
“Kamu pernah menjalin hubungan dengan Neta?” Arriel memastikan. Dia cukup terkejut. Pantas saja kemarin saat dirinya bertanya pada Neta, Neta tidak mau menjelaskan. Justru memintanya untuk bertanya pada Adriel. Mungkin inilah yang membuat Neta tidak mau menjelaskan.
“Iya, tetapi akhirnya kami menyadari jika kami lebih nyaman dengan hubungan kakak dan adik dibanding dengan berpacaran.” Adriel menjelaskan pada Arriel. “Pasti kamu terkejut.” Adriel tersenyum.
“Tentu saja, ini benar-benar mengejutkan sekali. Karena tidak pernah terpikirkan sama sekali.” Arriel tidak bisa mengontrol wajahnya yang begitu terkejut itu.
“Kami tumbuh bersama. Merasa dekat. Hingga akhirnya kami memutuskan mencoba hubungan. Namun, akhirnya aku yang mengakhiri semua. Karena aku tidak nyaman, serta aku harus keluar kota. Aku tidak mau Neta terbelenggu denganku. Padahal mungkin dia bisa dapat lebih dari aku.” Adriel selalu realistis. Menggantung hubungan dengan wanita memang bukan dirinya. Dia tidak mau membuat wanita menunggunya dan membuat mereka tersiksa.
“Lalu sejak itu apa kamu menjalin hubungan dengan yang lain?” Arriel semakin penasaran dengan hubungan Adriel dengan para wanita.
“Tidak. Seperti kamu, aku fokus dengan pekerjaanku. Ada banyak mimpi yang aku ingin raih.” Adriel merasa di bagian ini dia sama dengan Arriel.
Arriel mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun penjelasan Adriel sempat membuatnya terkejut, tetapi dengan begitu akhirnya dirinya tahu kisah cinta Adriel.
Mereka berdua menikmati waktu saling bercerita. Mengenal satu dengan yang lain.
__ADS_1
“Pintu teater 1 telah dibuka ....”
Suara tanda jika film akan dimulai terdengar. Adriel dan Arriel menghentikan obrolan dan segera masuk ke teater. Menonton film yang mereka sudah pilih. Karena gelap, Adriel menggandeng tangan Arriel. Agar tidak jatuh.
Arriel melihat tangan Adriel yang sedang menggenggamnya. Itu membuat jantungnya berdegup kencang. Pipinya menghangat. Jelas jika dirinya malu-malu. Beruntung cahaya redup. Jadi pipi merahnya tidak terlihat.
Mereka duduk di kursi yang sesuai nomor kursi yang mereka pesan. Mereka duduk bersebelahan. Tangan Adriel yang masih menggenggam tangan Arriel belum dilepas juga. Padahal mereka sudah duduk. Arriel tidak berani menarik tangannya. Lagi pula dia menikmati genggaman tangan dari Adriel.
“Maaf, aku terlalu nyaman menggenggam tanganmu.” Adriel yang menyadari jika tangannya terus menggenggam tangan Arriel.
“Oh ... tidak apa-apa. Kalau tidak apa-apa aku akan melakukannya lagi.” Adriel kembali menarik tangan Arriel dengan percaya dirinya. Senyumnya begitu manis di wajahnya.
Arriel dibuat melayang ketika Adriel terus menganggam tangannya. Jantungnya benar-benar berdegup kencang. Sudah seperti anak sekolah yang pertama kali digenggam tangannya oleh pacaranya. Dia hanya bisa memandangi Adriel. Membuat mereka saling beradu pandang.
“Ayo kita nikmati filmnya.” Film yang sudah mulai membuat Adriel mengajak mengalihkan pandangannya pada layar besar di depan mereka.
__ADS_1
Arriel pun mengalihkan pandangannya pada layar besar di depannya. Hatinya sedang berbunga-bunga. Jadi tentu saja senyumnya menghiasi wajahnya. Bersama Adriel, dia menikmati film. Memerhatikan setiap adegan.
Film yang dilihatnya kali ini adalah film action, tetapi entah bagaimana ada selipan adegan intim. Secara impulsif Adriel menutup mata Adriel.
Arriel hanya terperangah saja. Dia bukan anak kecil. Lagi pula dia sudah pernah menikmati hubungan intim. Lalu untuk apa Adriel menutupi matanya.
“Kenapa ditutupi?” Arriel menoleh dan berbisik pada Adriel
“Kamu sudah pernah merasakannya. Aku takut itu membuatmu mengingat kembali.” Adriel menoleh dan menjawab pertanyaan Arriel.
“Apa kamu kecewa ketika aku sudah pernah melakukannya?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Arriel.
“Tentu saja tidak. Kamu melepaskan kesucian secara sah, jadi menurutku kamu hebat karena menjaga kesucianmu dan memberikan pada suamimu. Jika aku bukan dapat yang pertama. Paling tidak aku dapat sebuah keyakinan dan kepercayaan darimu, bahwa aku yang pantas mendapatkannya dan memilikinya selamanya.” Di gelapnya teater bioskop senyum Arriel terlihat samar.
Arriel terpesona dengan setiap kata yang diucapkan Adriel. Ini membuat Arriel yakin jika Adriel adalah pria yang patas menjadi suami terpilihnya.
__ADS_1