Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 7


__ADS_3

Mauren masuk ke kamar Arriel. Alangkah terkejutnya ketika melihat kamar Arriel begitu berantakan sekali. Baju-baju berserakan di atas tempat tidur semuanya.


“Riel, sedang ada badai di kamarmu?” Mauren yang begitu penasaran pun melayangkan pertanyaan berserta sindiran.


Arriel yang sedang memilih baju memundurkan tubuhnya. Tubuhnya yang terhalang pintu lemari, tidak dapat melihat Mauren.


“Kamu sudah datang?” tanya Arriel.


“Iya, apa yang kamu lihat ini hantu.” Mauren menatap malas pada temannya itu.


“Adriel kamu ajak masuk tidak?” Seketika Arriel teringat Adriel ketika yang ditinggalkannya di depan pintu.


“Iya, katakanya kamu membuka pintu, tetapi menutupnya kembali.” Mauren menceritakan bagaimana tadi Adriel bercerita tentang Arriel.

__ADS_1


Arriel menutup pintunya lemarinya. Kemudian menghampiri Maurena. “Aku lupa kalau dia datang. Aku pikir tadi kamu. Jadi aku asal buka. Ternyata Adriel.” Dia menceritakan bagaimana kejadian tadi. “Dan aku membuka pintu dalam keadaan bak singa.” Arriel menambahkan dengan mendeskripsikan dirinya.


Mauren hanya bisa tertawa mendengar cerita Arriel. Terkadang temannya itu benar-benar polos sekali. Hingga membuatnya ingin sekali tertawa.


“Sudah cepat keluar. Kasihan dia menunggu.” Mauren mengakhiri cerita Arriel.


“Iya.” Arriel kembali ke lemarinya. Mencari kembali baju yang pas untuknya. “Oh … ya. Ambil gambar di atas meja.” Sambil memilih baju, dia memberitahu temannya.


Tanpa menjawab Mauren mengayunkan langkahnya ke meja kerja Arriel yang berada di sudut ruangan. Mengambil gambar yang dibuat Arriel. Saat melihat gambar, dia terperangah. Memang begitu cantik gambar yang dibuat Arriel. Dia segera merapikan gambar tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


Mauren keluar dari kamar Arriel. Menghampiri Adriel. “Tunggu, Arriel sedang ganti baju.” Sambil mengayunkan langkah menghampiri Adriel, dia menjelaskan apa yang dilakukan temannya itu.


“Tidak apa-apa.” Adriel tersenyum.

__ADS_1


Saat melihat Adriel yang tersenyum, Mauren sadar jika Adriel memang tampan. Jadi wajar saja jika temannya terpesona.


Sesaat kemudian Arriel keluar. Janda cantik itu tampak sudah rapi dibanding tadi saat bangun tidur. Gaun yang pas di tubuhnya membuat Arriel begitu tampak seksi. Mauren dan Adriel yang melihat Arriel, mengalihkan pandangan. Adriel melihat jelas jika Arriel begitu cantik sekali. Hingga membuatnya terpesona. Bagi Adriel usia Arriel benar-benar tersamarkan dengan penampilan janda cantik itu.


“Baiklah, aku pulang dulu.” Mauren segera berdiri. Tidak mau mengganggu temannya. Jadi dia ingin segera pergi. “Sampai bertemu lagi, Driel.” Dia melambaikan tangan pada Adriel.


Adriel mengangguk sambil tersenyum ketika Mauren melambaikan tangannya.


“Selamat bersenang-senang.” Ketika tepat di samping Arriel, dia berbisik. Dia tahu temannya akan wawancara. Jadi tentu saja sekaligus pendekatan.


Arriel hanya melirik saja. “Tutup pintunya.” Dia memilih memberikan peringatan.


“Iya.” Mauren mengangguk sambil mengayunkan langkahnya keluar dari apartemen Arriel.

__ADS_1


Kini di apartemen tinggal Adriel dan Arriel saja. Mereka masih terdiam di tempat masing-masing. Arriel masih diam berdiri dan Adriel diam duduk manis di sofa.


Saat pandangan mereka saling beradu, mereka hanya tersenyum satu dengan yang lain. Entah kenapa mereka berdua justru merasa begitu canggung sekali. Padahal ini hanya wawancara saja.


__ADS_2