan perlahan. Harga yang ditawarkan memang cukup mahal karena ternyata ratusan juta. Mungkin itu terjadi karena alat-alat sekarang jauh lebih canggih. Jadi ada harga yang sepadan untuk diberikan.
“Apa kamu tidak mau karena harganya mahal?” Mama Anggun melempar sindiran pada sang anak. Dia tahu jika anaknya hidup pas-pasan. Keuntungan tokonya memang langsung disimpan, dan dia hanya mendapatkan gaji untuk dirinya sendiri saja.
Arriel benar-benar geram sekali. Mamanya tidak pernah bisa bicara lebih baik. Selalu melemparkan sindiran. “Iya, harganya mahal. Jadi aku tidak mau. Puas Mama dengarnya.” Arriel yang terpancing emosi pun menjawab.
“Itulah alasan Mama melarangmu menikah dengan pria yang hidupnya pas-pasan. Untuk program seperti ini saja tidak mampu.” Mama Anggun kembali mengungkit restu yang diberikannya. Merasa menyesal karena hidup anaknya harus tersiksa dengan suami yang pendapatannya kecil.
Arriel tidak menyangka jika mamanya kembali mengungkit hal itu. “Dengar, Ma. Kami memang hidup pas-pasan, tetapi kami bahagia. Sekali pun belum diberikan anak, tidak masalah bagi kami. Kami akan mencobanya secara alami sampai dapat.” Arriel sudah di batas ambang kemarahannya. Mamanya sudah keterlaluan. Karena kalimat itu membuat harga diri suaminya diinjak-injak.
Arriel mencoba bersabar. Dia mengalihkan pandangan pada sang anak. Tampak sang anak sedang melihat ke arahnya. Nada suaranya yang tinggi pastinya membuat anaknya terkejut.
“Kita pulang.” Arriel tidak kuat jika berlama-lama dengan sang mama. Yang ada nanti amarahnya semakin meningkat.
__ADS_1
Adriel merasa ini adalah jalan yang baik. Dari pada Loveta melihat mamanya bertengkar dengan sang nenek.
“Lolo pamit dulu dengan nenek. Kita mau pulang.” Adriel dengan sopannya memberitahu Loveta.
Loveta yang diminta berpamitan pun segera berpamitan tanpa bertanya apa-apa.
“Lolo pulang dulu, Nek.” Loveta mengulurkan tangan dan menarik tangan neneknya. Memberikan kecupan di punggung tangannya.
“Kami pulang dulu, Ma.” Adriel masih berpamitan. Tak sedikit pun raut kesal di wajahnya.
Di saat sang suami berpamitan, Arriel
memilih tidak melakukannya. Dia mengabaikan sang mama dan memilih menarik lembut anaknya keluar dari rumah.
__ADS_1
Mereka bertiga meninggalkan rumah Mama Anggun. Pertemuan ini berakhir buruk karena ulah sang mama. Arriel benar-benar kesal sekali. Mungkin jika sang mama menghargai keputusannya tidak mau menggunakan program kehamilan, pasti tidak akan ada pertengkaran. Namun, sepertinya memang terlalu sulit untuk mamanya menerima Adriel, hingga kembali mengungkit restunya.